Kolonialitas: Sisi yang Lebih Gelap dari Modernitas

III

Apa yang terjadi di antara dua skenario yang diuraikan di atas, antara  abad keenam belas dan abad kedua puluh satu? Sejarawan Karen Armstrong — yang melihat pada sejarah Barat dari perspektif sejarawan Islam — telah membuat dua poin yang sangat penting. Armstrong menggarisbawahi singularitas pencapaian Barat dalam hubungannya dengan sejarah yang dikenal sampai abad keenam belas. Dia mencatat dua bidang yang paling menonjol: ekonomi dan epistemologi. Di bidang ekonomi, Armstrong menunjukkan bahwa ‘masyarakat baru Eropa dan koloninya di Amerika memiliki dasar ekonomi yang berbeda yang terdiri dari investasi kembali surplus untuk meningkatkan produksi. Transformasi radikal pertama dalam domain ekonomi yang memungkinkan Barat untuk ‘mereproduksi sumber dayanya tanpa batas’ umumnya dikaitkan dengan kolonialisme.6

Transformasi kedua, transformasi epistemologis, umumnya dikaitkan dengan renaisans Eropa. Transformasi epistemologis di sini harus diperluas untuk mencakup baik sains/pengetahuan maupun seni/makna. Armstrong menemukan transformasi dalam domain pengetahuan pada abad keenam belas, ketika orang-orang Eropa ‘mencapai’ sebuah revolusi ilmiah yang memberi mereka kendali lebih besar atas lingkungan daripada yang pernah dicapai siapapun sebelumnya’.7

Tidak diragukan lagi, Armstrong benar dalam menyoroti jenis relevansi baru ekonomi (kapitalisme) dan revolusi ilmiah. Keeduanya cocok dan sesuai dengan retorika perayaan modernitas — yaitu, retorika keselamatan dan kebaruan, berdasarkan pencapaian orang-orang Eropa selama renaisans.

Meskipun demikian, tetap ada dimensi tersembunyi dari peristiwa yang terjadi pada saat yang sama, baik dalam bidang ekonomi maupun dalam bidang pengetahuan: kehidupan manusia yang dapat dihabisi (misalnya, orang Afrika yang diperbudak) dan kehidupan secara umum dari revolusi industri hingga memasuki abad kedua puluh satu. Politisi dan intelektual Afro-Trinidad, Eric Williams secara ringkas menggambarkan situasi ini dengan mencatat bahwa: ‘salah satu konsekuensi terpenting dari Revolusi Agung 1688 […] adalah dorongan yang diberikannya pada prinsip perdagangan bebas…. Hanya dalam satu hal tertentu kebebasan perdagangan yang diberikan dalam perdagangan budak berbeda dari kebebasan yang diberikan di negara lain — komoditas yang terlibat adalah manusia.’8 Jadi, tersembunyi di balik retorika modernitas, kehidupan manusia menjadi sesuatu yang dapat dikomsumsi untuk kepentingan peningkatan kekayaan dan pembiayaan untuk konsumsi manusia (budak) seperti itu dibenarkan oleh naturalisasi peringkat rasial dari manusia.

Di antara dua skenario yang dijelaskan di atas, gagasan ‘modernitas’ muncul ke dalam lanskap. Modernitas muncul pertama kali sebagai penjajahan ganda yakni, penjajahan waktu dan ruang. Penjajahan waktu diciptakan oleh penemuan simultan abad pertengahan dalam proses konseptualisasi renaisans9; dan penjajahan ruang melalui pendudukan dan penaklukan Dunia Baru. Dalam penjajahan ruang, modernitas menghadapi sisi yang lebih gelap, kolonialitas. Selama rentang waktu 1500 hingga 2000 tiga wajah kumulatif (dan tidak berturut-turut) dari modernitas dapat dilihat: yang pertama adalah wajah Iberia dan Katolik yang dipimpin oleh Spanyol dan Portugal (kira-kira 1500-1750); yang kedua, ‘jantung Eropa’ (Hegel), wajah yang dipimpin oleh Inggris, Perancis dan Jerman (1750–1945); dan akhirnya wajah Amerika AS yang dipimpin oleh Amerika Serikat (1945–2000). Sejak saat itu, tatanan global baru mulai terungkap: dunia polisentris yang saling berhubungan oleh satu jenis ekonomi yang sama.

