Kecerdasan Tubuh ala Marleau-Ponty: Tentang Bagaimana Lionel Messi Mengumpan Bola Tepat Jatuh di Kaki Neymar

Enam tahun lalu, pada suatu siang yang membosankan, saya berada di ruang kuliah dan mendengar ceramah Leo Kleden. Dia membuka kuliahnya dengan satu ilustrasi yang menarik dan membangkitkan gairah intelektual saya. Kira-kira begini dia memulainya.

“Kalian bayangkan, Lionel Messi menggiring bola dari tengah lapangan dibuntuti dua orang pemain lawan. Di sisi kanan, rekannya Neymar sudah berlari cepat ke arah kotak pinalti lawan, menunggu umpan manis dari Messi. Dengan sekali tendangan, Messi berhasil mengirim umpan sejauh 15 meter tepat jatuh di kaki kanan Neymar tanpa meleset sedikitpun. Dengan tenang bocah Brazil itu langsung menjebloskan bola ke gawang lawan.”

Leo melanjutkan, “kalian bayangkan, Messi mampu menendang bola ke arah Neymar pada jarak 15 atau 20 meter. Bola itu tepat jatuh di kaki Neymar. Bagaimana itu bisa terjadi? Apakah sebelum menendang bola, Messi sudah memperhitungkan secara matematis jarak dia dan Neymar? Memperhitungkan sudut elevasi tendangannya, kecepatan angin, gesekan udara atau perhitungan titik tertinggi bola?”

Mendengar pertanyaan retoris tersebut, seisi ruang kelas memberikan gestur tubuh, “tidak mungkin!”

Leo Kleden lalu memperkenalkan seorang fenomenolog bernama Maurice Marleau-Ponty, orang Prancis, yang menjelaskan bahwa tubuh memiliki ‘kesadaran’ dan ‘kecerdasan’ sendiri. “Lionel Messi mampu mengoper bola dengan tepat ke rekannya yang berdiri cukup jauh karena tubuhnya memiliki kesadaran dan kecerdasannya sendiri. Otaknya tidak melakukan perhitungan matematis terlebih dahulu.”

Dari ceramah singkat di dalam ruang kuliah inilah, saya memulai satu penelusuran yang cukup serius tentang tiga tesis Maurice Marleau Ponty: tubuh, persepsi, dan kesadaran serta bagaimana itu bisa menjelaskan kasus tendangan Messi.

Saya pikir masih relevan sampai sekarang bahwa yang kita bayangkan dari kecerdasan (juga kesadaran) seorang manusia adalah kecerdasan akal budi saja. Titik. Tidak ada kecerdasan lain selain kecerdasan akal budi, pikiran atau semua yang ada di dalam kepala kita. Benarkah makna kecerdasan hanya ‘sesempit’ itu? 

Dampak ‘Cogito Ergo Sum’ 

Bagi Descartes, seluruh aktivitas mental manusia dipusatkan pada cogito, dalam rumusan Cartesian “Je pense, donc je suis” (Perancis) atau “Cogito, ergo sum” (Aku sadar karena itu aku ada). Cogoito Descartes ini menegaskan keberadaan manusia yang hanya mungkin dipahami dan diselidiki oleh akal budi (res cogitans) melalui aktivitas berpikir (meragukan dalam bahasa Cartesian). Kemampuan akal budi adalah sumber utama untuk memahami pengalaman-pengalaman seperti emosi, afeksi, dan psikis yang dianggap sebagai perluasan akal budi (res extensa). Semua pengalaman manusia selalu merupakan pengalaman akal budi.

Pandangan Descartes ini memengaruhi perjalanan filsafat barat modern sesudahnya selama berabad-abad. Akal budi manusia sebagai titik tolak penyelidikan manusia modern membawa filsafat pada berbagai aliran berpikir yang sulit melepaskan diri dari paradigma Cartesian. Di dalam paradigma Cartesian, kompleksitas  tubuh manusia dianggap inferior dibandingkan dengan akal budi. Keragaman pengalaman manusia direduksi sebagai konsepsi akal budi saja. Akibatnya, tubuh manusia kehilangan esensinya karena secara berat sebelah digantikan oleh akal budi manusia. Dengan kata lain, tubuh manusia tak memiliki kesadaran apa-apa tanpa ada peran subjektif akal budi manusia. Kesadaran manusia adalah kesadaran akal budi dan bukan kesadaran tubuh.

