Melintas Waktu, Catatan Perihal Temu Seni Teater Monolog 2023

Catatan Awal

Temu Seni Teater Monolog 2023 berlangsung pada tanggal 21-27 Agustus 2023 di Malang. Saya mengawali seluruh prosesnya dengan menempuh perjalanan dari Maumere ke arah barat menuju Liang Bua (Ruteng, Kab. Manggarai). Dengan sepeda motor, saya melintasi jalur darat pulau Flores. Nama pribumi untuk Flores adalah Nusa Nipa (Pulau Ular). Nama itu diberikan oleh Pater Piet Petu, SVD, antropolog dan etnolog, kurator pertama Museum Bikon Blewut Ledalero.

Jarak dari Maumere ke Liang Bua sekitar 14-15 jam perjalanan. Saya memilih menggunakan motor karena ingin melihat dan mengalami dari dekat tempat-tempat, orang-orang, suasana, sekaligus memanggil kembali memori tentang lintasan yang pernah saya lalui. Lebih dari itu, saya ingin agar tubuh saya punya lebih banyak pengalaman, sebagaimana memori dan pengetahuan saya yang begitu kuat.

Dalam program Temu Seni Teater Monolog, kami diwajibkan membuat riset di situs cagar budaya yang ada di wilayah kami masing-masing. Beberapa tahun belakangan, saya dan teman-teman Komunitas KAHE memang sedang punya semangat mengenal lebih jauh pulau yang kami tempati ini. Sejarah kolonialisme, lewat masuknya bangsa Portugis dan Belanda, modernisasi melalui Gereja Katolik yang berinkulturasi dengan ragam kultur di Flores banyak membentuk kenyataan masyarakat kami hari ini. 

Sebagai generasi yang tinggal hari ini di Flores, kami merasa terputus dengan sejarah Flores di masa lalu yang membentuk kondisi masyarakat hari ini. Kenyatan-kenyataan sosial, politik, budaya dan agama hari ini di Flores seringkali absen dari cara baca melihat kenyataan-kenyataan masyarakat pada masa lalu yang sejatinya turut membentuk peristiwa hari ini. Bagi kami, diskusi ini penting mengingat pengetahuan tentang sejarah masyarakat Flores seringkali terpusat pada lembaga-lembaga atau institusi-institusi tertentu, seperti Gereja atau diolah secara ketat dalam versi-versi akademis tanpa menimbang diseminasinya yang lebih luas kepada masyarakat yang terus berubah akibat globalisasi yang bergerak sedemikian cepat. 

Bagi kami, satu bagian penting yang seringkali diabaikan oleh generasi hari ini adalah kenyataan bahwa Flores punya sejarah kolonialisme yang berbeda dengan berbagai tempat di wilayah Indonesia. Selain masuk lewat agama Katolik, pembangunan di Flores akhir awal abad ke-20 dimulai dengan didirikannya pusat-pusat pendidikan dan kesehatan yang maju begitu pesat. Sejarah sosial, politik dan budaya ini tidak dibicarakan secara baku dalam kurikulum pendidikan sekolah. Akibatnya, generasi muda seperti gagap dengan pengetahun tentang pulau yang mereka tempati ini.

Seminari Mataloko, misalnya. Sejak berpindah dari Sikka (2 Februari 1926) ke Mataloko (15 September 1929), lembaga pendidikan ini punya perananan yang sangat signifikan dalam mendidik calon imam dan awam, tokoh-tokoh intelektual Flores. Selain itu, di Mataloko, ada SMP Kartini, sekolah berasrama yang didirikan khusus untuk pendidikan kaum perempuan. Lokasi SMP Kartini tepat berdampingan dengan Seminari Mataloko. 

Selain pusat pendidikan, Mataloko semacam kota kecil yang punya industri perkebunan dan peternakan (sapi perah dan keju) yang berdampak pada masyarakat sekitarnya. Pada tahun 2007-2011, saat menjalani masa studi di lembaga pendidikan ini, saya masih melihat sisa-sisa pembangunan dari masa lampau yang begitu pesat itu. Ada klinik kesehatan yang dikelola oleh para suster, ada perkebunan cengkeh, jeruk, kolam ikan lele, dan sistem pendidikan yang ditopang perpustakaan yang sangat lengkap, dua lapangan sepak bola, dan panggung teater sebagai tempat pertunjukan dipentaskan. 

