Tubuh-Subjek dalam Dunia

Ketika mengembangkan mesin yang sekarang kita kenal sebagai komputer untuk memecahkan Enigma Jerman saat Perang Dunia II, Alan Turing dihadapkan pada kendala bahwa mesinnya hanya dapat menjalankan perintah, tetapi tidak dapat mengingat perintah yang pernah diberikan. Prototipe komputer Turing didasarkan pada kemampuan manusia menggunakan informasi yang ada (data) dan kemampuan akal budinya untuk menghasilkan pengetahuan yang berguna dalam memecahkan masalah dan membuat keputusan. Tesis Turing sederhana, jika manusia dapat melakukannya, mengapa mesin tidak bisa?

Kerangka pemikiran Turing tidak sepenuhnya salah. Mesin Turing bisa memproses data yang akhirnya membantu Inggris mengalahkan Enigma Jerman. Meskipun demikian, pemrosesan data pada mesin Turing sangat bergantung pada pemberi perintah (manusia). Mesin Turing tidak bisa belajar dari pengalaman dan menghasilkan pengetahuan tanpa perintah. Padahal, kemampuan ini menjadi dasar kecerdasan mesin sebagaimana yang diyakini Turing dalam tulisannya Computing Machinery and Intelligence.

Saat ini, kita hidup dalam jagat raya data (Big Data) di mana peran kecerdasan buatan untuk memproses informasi menjadi sesuatu yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia. Mulai dari aplikasi bertukar pesan dan media sosial, transmisi informasi melalui internet,  sampai perhitungan sisa waktu hidup seseorang berdasarkan data kesehatan dari sebuah jam tangan, kecerdasan buatan mengurangi kerja kognisi dengan sangat efisien.

Dependensi kognisi pada kecerdasan buatan untuk tugas-tugas yang sederhana sampai yang paling rumit sampai saat ini terus memunculkan berbagai kecurigaan. Apakah di masa depan manusia tidak akan lagi bisa hidup tanpa kecerdasan buatan dan segala produk turunannya? Atau apakah kecerdasan buatan akan menggantikan manusia suatu saat nanti sebagaimana sekarang kita tidak bisa hidup tanpa manipulasi kapital-kapital dalam proses produksi dan distribusi berbagai komoditas?

Mari kita kembali ke ambisi Turing untuk membuat mesin yang memiliki kecerdasan otonom, mesin yang belajar (machine learning). Ideal mesin yang belajar didasarkan pada kemampuan abstraksi pikiran manusia. Dengan memanfaatkan sistem bilangan biner, data, pemrosesan data, dan hasil pemrosesan (pengetahuan) yang digunakan sebagai landasan pengambilan keputusan merupakan proses matematis yang tidak memerlukan perwujudan fisik (disembodiment).

Jika ditilik lebih jauh lagi, kerangka berpikir Turing ini berasal dari logika eksklusi Cartesian. Pemikiran abstrak dan referensi jasmani merupakan dua hal terpisah. Abstraksi adalah kemampuan tertinggi yang dapat dilakukan manusia (dan juga mesin sebagaimana ambisi Turing). Sistem komputasi, dengan demikian, diawali dengan eksklusi yang jasmani, yang fisik. Pengalaman manusia dengan segala dinamikanya direduksi sebagai hasil dari abstraksi (atau pengolahan data biner oleh mesin).

Namun, apakah pengalaman dan juga pengetahuan manusia hanya merupakan hasil abstraksi saja? Logika abstraksi, yang kemudian berkembang dalam berbagai aliran pemikiran seperti rasionalisme, idealisme, dan esensialisme memegang teguh supremasi abstraksi akal budi manusia sebagai sumber pengetahuan dan kesadaran akan pengalaman. Pada ekstrim yang lain, empirisme yang menolak supremasi akal budi menempatkan pengetahuan dalam kerangka kausalitas yang sangat ketat. Pengetahuan manusia direduksi sebagai hubungan sebab dan akibat, sebagai hasil dari pengalaman akan dunia.

Maurice Marleau-Ponty, seorang filsuf Perancis yang hidup juga di zaman Turing mengembangkan komputer, mengajukan keberatan atas dua ekstrim epistemologi yang berkembang saat itu. Bagi Marleau-Ponty, baik rasionalisme maupun empirisme memiliki presuposisi yang sama yaitu kehadiran Ego transendental. Kesadaran adalah kesadaran tentang dunia dan dunia merupakan korelasi pikiran tentang dunia. Kedua ekstrim ini mengidealkan dunia yang hanya bisa dipersepsi dalam kerangka yang sudah baku, dunia yang terkategori  (seperti sistem biner Turing). Padahal, persepsi melibatkan subjek yang memiliki tubuh (seperti komputer yang memiliki pelat-pelat logam). Tidak mungkin ada persepsi tanpa tubuh.