Maurice Marleau-Ponty menjelaskan bahwa tubuh manusia adalah ‘tubuh-subjek’, yang berarti tubuh manusia memiliki ‘kesadaran’-nya dan ‘kecerdasan’-nya sendiri. Tubuh subjek ini memungkinkan manusia mengalami dan memahami secara otonom, terlepas dari akal budi. Untuk mengalami dan memahami, tubuh subjek ini senantiasa mengarah pada dunia yang dihayati. 

Marleau-Ponty ingin mengembalikan posisi tubuh pada tempat yang selayaknya. Subjek yang berpikir (res cogitans) tidak lagi dipahami melampaui tubuh (res extensa). Tubuh menentukan dirinya sendiri berdasarkan relasinya dengan dunia. Marleau-Ponty ingin menekankan bahwa keberadaan dunia beserta objek-objek yang ada di hadapan manusia bukan merupakan hasil rekonstruksi pikiran atau ide-ide belaka (ingat kembali ilustrasi Lionel Messi di atas). Dunia beserta objek-objeknya dialami sebagai sesuatu yang sangat terkait dengan kesatuan tubuh.

Marleau-Ponty menyelidiki cara tubuh melakukan persepsi dan mengemukakan ide tentang “pengalaman pra-reflektif” sebelum manusia mengenal pengetahuan. Berbeda dengan yang diyakini aliran filsafat lain, persepsi dalam pandangan Marleau-Ponty erat kaitannya dengan tubuh manusia dan dunia yang dihayatinya (lebenswelt). Selain itu, dia juga menyelidiki intensionalitas motorik pada manusia yang pada akhirnya menunjukkan bagaimana tubuh subjek yang berkesadaran terarah kepada dunia.

Cogito Descartes memisahkan akal budi dan tubuh. Akal budi berada di posisi yang superior. Di sinilah titik pijakan bagi gagasan Marleau-Ponty. Manusia adalah subjek bertubuh di dalam dunia. Sebagaimana yang diungkapkan Marleau-Ponty sendiri,

“Kita berada di dalam dunia melalui tubuh kita” dan “Kita yang memahami dunia dengan tubuh kita.” 

Karena itu, pengamalan dan pemahaman atas pengalaman manusia tidak mungkin produk akal budi yang terlepas dari tubuh manusia sebagai subjek yang mengalami atau mempersepsi. Konsekuensinya, pengetahuan manusia selalu merupakan pengetahuan yang menubuh (embodiment knowledge).

Pengalaman Pra-reflektif

Kekhasan pemikiran fenomenologis Marleau-Ponty adalah penglihatan terhadap fungsi filsafat sebagai sebuah upaya untuk membangkitkan kembali pemahaman akan tindakan asali yang membuat manusia menjadi sadar akan dunia. Filsafat perlu kembali kepada pengalaman pra-reflektif, yakni pengalaman yang belum terartikulasi dalam bentuk preposisional (misalnya, subjek-predikat). Pengalaman ini tak sering dipersoalkan karena filsafat terlalu banyak memusatkan perhatian pada proses-proses pemikiran rasional yang rumit dan tersusun secara sistematis dengan menggunakan bahasa dan konsep  (pemikiran objektif). Padahal, pengalaman pra-reflektif bersifat lebih primordial daripada pemikiran objektif yang biasa kita gunakan.

‘Fenomenologi asal mula’ (phenomenology of origins) dalam pemikiran Marleau-Ponty melihat pengalaman dengan cara mengembangkan sebuah metode dan bahasa yang memadai untuk mengartikulasikan pengalaman pra-reflektif kita, khususnya dunia persepsi.