Hari ini, wajah Mataloko kian berubah. Gudang beras kini ditutup. Klinik pengobatan tak terurus dan ditumbuhi rumput liar. Kios-kios kecil berdiri berdampingan dengan Alfamart. Secara visual Mataloko jelas berubah. Selain itu, berdirinya tambang geothermal di Mataloko tampak kontras dengan sejarah Mataloko yang kuat dengan situs pendidikan dan perkebunan. Kisah tentang Mataloko seolah hanya tinggal dalam memori para sopir, tukang kebun, tukang masak, tukang kayu, tukang besi yang pernah bekerja dan menjadi bagian dari sejarah pembangunan misi di Flores. Menariknya, lewat bangunan-bangunan tua yang tersisa di sana, kita bisa melihat perubahan yang hari-hari ini terjadi di Flores dari perspektif modernisme yang masuk melalui Gereja Katolik, terutama di pusat-pusat misi didirikan dan dikembangkan.

Perjalanan saya ke Liang Bua menumpuk berbagai pertanyaan, “bagaimana cara memaknai perubahan yang terjadi di masyarakat Flores dengan sejarah dan pertemuan-pertemuan yang terjadi pada masa lampau? Apa praktik sosial, politik, budaya dan agama yang penting hari-hari ini jika berkaca pada sejarah masa lampau? Kenyataannya, meski sejarah kolonialisme dan modernitasnya sedemikian tunggal, lokalitas Flores begitu beragam. Pertanyaan-pertanyaan ini semacam pra-kondisi sebelum lebih jauh saya meriset tentang Liang Bua dan terlibat dalam pertemuan dan penciptaan karya di momen Temu Teater Monolog 2023. 

***

Beberapa pengunjung terlihat sedang menapaki gua Liang Bua. Dok. Pribadi.
Beberapa pengunjung terlihat sedang menapaki gua Liang Bua. Dok. Pribadi.

Dari Maumere, saya menginap semalam di Ruteng. Saya tiba di Liang Bua keesokan harinya. Liang Bua berjarak kurang lebih 15 km dari Ruteng. Posisinya yang sedikit lebih rendah dari Ruteng membuat cuacanya sedikit lebih hangat. Bapak Benyamin Ampur yang sehari-hari bekerja menjaga Liang Bua menerima kedatang saya. 

Hari pertama di Liang Bua saya lalui dengan percakapan-percakapan yang umum saja, sebagaimana kunjungan seorang yang baru pertama kali datang ke tempat yang baru. Pertanyaan seputar sejarah sampai pemanfaatannya kini membentang dalam percakapan kami. Tidak banyak informasi yang dapat saya kumpulkan karena keterbatasan waktu. Kondisi Liang Bua saat ini memang tinggal gua saja. Sejak covid, ekskavasi berhenti. Jumlah wisatawan yang datang juga belum sepenuhnya stabil. 

Beberapa informasi pendukung saya temukan di museum tetapi tidak banyak yang dapat saya gali. Di sisi lain, keberadaan museum yang ‘berjarak’ dengan hidup warga sekitar membuatnya tinggal sebagai ingatan purbakala belaka. Tidak ada mitologi atau cerita rakyat yang hidup di kalangan warga. Beberapa warga, Ovan salah satunya, menyebut ada kepercayaan bahwa jika akan ada peneliti/antropolog berkunjung ke Liang Bua, malam sebelumnya, sebuah cahaya putih berbentuk naga akan keluar dari liang (gua) yang satu dan berpindah ke liang lainnya. Cahaya putih itu baru kembali setelah kelompok peneliti itu meninggalkan Liang Bua. 