Keberadaan tubuh-subjek ini membuat dunia dan tubuh tidak dapat disubordinasi pada ego transendental atau yang dalam bahasa Marleau-Ponty disebut sebagai “Pemikir Universal”. Dalam Phenomenology of Perception, Marleau-Ponty menegaskan hakikat tubuh sebagai yang memungkinkan persepsi bertransposisi dan membentuk sintesis. Maka, persepsi manusia adalah pengalaman yang bertubuh dan pengetahuan yang dihasilkan dari pengalaman tersebut juga merupakan pengetahuan yang bertubuh (embodied knowledge).

Dalam edisi kali ini, Lau Ne menghadirkan tulisan-tulisan yang memusar berbagai persepsi yang muncul pada tubuh-tubuh yang terlibat dalam berbagai pengalaman: pengalaman artistik, kultural, religius, dan performatif.

Di rubrik Jangkar, Ricko Wawo dalam Kecerdasan Tubuh ala Marleau-Ponty: Tentang Bagaimana Lionel Messi Mengumpan Bola Tepat Jatuh di Kaki Neymarmenjabarkan tesis-tesis kunci fenomenologi Maurice Marleau-Ponty yang menjadi titik tolak refleksi atas pengalaman ketubuhan dan tubuh yang selalu dalam upaya berekspresi di tengah dunia. Tubuh, di manapun berada, selalu mempersepsi ruang tempatnya berada. Tubuh punya kemampuan dan kecerdasannya sendiri untuk menyesuaikan diri, serta memori untuk merekam dan menggunakan kembali rekaman tersebut ketika dibutuhkan. Ambiguitas dalam persepsi dan rasa mensyaratkan adanya kesadaran pra-reflektif yang dialami oleh tubuh, dalam dirinya sendiri di dalam dunia yang tak sepenuhnya bisa terkategori dan tersistematisasi oleh pengetahuan di luar dirinya. Sebagaimana dijelaskan pada bagian sebelumnya, tesis-tesis kunci Marleau-Ponty menentang paham rasionalisme/intelektualisme dan empirisme yang menjadi arus utama dalam jagat pemikiran modern.

Dalam perjalanannya di tengah dunia, tubuh juga membopong tradisi yang menjadi bagian eksistensinya dari satu tempat ke tempat lain. Di rubrik Layar,  Rio Nuwa dalam Melintas Waktu, Catatan Perihal Temu Seni Teater Monolog 2023 membagikan pengalaman eksplorasinya ke Liang Bua. Eksplorasi itu kemudian didialogkan dengan eksplorasi Pura Pencak Petali oleh Wulan Dewi Saraswati dalam Temu Seni Teater Monolog 2023. Kedua tubuh dari dua dunia yang berbeda ini kemudian saling bertukar metode, gagasan, dan praktik berkesenian masing-masing.

Pertemuan dan pertukaran tersebut kembali menegaskan transposisi tubuh yang datang dari berbagai tradisi. Tubuh yang bertradisi itu tidak bisa direduksi sebagai pengalam semata, tetapi sebagai subjek (pelaku) yang aktif menyelidiki ambiguitas tradisi-tradisi yang dibawa. Eksplorasi Liang Bua Rio adalah investigasi atas narasi-narasi masa lalu dan bagaimana narasi-narasi itu mempengaruhi tidak saja orang-orang yang menghidupi narasi-narasi itu, tetapi juga orang-orang seperti Rio yang berusaha hidup dengan narasi-narasi itu saat ini.

Dalam konteks kultural (dan personal?) yang lebih luas, di rubrik Nahkoda Silfana dalam Tubuh Perempuan dan Persoalan Kesepianmembagikan pengalaman migrasinya ke UK dan  bagaimana dia melihat tempat asalnya, Aceh, dari jauh. Silfana yang saat ini sedang melakukan riset doktoralnya mengenai loneliness and social connectedness mencoba mencari tahu pengalaman perempuan Indonesia yang migrasi ke UK. Silfana menemukan kesepian sebagai pengalaman umum para perempuan Indonesia yang migrasi ke UK. Namun, kesepian ini tidak saja dirasakan para imigran, melainkan juga masyarakat UK pada umumnya.