Kita ibaratkan usaha ini seperti pergi jalan-jalan ke desa-desa untuk melihat hutan-hutan, padang rumput, dan sungai-sungai, sebagaimana yang telah dipelajari dalam mata kuliah geografi. Bagi Marleau-Ponty, slogan fenomenologi, ‘kembali kepada benda-benda itu sendiri’ berarti ‘kembali ke dalam sebuah dunia sebelum ada pengetahuan’.

Marleau-Ponty menegaskan bahwa tubuh bukanlah subjek, atau objek secara penuh, tetapi cara ambigu eksistensi yang memengaruhi semua bentuk pengetahuan.

Pendekatan Marleau-Ponty tentang tubuh primordial menolak kecenderungan kontemporer ilmu pengetahuan dan filsafat yang berpikir bahwa pengetahuan bersifat otonom dan berasal dari laboratorium. Menurut Marleau-Ponty, pengetahuan hanya mungkin jika kita menghayatinya dalam konteks kaitan kita dan dunia melalui tubuh. Ia tidak memberikan jalan kepada kepastian pengetahuan, melainkan hanya pada bentuk penghayatan kehidupan karena cara berada kita sebagai kesadaran yang menubuh.

Pertama-tama, perlu dijelaskan apa yang dimaksudkan dengan tubuh dan kesadaran yang secara umum dipahami dan dihayati. Dalam pengamatan empiris, tubuh (yang hidup) tersingkap sebagai objek khusus, sebagai dasar, dan sebagai bidang ungkapan (ekspresi) pengalaman rohani.

Teori-teori metafisik tentang tubuh (dan jiwa) cenderung menekankan secara berat sebelah kesatuan eksistensi manusia (monisme), ataupun dualitas (keduaan) dan oposisi antara tubuh dan jiwa. Dari sini, bisa dilihat secara jelas bagaimana pembicaraan tentang tubuh tidak bisa dilepaspisahkan dengan jiwa. Tubuh adalah sesuatu yang hidup dan hadir di tengah dunia sebagai penunjuk identitas dan eksistensi diri. Selain itu tubuh selalu identik dengan realitas fisik yang dibatasi oleh ruang dan waktu.

Kesadaran adalah kegiatan untuk memperhatikan apa yang dialami. Kesadaran atau keinsyafan dapat mengacu kepada, pertama, perhatian yang diberikan terhadap isi percerapan atau objek yang dialami, atau kedua, perhatian yang diberikan terhadap kegiatan memperhatikan itu sendiri. Yang pertama sinonim dengan kesadaran yang dalam bahasa Inggris disebut consciousness dan yang berikutnya sinonim dengan salah satu arti kesadaran diri, self-awareness. Dalam pembahasan ini kesadaran (consciousness) dalam arti pertama yang lebih tepat disepadankan dan dipahami.

Tubuh dan Dunia

Tubuh dan dunia dalam khazanah berpikir fenomenologi Marleau-Ponty adalah dua hal yang saling memengaruhi secara berkesinambungan. Tubuh mengadakan dunia, dan demikian sebaliknya, dunia mengadakan tubuh. Keduanya saling mengadakan dan memberi eksistensi; artinya eksistensi yang satu menjadi alasan adanya eksistensi yang lain. Paradigma berpikir seperti inilah yang harus ditanamkan sebelum mulai mengerti apa yang ia maksudkan dengan tubuh dan dunia.

Mengutip apa yang dijelaskan oleh  Sebastianus (2016) dalam artikelnya, Mengenal Fenomenologi Persepsi Marleau-Ponty Tentang Pengalaman Rasa, Marleau-Ponty menjelaskan kalau tubuh adalah titik tolak cara mengada manusia di dalam dunia. Ketererahan seluruh hidup dan diri, termasuk tubuh fisik menunjukkan adanya ‘rasa’ (sense) terhadap dunia. Pengalaman rasa di sini adalah titik tolak untuk memahami bagaimana mempersepsikan hubungan antara tubuh dan dunia secara fenomenologis.