Suatu malam, sebelum tidur, saya menyempatkan diri ke sebuah kios milik mama Suci, untuk membeli rokok sekaligus mengisi daya telepon genggam saya. Mama Suci meminta anaknya menyediakan kopi. Saya sempat bertanya kepadanya tentang Liang Bua, mencari tahu perihal mitos tentang gua itu. Ia memberi penjelasan sebagaimana Ovan dan bapak Benyamin. Sepertinya, itu satu-satunya cerita warga tentang Liang Bua. 

Pukul sebelas malam, sebelum kembali ke museum, Ovan dan beberapa pemuda mendatangi saya. Kami mengobrol, sementara di hadapan kami beberapa warga lalu lalang, kembali dari kampung Teras, mengikuti upacara kematian. Kadang-kadang sekelompok warga lewat, disertai suara lolong anjing di kejauhan. Mereka sedang bang (berburu tikus sawah). Sekitar 200 m dari kios tempat kami menikmati kopi, mengalir sebuah kali kecil yang siap mengairi bentangan sawah di desa itu.  

Untuk mengolah pengalaman ketubuhan yang lebih intens (self sensory: pendengaran, penciuman, pencerapan, sentuhan, dll) saya memilih tidur di museum pada malam hari. Kondisi museum memang seadanya. Karena jaringan listrik tidak diurus oleh pemerintah daerah setempat, malam itu saya tidur dalam kegelapan. Seperti berada di dalam gua Liang Bua saja. Suara lolongan anjing, sinar cahaya dari ‘senter-senter kepala’ warga yang berburu tikus sawah, suara dan kepak burung malam yang memotong cahaya dari pemukiman warga memberi kesan Liang Bua begitu jauh, tinggal dalam kesunyiannya sendiri. Seperti seekor ular tua yang terbaring lesu di antara akar dahan-dahan beringin yang menjulur menuju permukaan tanah. 

Perjalanan ke Liang Bua memantulkan pertanyaan-pertanyaan reflektif seputar Flores masa lampau, hari ini dan masa depan. Barangkali pertanyaan-pertanyaan ini demikian luas, tetapi sebagai permulaan untuk melihat Flores secara umum  hari ini, baiklah keluasan ini dipakai, menggunakan lintasan waktu, dari Liang Bua ke kenyataan-kenyataan hari ini dan pertanyaan-pertanyaan seputar masa depan. Perjalanan ke Liang Bua ini lalu memantik saya untuk menurunkannya ke karya pertunjukan monolog bersama Wulan Dewi Saraswati, seorang rekan saya lainnya, yang terlibat dalam program Temu Teater Monolog di Malang. Wulan sendiri meriset Pura Pencak Petali di Bali.

Proses Temu Seni Teater Monolog 2023 di Malang: Temu dan Tukar

Dalam sambutan pembuka Temu Seni Teater Monolog 2023, Melati Suryodarmo selaku direktur artistik mengatakan, keseluruhan program Temu Seni Teater Monolog dirancang sebagai ruang temu untuk saling bertukar metode, gagasan dan praktik perihal temuan riset dan kerja-kerja kesenian yang kami lakukan di tempat kami masing-masing. Itu sebabnya, sejak awal, saya memberi porsi yang besar terhadap apa yang disebut oleh fasilitator, Yudi Ahmad Tahjudin dan Sha Ine Febriyanti dengan sebutan pertukaran.

Kata pertukaran jadi poin penting. Sudah sejak awal peserta dalam forum dibawa ke pada satu arah dan tatapan bersama untuk membangun ruang bersama, saling ngobrol, bercerita, berbagi gagasan, keterampilan, praktik, dan temuan yang terjadi di masing-masing tempat, baik perihal riset maupun karya work in progress. Pertukaran, bukan perihal siapa lebih baik dari pada siapa. 

Untuk memantulkan praktik yang kami kerjakan di komunitas KAHE Maumere dan temuan menarik selama kegiatan ini, ada beberapa kata kunci yang saya pakai.

Gagasan, untuk saya jadi basis yang dipertukarkan dengan ragam metode dan praktik yang dikerjakan oleh masing-masing peserta, disesuaikan dengan konteks risetnya masing-masing. Jadi ada empat kata kunci awal yang ingin saya kejar: gagasan, metode, praktik dan konteks yang saling dipertukarkan. 