Pada kuartal terakhir abad kedua puluh, ‘modernitas’ dipertanyakan dalam kaitan dengan kronologi dan cita-citanya, di Eropa dan Amerika Serikat: istilah post-modernitas mengacu pada argumen kritis semacam itu. Belakangan ini, altermodernitas muncul sebagai istilah dan periode baru di Eropa.10 Secara spasial, ekspresi-ekspresi seperti modernitas alternatif, modernitas subaltern, dan modernitas periferal diperkenalkan untuk menjelaskan modernitas tetapi dari perspektif non-Eropa. Ketiganya memiliki satu masalah umum: narasi dan argumen ini mempertahankan sentralitas modernitas Euro-Amerika atau, bisa juga diasumsikan ada satu ‘modernitas yang menjadi referensi’ dan modernitas-modernitas lain menempatkan diri mereka pada posisi bawahan. Semua narasi ini memiliki satu elemen lain yang sama: mereka menganggap bahwa dunia ini ‘datar’ dalam pawai kemenangannya menuju masa depan sambil menyembunyikan kolonialitas. Dan akhirnya, mereka semua mengabaikan kemungkinan realitas yang diklaim oleh aktor lokal di dunia non-Eropa sebagai ‘modernitas kita’ sambil memutuskan hubungan dengan berbagai keharusan yang datang dari Barat, baik itu kubu yang mengklaim ‘modernitas kapitalis’ kami atau kubu de-kolonial yang mengklaim ‘modernitas non-kapitalis, modernitas de-kolonial’ kami.

Klaim bersama ini (de-Westernisasi) dibantah secara tegas oleh, antara lain, Kishore Mahbubani dari Singapura. Mahbubani memunculkan kasus ‘Belahan bumi Asia baru dan pergeseran kekuatan global’.11 ‘Modernitas’ tidak ditolak tetapi disesuaikan dalam pergeseran saat ini yang dipimpin oleh Asia Timur dan Selatan. Pertanyaan provokatif Mahbubani: ‘Bisakah orang Asia berpikir?’ adalah, di satu sisi konfrontasi terhadap rasisme epistemik Barat dan, di sisi lain, merupakan pendekatan yang menyimpang dan tidak patuh terhadap ‘modernitas’ Barat: Mengapa Barat merasa terancam oleh kapitalisme dan modernitas Asia jika pendekatan seperti itu akan menguntungkan dunia dan umat manusia pada umumnya, tanya Mahbubani?12

Di kubu de-kolonial (bukan postmodern dan altermodern), transmodernitas akan menjadi konsep yang paralel. Jenis argumen ini sudah menjadi pendekatan yang digunakan di kalangan intelektual Islam. Masa depan global, yang menjadi bagian dari sistem dunia modern dan berakar tanpa malu-malu pada modernitas Eropa, terletak pada agenda menuju penolakan modernitas dan genosida akal budi, dan perampasan cita-cita emansipasinya.13 Demikian pula klaim-klaim yang dibuat  dalam percakapan-percakapan yang berkembang tentang ‘kosmopolitanisme de-kolonial’. Sementara kosmopolitanisme Kant berpusat pada Eropa dan imperialisme, kosmopolitanisme de-kolonial menjadi kritis terhadap keduanya, warisan imperial kosmopilitanisme Kant dan kapitalisme polisentris atas nama de-Westernisasi.14 Untuk alasan ini, trans-modernitas akan menjadi deskripsi yang lebih cocok untuk masa depan yang dibayangkan melalui perspektif de-kolonial.15

Bagikan Postingan

Subscribe
Notify of
2 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Marno nigha
Marno nigha
2 years ago

Wala terjemahan enak, bisa dicerap dengan mudah…good job Dimas

Kalender Postingan

Senin, Juni 24th