Tubuh bukan sekadar objek di dalam dunia atau dalam bahasa Marleau-Ponty tubuh adalah “jangkar kita di dalam dunia.” Tubuh merupakan sarana bagi berlangsungnya pengalaman perseptual. Tubuh juga menghadirkan dunia bagi manusia dan sebaliknya menghadirkan manusia bagi dunia. Manusia berpartisipasi di dalam dunia justru melalui pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan tangannya. Melalui tubuh, manusia mengarahkan diri pada dunia dan memanifestasikan diri sendiri terhadap orang lain. Melalui tubuh, manusia mengabdikan miliknya untuk membangun dunia.

Marshall (2008) menjelaskan hakikat tubuh tersebut seperti sebuah ‘pangkal dinamis pengalaman perseptual.’ Artinya, tubuh adalah dasar atau asal bagi berlangsungnya eksistensi manusia dalam dunia. Dasar atau asal tersebut bukan merupakan kausalitas, melainkan merupakan eksistensi bertubuh yang senantiasa berjalin dengan dunia.

Manusia dibentuk sekaligus membentuk dunia, mempengaruhi dan seringkali dipengaruhi oleh dunia, mengadakan dan diadakan oleh dunia, dan memaknai bahkan dimaknai oleh dunia.

Dunia memiliki interaksi mendasar dengan tubuh manusia. Marleau-Ponty menggambarkan keterhubungan tubuh seperti jantung (heart) dari organisme. Tubuh berada di dalam dunia. Seperti jantung yang menjadi pusat hidup dan bagian terpenting organisme, tubuh pulalah yang menjadikan dunia itu hidup, bergerak dan membentuk sebuah sistem. Ia ingin menekankan bahwa keberadaan tubuh dan objek-objek di sekitarnya itu bukan hasil rekonstruksi pikiran atau semacam ide-ide belaka. 

Marleau-Ponty berpendapat bahwa persepsi atas objek yang berada di luar atau terpisah dari tubuh kita pada dasarnya dikenal oleh persepsi atas tubuh kita sendiri. Setiap persepsi dari objek-objek eksternal bersinergi dengan persepsi tubuh.

“Setiap persepsi eksternal langsung bersinonim dengan persepsi tertentu atas tubuhku, sebagaimana juga setiap persepsi atas tubuhku dibuat eksplisit dalam bahasa persepsi eksternal”. Dengan begitu manusia tidak lagi berpikir dengan pola berpikir subjek-objek karena, “telah menemukan di balik pengetahuan yang objektif dan lepas atas tubuh, bahwa terdapat pengetahuan lain yang senantiasa ada pada kita dan fakta bahwa kita adalah tubuh kita”.

Kita perlu memahami kontak antara tubuh dan dunia. Locus dari kontak tersebut adalah pengalaman manusia dalam dunia melalui dan bersama tubuhnya. Fenomenologi Marleau-Ponty menjelaskan bahwa pengalaman alamiah manusia di dalam dunia berwujud persepsi. Bagaimana menghidupi pengalaman mendasar itu melalui dan bersama tubuh khususnya saat ‘merasakan’ dunia? Pertanyaan inilah yang menjadi titik tolak Marleau-Ponty dalam mengunggah pemaknaan atas pengalaman rasa.

Tubuh dan Pengalaman Rasa

Sebastianus (2016) menggunakan contoh tentang perlombaan memasak yang sering dikompetisikan di dalam acara televisi untuk mengilustrasikan refleksi Marleau-Ponty tentang pengalaman rasa.

Dalam sebuah kompetisi memasak, para juru masak bukan hanya menggunakan kemampuan mereka dalam mengolah makanan dalam kadar atau ukuran tertentu. Seringkali, mereka melakukan improvisasi terhadap resep yang ada. Hal yang dibutuhkan juga dalam sebuah kompetisi memasak adalah feeling atau ketepatan rasa dan waktu yang tidak bisa diungkapkan secara akurat. Juru masak kerap mengandalkan kepekaan lidah, penciuman aroma masakan dan perkiraan takaran bumbu. Aspek pengalaman akan turut menentukan, misalnya, lamanya pengalaman memasak seorang juru masak.

Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa rasa merupakan salah satu wujud persepsi. Hasil masakan dari olahan bahan dan penampilan tertentu menghasilkan persepsi tertentu pula. Dengan kata lain, terdapat kualitas rasa tertentu. Penilaian terhadap ‘rasa’ menunjukkan adanya makna kualitas rasa itu. Tampaknya penilaian tentang rasa bersifat relatif dan subjektif tetapi Marleau-Ponty justru mengemukakan bahwa hakikat sebuah objek sesungguhnya mengandalkan keterlibatan tubuh dengannya.

Ilustrasi lainnya bisa juga diuraikan dalam menjelaskan refleksi Marleau-Ponty ini. Misalnya, dalam sebuah pertandingan sepak bola seorang pemain mengumpan bola dari tengah lapangan ke arah rekannya yang sudah berdiri di area musuh. Bola tersebut jatuh tepat di hadapan rekannya itu dan tak meleset sedikitpun. Kemampuan seorang pemain sepak bola untuk melakukan sebuah umpan yang tepat dan akurat seperti ini tidak mungkin terjadi sebagai hasil dari kerja pikiran (otak) yang secara sangat cepat dan matematis mengkalkulasikan kecepatan bola, tenaga sang pemain, tekanan udara, jarak dan perhitungan lainnya untuk bisa mengumpan bola secara tepat dan akurat.

Bagi Marleau-Ponty, tubuh itu sendiri punya ‘kecerdasan’ untuk bisa melakukan umpan bola yang tepat dan akurat. Seperti contoh memasak tadi, keterlibatan tubuh sangat penting. Seorang pemain sepak bola dalam ilustrasi ini tentu melalui dan bersama tubuhnya sudah melakukan latihan mengumpan berkali-kali dan pengalaman tubuh dalam latihan itu menunjukkan bahwa tubuh manusia punya kesadarannya sendiri dan tidak semata tergantung pada ketangkasan pikiran sebagaimana yang diusung dalam filsafat Descartes.

Pengalaman rasa dan mengumpan bola itu bukan sekedar penentuan elemen pengalaman yang ini dan yang itu berdasarkan akal budi, seperti yang diajarkan kaum intelektualis. Juga bukan soal penerapan kategori kausalitas seperti kata empirisme.

Marleau-Ponty mengeritik dua pandangan yang sering menyalahartikan persepsi sebagai sensasi yakni empirisme dan intelektualisme. Empirisme memahami rasa sebagai sejumlah unit sensasi yang berdiri sendiri di luar subjek, yang kualitasnya terpisah-pisah dan tidak memiliki kesatuan rasa. Intelektualisme memahami rasa sebagai makna yang pasti dan dapat ditentukan oleh kesadaran subjek.

Menurut Hass (2008), setelah Descartes, kemana saja orang mencari—dalam sains, psikologi dan filsafat—orang menemukan sensasi. Saat kata ‘sensasi’ tampak samar-samar dalam filsafat Aristoteles dan Skolastik. Setelah Descartes, kata ‘sensasi’ menjadi sebuah konsep ulung. Hal ini disebabkan karena sensasi adalah elemen kunci yang bisa menjelaskan sintesis Descartes antara yang Subjektif, bidang yang ideal bagi Pengetahuan non-material (teologi) dan yang Objektif, alam yang mekanistis (filsafat alam). Res cogitans dan res extensa; dua dunia yang menghubungkan sensasi.

Inilah logika Cartesian yang senantiasa mempengaruhi banyak psikolog, filsuf dan ilmuwan. Pengaruhnya sungguh jelas tampak dalam penggunaan bahasa yang membedakan ‘subjektif’ dan ‘objektif’ dalam setiap usaha pencarian pengetahuan. Selama empat ratus tahun ‘Sensasi Descartes’ tampak sebagai common sense. Pada titik inilah, Marleau-Ponty melancarkan kritik terhadap empirisme dan intelektualisme yang konsep-konsep mereka cenderung mengikuti alur berpikir Cartesian.

Sebastianus (2016) kembali mengungkapkan bahwa kritik Marleau-Ponty terhadap empirisme ialah paham ini tidak mengacuhkan subjek persepsi karena yang dilihat adalah adanya subjek tertentu, dengan tindakan tertentu dan bagaimana menggambarkan aktivitas tersebut. Empirisme mendeskripsikan sejumlah sensasi yang berasal dari seorang subjek; subjek yang menyadari itu merupakan tempat dimana berbagai sensasi itu terjadi dan saling berkaitan.