Gagasan, sejauh yang saya pahami berhubungan dengan apa yang mendorong dan menggerakan seseorang atau sekelompok orang memilih dan melakukan pilihannya. Metode berkaitan dengan kerangka, jalan, rel yang menyusun pewujudan gagasan tersebut. Praktik adalah artikulasi atas gagasan, tindakan yang dilakukan seturut metode, dan konteks berhubungan dengan tempat, ruang, dan waktu yang melingkungi gagasan dan selanjutnya dihadirkan dalam peristiwa pertunjukan. Empat kata kunci ini saya tautkan dengan dua kerangka materi dasar yang ditawarkan dalam pertemuan itu: tradisi dan teater monolog. 

Direktur Artistik Temu Seni Teater Monolog 2023, Mba Melati Suryodarmo. Dok. Panitia
Direktur Artistik Temu Seni Teater Monolog 2023, Melati Suryodarmo. Dok. Panitia

Empat kata kunci di atas selanjutnya saya pakai untuk melihat lebih jauh tema program, Membaca Mengalami Masa Lalu, Menumbuhkan Masa Depan. Tiga titik simpul dan lini masa saya tambahkan sebagai parameter. Masa lalu sebagai titik tolak/inspirasi, yang penting hari ini sebagai semangat generasi/zaman, dan proyeksi ke masa depan sebagai visi. Jadi, turunan dari tema Temu Seni Teater Monolog Tahun 2023 ini ada dalam tiga kata kunci, Masa Lalu (Inspirasi), Hari Ini (Semangat Generasi/Zaman) dan Masa Depan (Visi).

Sebagai seniman, isu besar di kota kami adalah kurangnya akses juga ruang bertemu dan berbagi gagasan serta praktik kesenian, baik teater maupun ragam pertunjukan lainnya. Saya menaruh harapan pada momen Temu Seni Teater Monolog 2023 ini sebagai salah satu ruang bertemu dan bertukar serta berbagi disiplin. Sementara itu, dalam konteks riset tradisi, berbagai sharing dan cerita terkait temuan-temuan di masing-masing tempat menjadi pengetahuan yang penting untuk menambah referensi saya tentang Indonesia yang demikian luas dan beragam ini. Silang dan saling tukar ini bisa menjadi semangat baru, yang dalam tema dan konsep Indonesia Bertutur dibahasakan sebagai harmoni yang lebih segar pada tempatan. 

Pada pertemuan hari pertama, saya membaca begitu banyak ragam temuan atas riset yang dihasilkan oleh masing-masing peserta. Ada candi dan beragam cerita-cerita yang melingkupinya, ada ritus pengobatan, prasasti, cerita panji, naskah tua, dan beragam ritual yang ada di berbagai tradisi di beberapa tempat di Indonesia. Ragam temuan yang tersebar dari berbagai tempat itu menambah informasi dan wawasan saya tentang Indonesia di masa lalu dan situasinya hari ini. 

Hari pertama penuh informasi, tetapi luasan wawasan yang sangat kaya itu dipertajam oleh forum diskusi dan fasilitator yang membantu peserta melihatnya dengan perspektif dan versi “yang lain”, tidak semata-mata adanya, sekedar sebagai data dan fakta, sebagaimana kenyataan riset dihadapkan kepada periset dan forum. Misalnya, fasilitator menyatakan bahwa ragam ekspresi yang berbeda itu justru membantu peserta melihat dengan cara yang sama. Melihat dalam cara yang sama artinya, di antara tradisi tempatan yang ditemui itu, forum membuka dirinya untuk melihat kemungkinan-kemungkinan yang tersebar di luar kerangka temuannya masing-masing. Ada bagian-bagian yang ditajamkan dengan informasi-informasi dan pengetahuan yang dipresentasikan itu.