Pengalaman kesepian tidak bisa dilihat sebagai pengalaman personal saja. Kesepian juga adalah produk kebijakan politik, sosial, dan ekonomi. Keterhubungan yang mahal harganya, diskriminasi orang Asia dan perempuan muslim yang berjilbab, serta eksploitasi pekerja yang tidak terdokumentasi (undocumented worker) dialami tubuh subjek yang hidup dalam tatanan dunia yang mengikuti konstitusi dan regulasi sebuah institusi pemerintahan. Di dalam dunia itu, kesepian bukan saja produk kebijakan, tetapi sintesis atas persepsi tubuh yang hidup dalam dunia yang menjadikan keterhubungan menjadi mahal, orang Asia dan perempuan berhijab didiskriminasi, dan pekerja ilegal dieksploitasi.

Melalui dua pengalaman menonton pertunjukkan Papermoon Puppet Theatre, di rubrik Jala Eka Putra Nggalu dalam Puno, Kali, dan Cerita yang Membuat Saya Mengingat Pantai Tempat Bermain di Masa Kecil merefleksikan Stream of Memory. Dalam refleksi Eka, materialitas dalam panggung teater juga merupakan perpanjangan dari tubuh manusia yang kompleks. Aktor dituntut untuk memainkan karakter boneka sebagai perpanjangan dirinya (self extend), tapi di sisi lain, sang aktor juga bisa hadir memainkan peran tertentu sebagai aktor di luar karakter boneka. Pengalaman Eka menonton pertunjukan menggarisbawahi sentralitas komunikasi interpersonal antara pertunjukan dalam ruang dengan penonton. Intensionalitas dan intimasi yang membangun komunikasi interpersonal hanya bisa secara efektif dihadirkan oleh seluruh perangkat artistik dalam pertunjukan jika menimbang konteks dan ruang kepenontonan yang selalu dinamis serta beragam.

Carlin Karmadina dalam rubrik Cerita-cerita Keberagaman dari Maumere membagikan perjalanan 25 Tahun Perwakas dan Gerakan Gender Akar Rumput di Maumere. Sejarah Perwakas adalah kisah tubuh-subjek waria yang mengalami dan membangun dunianya. Dalam tulisannya, Carlin dengan apik menghadirkan eksponen-eksponen penting Perwakas yang bertualang, belajar dari tanah rantau dan pelan-pelan membangun komunitas serta gerakan. Gerakan-gerakan yang diinisiasi oleh para waria adalah refleksi atas pengalaman tubuh mereka dalam dunia yang penuh diskriminasi dan stigma. Dari sana, dengan seluruh tubuh dan aktivitas mereka, mereka mencoba membangun sebuah dunia ideal, yang mereka yakini lebih adil dan inklusif bagi sesama minoritas gender dan seksual. Usaha terus-menerus untuk membangun citra diri dan identitas waria di masyarakat lewat berbagai kegiatan sosial kemanusiaan berbuah penerimaan atas kelompok waria, dan merangsang munculnya komunitas serta gerakan serupa di berbagai wilayah di Nusa Tenggara Timur. Dokumenter historiografis ini penting karena bisa menjadi basis pengetahuan yang kontekstual bagi studi gender dalam konteks Flores.

Tubuh memungkinkan kehadiran kita di dunia dan melalui tubuh, kita mengalami dunia. Kita membicarakan pengalaman dan pengetahuan kita di dunia, tetapi kita semua merupakan bagian dari dunia itu.

Dalam dunia, tubuh selalu berusaha menemukan ekspresinya dan kemudian merefleksikan ekspresi itu. Ekspresi menyangkut makna yang direkam oleh setiap tubuh yang mengalaminya. Ini terjadi bukan karena ada kausalitas atau korelasi persepsi dan bukan juga penilaian kesadaran subjek atas suatu objek oleh Ego transendental. Yang menangkap makna dalam pengalaman adalah tubuh sendiri yang selalu terarah pada dunia. Tubuh sudah mengenali sensasi dan persepsi yang diterima dari dunia, mengalaminya, menyadarinya meski ia tak selalu ‘punya nama dan ukuran’.

Sampai akhir hidupnya, Alan Turing tidak bisa mewujudkan mimpinya menciptakan mesin berkecerdasan manusia. Sampai sekarang di era kecerdasan buatan, tidak ada algoritma yang mampu membuat sebuah komputer berpikir tanpa proposisi (kode). Ini bukan karena kita tidak dapat menciptakan algoritma untuk kecerdasan human atau bahkan suprahuman bagi komputer, tetapi karena pelat logam dan kode-kode algoritma tidak memiliki kecerdasan yang memungkinkan pengalaman tanpa proposisi (kode-kode komputasi). Hanya tubuh manusia dengan segala pirantinya yang kompleks yang bisa terus hidup dalam ambiguitas, komputer tentu tidak bisa beroperasi dalam ambiguitas pengkodean.

Selamat membaca dan berefleksi dalam ambiguitas!

Bagikan Postingan

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Kalender Postingan

Jumat, Februari 23rd