Ponty mengajukan keberatan mengenai hal ini. Menurutnya, dari luar (outside) sensasi memang tampak seperti yang dideskripsikan itu. Akan tetapi, dari dalam (inside), persepsi tidak berkenaan dengan rangsangan secara fisis dan organ atau indera perasa secara biologis, melainkan merupakan pengalaman yang dihidupi. Ia memandang persepsi bukan sebagai kausalitas, melainkan sebagai ‘sebuah penciptaan kembali dan pembentukan kembali dunia setiap saat’. Persepsi bukanlah soal rasa dan tanggapan atas rangsangan biologis tertentu, seolah-olah persepsi dan rangsangan biologis pada tubuh seperti suatu perbandingan satu-satu. 

Pada intelektualisme, yang kini berperan mendeskripsikan persepsi adalah Ego Transendental. Melalui Ego Transendental tersebut tesis-tesis empirisme dibalik; dari suatu kesadaran menjadi kesadaran akan sesuatu; dunia menjadi korelasi pikiran tentang dunia. Sama halnya dengan empirisme, intelektualisme juga menampilkan sebuah dunia yang sudah jadi, yakni dunia yang dapat digambarkan. Maka dari itu, dunia, tubuh, dan diri empiris dipandang sebagai sebuah sistem yang disubordinasikan pada ‘pemikir universal’.

Marleau-Ponty berpendapat bahwa subjek pemikir tersebut tidak dilibatkan secara aktual karena yang menata sistem pengalaman tersebut adalah pikiran. Oleh karena itu, intelektualisme pun memahami pengalaman sebagai hubungan kausal yang terjadi secara abstrak dan luas, atau yang Marleau-Ponty sebut dengan ‘hubungan kausal yang terpencar dalam konteks peristiwa kosmis’.

Kritik Marleau-Ponty kemudian menjurus pada pertanyaan reflektif seputar bagaimana manusia mempersepsi dunia. Ia bertanya, “bagaimana kita bisa dibingungkan dengan tubuh kita?” atau, “bagaimana dunia tidak menampilkan dirinya sebagai yang sempurna eksplisit?” atau, “mengapa dunia itu tampil secara gradual semata dan tidak pernah dalam kesempurnaannya?”

Ilustrasi pengalaman memasak di atas mungkin bisa membantu menjelaskan pertanyaan-pertanyaan ini. Bayangkan seorang juru masak ditanya oleh seorang juri yang terkesan oleh masakannya, “bagaimana kamu bisa menghasilkan rasa yang begitu lezat dan pas seperti ini?” Juru masak akan menjawab, “saya tidak tahu pasti. Saya hanya memperkirakan takaran bumbu dan mencicipi dengan lidah saya.”

Ketidakpastian, perkiraan, dan ambiguitas rasa tidak masuk akal dalam intelektualisme dan empirisme. Dengan kata lain, empirisme dan intelektualisme tidak mampu memahami subjek persepsi karena tubuh serta diri empiris menjadi objek dan refleksi ditentukan oleh Ego transedental.

Tubuh dan Kesadarannya Sendiri

Kita coba menyusun beberapa pertanyaan mengenai kesadaran: “Bagaimanakah cara tubuh dan jiwa menentukan kesadaran manusia? Apakah kesadaran itu berasal dari jiwa saja, ataukah sebaliknya? Atau, apakah entah jiwa, entah tubuh, masing-masing memiliki kesadarannya?” dan berdasarkan penjelasan konkret di atas Marleau-Ponty secara jelas menyatakan tubuh memiliki kesadarannya sendiri. Tubuh memiliki ‘kecerdasan’ untuk memberi umpan balik terhadap dunia.

Kesadaran tubuh adalah kesadaran manusia secara fenomenologis. Dari ilustrasi dan penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa cukup sulit untuk membayangkan bagaimana pikiran dengan perhitungannya sendiri dapat secara cepat dan akurat memberi umpan balik terhadap reaksi yang diberikan dari luar (dunia) seperti yang dicontohkan dalam ilustrasi seseorang yang menendang bola.