Ada beberapa kata kunci dan kalimat yang tercatat sebagai poin-poin penting dalam proses tukar yang berlangsung dalam presentasi riset dan kemungkinan mengembangan pertunjukan monolog dari masing-masing peserta. Beberapa poin penting yang dapat saya rangkum misalnya

Tradisi:

  1. Tradisi punya latar belakang dan konteks, bertemu dengan situasi hari ini.
  2. Ada konteks sosial, politik, agama, tradisi, yang melingkupi data-data yang ditemukan.
  3. Pertemuan dan percampuran budaya di masa lalu dan yang tampak hingga hari ini – Inkulturasi.
  4. Arsip-arsip kata, interaksi dan inkulturasi antara agama dan budaya.
  5. Situs sebagai arsip: sejarah sosial, politik.
  6. Dialog dan negosiasi dengan situasi-situasi yang ada.
  7. Warga dan siasat berhadapan dengan otoritas.
  8. Menelusuri berbagai tahapan-tahapan dan hirarki yang ada, dari tradisi ke situasi hari ini.
  9. Filosofi hidup warga yang berangkat dari situasi di sekelilingnya.
  10. Non antroposentrisme: mengembalikan cara pandang yang tidak non antroposentris.
  11. Non human: Dilihat dan dihargai sebagai bagian dari kosmologi.

Pertunjukan:

  1. Data-data yang diperlakukan sebagai inspirasi, dikelola jadi pertunjukan.
  2. Latar belakang: gagasan abstrak dan material sebagai bentuk.
  3. Ada gagasan yang berangkat dari yang abstrak, nilai-nilai tetapi juga yang tampak/visual, sebagai material.
  4. Materialitas naratif sebagai estetika: mantra, bunyi, dsb.
  5. Posisi kreator dalam naskah, karya mau berbicara tentang apa ke publik.
  6. Kata kunci sebagai inspirasi dalam karya.
Fasilitator Temu Seni Teater Monolog 2023, Yudi Ahmad Tajudin (Kiri) dan Sha Ine Febriyanti (Kanan). Dok. Panitia
Fasilitator Temu Seni Teater Monolog 2023, Yudi Ahmad Tajudin (Kiri) dan Sha Ine Febriyanti (Kanan). Dok. Panitia

Karya “Work In Progress”, Menimbang Modal dan Mengelola Metode Kerja

Yang menarik dari tahapan work in progress ini adalah upaya fasilitator memunculkan kata-kata kunci dari masing-masing peserta, membuka kemungkinan diskusi dan menajamkan beberapa bagian yang penting dalam kaitannya dengan pertunjukan teater. Proses yang kami kerjakan untuk pertunjukan kami merupakan komposisi yang kami atur dari kata-kata kunci yang didiskusikan dan dikembangkan berdasarkan pilihan isu yang kami pilih. Meski masih berupa karya yang sedang tumbuh, proses diskusi dan penajaman dari fasilitator sangat membantu pengerjaan karya itu.

Kata Kunci

Kalimat

Sense Experiental Learning – Riset Artistik 
Positioning Subjek penelitian dihadapkan pada 5 W 1 H
Craftmanship Studi urban – mencerap kota
Batas Waktu – Ukuran Time Constraint – Terkait pertunjukan, batas bisa jadi keterbatasan, tetapi keluasan ditentukan oleh batasannya
Tokoh dan penokohan Structure Guide
Image Vocabulary gerak
Pola Gerak Motif gerak
Intensitas Ada dalam ukuran – parameter mengolah intensitas
Improvisasi Setiap materi punya teksnya masing-masing
Identitas Pengolahan identitas bisa dilakukan dengan memberi penegasan, peluasan atau dinegasikan
Via Negativa – Grotowski Pengelolaan modal dasar bisa dikembangan tetapi bisa juga dihancurkan 
Semiotika Kehadiran di panggung sebagai penanda atas apa yang mau dibicarakan kepada publik
 Mengerucutkan tafsir atas penanda yang mau dibicarakan di atas panggung
Teks Memilih ‘apa’ (jangkar) untuk pilihan teks (suara, bunyi, lagu, dsb) agar tafsir tidak meluas
 Strategi mendekatkan teks dengan penonton
 Strategi mendekatkan dan menajamkan jarak
Aktor Jarak antara aktor dan teks
 Aktor – Teks 
 Teks – Aktor 
 Strategi intensitas dan pelibatan
 One man play
Representasional Aku aktor sedang mempresentasikan orang lain
Presentasional Aku membawa orang lain, tapi aku yang berbicara
Lecture performance Presentasional, kerangkanya performatif

Setelah fasilitator melakukan pemetaan atas berbagai hasil riset yang telah dibagikan oleh masing-masing peserta, kami lalu mencoba menurunkannya ke bentuk sebagai presentasi akhir dari pertemuan ini. 

Sebagai karya work in progress, saya dan rekan saya Wulan Dewi Saraswati, sejak awal memang lebih banyak menaruh porsi pada diskusi. Data-data temuan riset baik berupa gagasan maupun materi, kami olah dan pakai sebagai inspirasi untuk karya kami. Yang menarik dalam proses ini adalah diskusi yang intens. Pertanyaan besar yang jadi porsi obrolan kami adalah

apa isu yang bisa kita pakai untuk berbicara tentang situasi di Bali dan Flores hari ini, melalui tempat riset kami di Pura Pencak Petali dan Liang Bua? Bagaimana cara mempresentasikannya menjadi bentuk teater monolog yang menarik kepada para penonton? 

Kami menyadari sejak awal bahwa di proses ini kami sedang membuat karya work in progress, sehingga pertanyaan untuk ditelusuri adalah “apa yang bisa jadi pijakan agar karya ini bisa tetap mewakili apa yang ingin kami sampaikan dalam temuan riset kami?” 

Dalam proses menemukan karya work in progress yang lalu diberi nama Setali Cahaya itu, diskusi berlangsung intens. Kami berdua saling merespons, memberi masukan terkait kemungkinan-kemungkinan yang bisa dielaborasi lebih jauh, tambal sulam, membentuk jahitan, baik dari materi riset maupun dari kemungkinan bentuk yang bisa hadir sebagai karya pertunjukan. Sebagai karya yang sedang tumbuh, kami pada akhirnya menemukan bentuk pertunjukan monolog sehari sebelum monolog itu dipresentasikan di Candi Kidal. 

Selain modal riset, yang ingin juga kami pakai sebagai alat untuk karya monolog itu adalah modal dan potensi yang ada di masing-masing kami berdua. 

Sebagai sutradara, Dewi juga bekerja menggunakan medium kartu tarot, sementara itu, saya kadang menulis beberapa potongan cerita-cerita pendek dan puisi. Kami menyadari, meski ada dalam batas waktu presentasi, bahwa penting untuk memanfaatkan modal masing-masing sebagai alat yang dapat dipakai dalam pertunjukan teater monolog. Maka, selain hasil riset, melalui gagasan dan materi sebagai latar belakang, kami juga memasukan kartu tarot dan puisi sebagai komposisi untuk berbicara tentang isu yang akan kami bicarakan kepada penonton. 

Hal lain yang juga menarik adalah posisi sutradara dan aktor. Yang berlangsung di proses kami adalah posisi sutradara dan aktor sama-sama punya peluang untuk mengkomposisikan karya yang ingin kami pentaskan. Mengapa? 

Pertama, pengelolaan karya teater di komunitas tempat saya bergiat berangkat dari metode penciptaan bersama, sebuah metode yang kami pilih dan pakai sejak awal berteater, hasil workshop dan perjumpaan kami bersama Teater Garasi. Dalam metode penciptaan bersama, kami sama-sama melakukan riset dan mengelola temuan-temuan riset itu menjadi karya pertunjukan. Posisi sutradara dan aktor sama dalam konteks temuan sebagai pijakan dan inspirasi. Yang membedakannya adalah sutradara membaca struktur teks dan kembali menajamkan karya yang akan kami pentaskan, sementara itu aktor nantinya akan bermain di panggung sebagai aktor. Proses ini barangkali juga berlangsung di Dewi sebagai sutradara bersama dengan kelompoknya. 