Dalam ilustrasi memasak, ambiguitas rasa, kedwiartian dan perkiraan adalah pernyataan-pernyataan yang hanya bisa dijelaskan secara fenomenologis sehingga hal seperti itu harus sudah mengandaikan tubuh yang berkesadaran. Pada pengalaman ini, ketepatan dan keakuratan matematis-teknis tidak mampu dijelaskan saat juru masak ditanya: “bagaimana bisa anda dapat membuat masakan yang lezat seperti ini?”

Orang bisa saja menjawab: “untuk menghasilkan masakan yang lezat seperti ini dibutuhkan gula satu sendok, garam dua sendok, sedikit bawang putih dan bawang merah”, tetapi jawaban seperti ini adalah jawaban yang sangat identik dengan paradigma berpikir intelektualisme dan empirisme yang banyak kali dikritik Marleau-Ponty.

Jawaban seperti ini, menurut Marleau-Ponty, tidak menggambarkan kenyataan yang sebenarnya. Setiap orang yang mencicipi masakan tertentu mempunyai persepsinya masing-masing terhadap masakan itu (dunia). Ia memberi maknanya sendiri terhadap rasa masakan itu sehingga pengalaman rasa itu ambigu.

Menarik untuk membahas apa yang Marleau-Ponty maksudkan dengan pengalaman rasa yang ambigu (ambiguitas). Marleau-Ponty menyelidiki pengalaman sehari-hari yang mengungkapkan keterlibatan pada dunia dan menemukan kenyataan: kita mengalami hal-hal yang kaya, multidimensi, multitafsir dan selalu berada dalam konteks. Dengan demikian, pengalaman ‘pra-objektif’ atau pengalaman rasa seperti pada ilustrasi di atas adalah pengalaman ambigu, tidak bersifat atomistik dan tertentu. Selain itu,  apa yang diselidiki Ponty dengan contoh-contoh persepsi bisa diilustrasikan dengan pengalaman geometris. Contohnya, kubus Necker.

Bagian depan kubus seperti menghadap ke bawah dan ke kanan atau ke atas dan ke kiri. Kubus itu menjadi objek yang ambigu karena persepsi kita sendiri. Kesadaran perseptual tidak memberi pengetahuan yang tertata, seperti bentuk atau ukuran tertentu. Hanya pada pengalaman reflektif atau pada tingkat lanjutnya ilmu pengetahuan menyelidiki kembali kerangka dari konstitusi dunia.

Artinya, ilmu pengetahuan atau pengalaman reflektif mengandaikan terlebih dahulu pengalaman pra-reflektif yang merupakan relasi-relasi subjek pada dunia melalui tubuh.

Kembali ke ilustrasi memasak di atas. Takaran-takaran bumbu untuk menghasilkan masakan yang lezat seperti: dua buah tomat, sedikit bawang putih dan bawang merah, satu senduk garam dan gula dan lain sebagainya merupakan hasil ‘penyelidikan’ reflektif. Pada tahap inilah yang intelektualisme maksud sebagai persepsi yang didasarkan pada kesadaran subjek. Meskipun demikian, dengan dalih apa pun, penyelidikan reflektif itu tetap mengandaikan ambiguitas pengalaman ‘pra-objektif’. 

Ia mengubah paradigma berpikir mengenai sensasi yang pahamnya selama ini didominasi intelektualisme dan empirisme. Sensasi juga adalah bagian penting dari persepsi manusia terhadap dunia. Sensasi bukan hasil dari prinsip sebab-akibat yang mekanis seperti yang diyakini empirisme; juga bukan kesadaran subjek yang memberi makna kepada objek-objek material seperti kata intelektualisme. Sensasi adalah pengalaman keterlibatan tubuh subjek terhadap dunia. Salah satu contohnya adalah pengalaman rasa. Apa yang dijelaskan dengan contoh pengalaman rasa ini sulit dibantah; bila kita mencicipi sebuah masakan, pengalaman ‘rasa’ yang dihasilkan adalah ambigu. Artinya, keterlibatan tubuh-subjek terhadap pengalaman memasak dan pengalaman menikmati masakan tertentu menentukan apa yang menjadi ‘rasa’ dari sebuah masakan. Pengalaman rasa tidak berdasar prinsip sebab akibat atau kerja kesadaran pikiran yang mencermati masakan dari berbagai kategori-kategori mental. 