Kedua, saya dan Dewi punya basis data riset yang berbeda-beda. Dua data riset yang berbeda ini justru menjadi peluang untuk didialogkan, sebab jika salah satu dari kami mengambil posisi yang lebih superior, maka karya akan cenderung (bisa saja) tunggal. Karena itu, kami menyadari penting untuk membangun dialog agar karya kami bisa menjadi pertunjukan yang sebisa mungkin mengakomodasi apa yang ingin kami obrolkan ke publik, dengan ukuran-ukuran panggung teater monolog tentunya.

Itu sebabnya, dalam proses pertunjukan yang kami kerjakan, sebagai aktor, saya memberi tawaran, sementara itu Wulan sebagai sutradara membuka peluang yang sangat besar untuk membicarakan karya work in progress yang akan dipentaskan dan menyusunnya dalam struktur yang lebih matang. Kami intens membangun dialog dan selanjutnya berusaha menajamkan apa yang mungkin bisa kami presentasikan pada pertunjukan itu. 

Menggunakan dramaturgi lintasan waktu, masa lalu, hari ini dan masa depan, kami lalu menyusun pertunjukan teater monolog, membukanya dengan temuan di Liang Bua, tentang manusia purba (homo floresiensis) di masa lampau, dan melakukan pembacaan atas konteks hari ini di Bali dan Flores, serta mempertanyakan situasi masa depan. Kerangka perjalanannya adalah manusia yang melintas dalam ruang dan waktu. 

Isu karya ini adalah bagaimana manusia hari ini di Bali dan Flores menghadapi kenyataan-kenyataan baru sebagai akibat perubahan dan pola pembangunan yang begitu cepat tanpa adanya persiapan dari warga. Pariwisata berkelindanan begitu cepat sementara manusia-manusia gagap menghadapi perubahan-perubahan itu. Di dalam proses pembangunan yang serba cepat itu, ada benturan, ada pergulatan, dentuman, dan berbagai macam peristiwa yang melingkupi porses itu. Kebudayaan, isu-isu politik, agama, dan pencarian akan masa depan berbenturan satu dengan yang lainnya. 

Dalam proses menyusun karya pertunjukan monolog, data, memori dan pengalaman sensorik dalam proses penelusuran kisah Liang Bua, dari perjalanan singgah di Mataloko dan beberapa tempat di Flores sampai tiba di Liang Bua saya tawarkan kepada Wulan sebagai sutradara. Selain mengolah isu tentang kenyataan hari ini, saya juga memberi tawaran terkait pengalaman sensorik tubuh, termasuk di antaranya efek bunyi-bunyi, suara, dan emosi yang dihasilkan oleh tubuh dalam keseluruhan proses itu.

Bagi saya, menambah pengalaman tubuh dalam proses riset dan menjahitnya dalam penciptaan karya memberi tawaran yang penting dalam karya pertunjukan, sebab unsur-unsur dari pengalaman tubuh akan memberi jiwa pada karya yang akan dipertunjukan kepada penonton. Sebab, pertunjukan in se adalah tubuh, di dalamnya ada indera dan emosi yang menghidupkan peristiwa pertunjukan. 

Mengambil materi-materi yang kami temukan saat riset, pertunjukan work in progress ini sebenarnya bagian dari proses pergulatan dengan gagasan, ide, temuan yang terjadi saat proses bersama fasilitator dan teman-teman dalam Temu Teater Monolog 2023 ini berlangsung.

Tradisi sebagai Inspirasi

Saya pernah mendengar dan membaca satu frasa ini, berpijak pada tradisi. Beberapa tahun yang lalu, sebelum banyak terpapar dengan ide dan gagasan tentang teater, saya pernah mendengar gagasan ini dan membayangkan, kerja kesenian, teater secara khusus mesti juga punya hubungan dengan peristiwa dan memanfaatkan atribut tradisi: ritualnya, mantra-mantranya, doa-doanya, nyanyiannya, kostumnya dan berbagai hal yang terpaut dengan tradisi itu sendiri. Di antara keterbatasan sumber dan referensi tontonan, gagasan perihal menggunakan atribut tradisi itu muncul sebagai inspirasi.

Akan tetapi, setelah punya kesempatan untuk bertemu, membaca dan berdiskusi tentang ide-ide kesenian, teater khususnya, dan melalui proses temu teater ini, saya menemukan cara lain melihat tradisi. Tradisi adalah perihal pijakkan, yang dipakai sebagai inspirasi. Gagasan dan bentuk-bentuk yang ada padanya bisa diolah dan dipertemukan dengan segala hal yang terkait dengan peristiwa hari ini. Jika teater (monolog) adalah perihal cara berkomunikasi, ngobrol, dengan publik, penonton, orang-orang di sekitar, perihal isu yang mau kita angkat, maka ia juga mesti kontekstual dengan situasi hari ini. Artinya, sebagaimana tradisi itu terus bertumbuh dan berkembang, maka proses penciptaan teater pun mesti terus bertumbuh dan berkembang sehingga selalu tetap relevan dengan penonton hari ini dan di sini. 

Maestro Tari Topeng, Ki Soleh (depan, berbaju putih) bersama peserta Temu Teater Monolog 2023. Dok. Panitia
Maestro Tari Topeng, Ki Soleh (depan, berbaju putih) bersama peserta Temu Teater Monolog 2023. Dok. Panitia

Saya mengikuti seluruh proses Temu Teater Monolog 2023 ini secara intens, dan tertarik dengan struktur pertemuan yang dibangun dalam perjumpaan antara sesama seniman teater ini. Perjalanan dan cerita-cerita tentang candi dan topeng mendekatkan saya dengan pengalaman yang lebih intens, sebab selama ini, tradisi dan kisah tentang candi dan topeng hanya saya dengar melalui buku pelajaran, novel dan tontonan di televisi. 

Latihan tari bersama Ki Soleh membuka pengalaman penubuhan yang lebih luas. Melihat tubuh Aceh, Jawa, Kalimantan, Flores dalam gerakan tari Jawa Timur ini menyadarkan saya bahwa di masing-masing tempat ia tumbuh dan bersosialisasi, manusia punya cara yang khas untuk merespons lingkungan yang melingkupinya.

Sarasehan bersama Dr. Premana W. Permadi dan Drs. M. Dwi Cahyono menjadi penutup yang menyenangkan. Saya membayangkan, apa jadinya jika kita, manusia, tanpa alam raya yang demikian luas, tanpa pertemuan dengan alam, hutan, air, laut, gunung, bukit, binatang-binatang, tanpa segala sesuatu yang menopang keberadaan bumi sehingga dapat hidup ribuan tahun hingga saat ini. Jika segala sesuatu pada mulanya diciptakan sedemikian utuh dan seimbang; saling bertemu, saling melengkapi, saling tata, saling menopang satu dengan yang lainnya, lalu, sebenarnya, dari mana datangnya disharmoni? 

Sebagai program, rangkaian pertemuan dan pertukaran Temu Seni Teater Monolog 2023 di Malang telah usai, tetapi pekerjaan melintasi waktu belum berhenti. Kadang-kadang, saya membayangkan, apa jadinya jika ular yang melilit pada beringin besar tiba-tiba saja bangun, menggerakkan ekornya, lalu seorang anak manusia dari dalam Liang Bua tiba-tiba saja bangkit dari kuburnya, berjalan keluar dan menemui Flores hari ini. Apa yang mungkin akan ia lakukan bersama ular itu?

Marianus Nuwa Tulisan ini merupakan pengembangan dari catatan laporan dan evaluasi saat mengikuti kegiatan Temu Seni Teater Monolog pada tanggal 21-27 Agustus 2023 di Malang.

Bagikan Postingan

Subscribe
Notify of
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] bagian eksistensinya dari satu tempat ke tempat lain. Di rubrik Layar, Mario Nuwa dalam “Melintas Waktu, Catatan Perihal Temu Seni Teater Monolog 2023“ membagikan pengalaman eksplorasinya ke Liang Bua. Eksplorasi itu kemudian didialogkan dengan […]

Kalender Postingan

Jumat, Februari 23rd