Dari sini juga bisa dijelaskan apa yang dimaksud Marleau-Ponty dengan kesadaran pra-reflektif. Jika Leo Messi ditanya, “bagaimana sampai anda bisa mengumpan bola dengan tepat dan akurat kepada Neymar yang ada di sudut lapangan?”, dia tentu tidak bisa memberi kepastian yang eviden, dalam arti ia tidak bisa memastikan bagaimana hal seperti itu bisa terjadi.

Ambiguitas dan perkiraan adalah ciri khas dari kesadaran yang mempersepsi dunia. Konsep ‘ambiguitas’ ini sulit dimengerti dalam pola pikir intelektualisme dan empirisme. Kedua paham ini menekanan kepastian dalam kesadaran manusia atau dalam seluruh aktivitas mental manusia. 

Yang bisa dijawab adalah seorang pesepak bola berhasil melakukan sebuah umpan yang akurat seperti itu karena ia sudah melakukan hal itu berkali-kali sejak kecil, ia sering melakukan latihan rutin setiap hari. Inilah yang Marleau-Ponty maksudkan dengan keterlibatan tubuh terhadap dunia. Jarak, tekanan udara, kekuatan kaki dan situasi mental dalam pertandingan sepak bola atau dengan kata lain ‘dunianya’ tidak diperhitungkan secara matematis tetapi merupakan hasil kecerdasan tubuh mempersepsikan dunia. Kesadarannya adalah kesadaran pra-reflektif. Kesadaran tubuh adalah kesadaran pra-reflektif. Tubuh sudah membuat ‘perhitungan’ terhadap dunia terlebih dahulu sebelum kesadaran res cogitans melakukan refleksi terhadapnya (dalam konteks Cartesian).

Tubuh secara pra-refleksi sudah ada di dalam dunia. Ia sudah terlibat di dalam dunia. Tubuh itu adalah tubuh-subjek. Tubuh-subjek adalah manusia.

 

Referensi

Adian, Donny Gahral. Pengantar Fenomenologi. Depok: Penerbit Koekoesan, 2010.

Bagus, Lorens. Kamus Filsafat. Cet. Ke- 4. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005.

Hall, Calvin S dan Gardner Lindzey. Psikologi Kepribadian 2 Teori-Teori Holistik (Organismik-Fenomenologis).Ed. A. Supratiknya. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1993.

Hass, Lawrence. Marleau-Ponty’s Philosophy. Bloomington and Indianapolis: Indiana University Press, 2008.

Maccan, Christopher. Four Phenomenological Philosophers. Husserl, Heidegger, Sartre, Marleau-Ponty. London: Routledge, 2005.

Marleau-Ponty, Maurice. Phenomenology of Perception. London and New York: Routledge, 2005.

Marshall, George J. A Guide to Merleau-Ponty’s Phenomenology of Perception. Milwaukee: Marquette University Press, 2008.

Sebastian, Tanius. “Mengenal Fenomenologi Persepsi Marleau-Ponty Tentang Pengalaman Rasa”. Jurnal Melintas. 32:1 (2016): 94-115.\

Tjaya, Thomas Hidya. Filsafat Untuk Para Profesional. Ed. F. Budi Hardiman. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2016.

Ceunfin, Frans. “Sejarah Pemikiran Modern 1”. Manuskrip, STFK Ledalero, 2003.

 

Bagikan Postingan

Subscribe
Notify of
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] rubrik Jangkar, Ricko Wawo dalam “Kecerdasan Tubuh ala Marleau-Ponty: Tentang Bagaimana Lionel Messi Mengumpan Bola Tepat Jatuh di Kak…” menjabarkan tesis-tesis kunci fenomenologi Maurice Marleau-Ponty yang menjadi titik tolak […]

Kalender Postingan

Jumat, Februari 23rd