Kolonialitas: Sisi yang Lebih Gelap dari Modernitas

V

Karena gagasan modernitas dibangun hanya sebagai gagasan Eropa dan, dalam argumen tersebut, hanya ada, dulu dan hingga saat ini, sebuah modernitas ‘tunggal’,17 gagasan modernitas itu melahirkan serangkaian pendatang baru dan calon pendatang baru (misalnya, modernitas alternatif, modernitas periferal, modernitas subaltern, altermodernitas). Semuanya itu mereproduksi pertanyaan yang menjengkelkan tentang ‘modernitas dan tradisi’, sebuah pertanyaan yang tidak banyak ditemukan dan diperdebatkan di kalangan intelektual Eropa-Amerika. Untuk alasan itu, perdebatan tentang ‘modernitas dan tradisi’ telah dan masih menjadi perhatian, terutama, di kalangan intelektual dari dunia non-Eropa (dan Amerika Serikat).18

Pada dasarnya, masalah dan keprihatinan terhadap modernitas dan tradisi dinyatakan dari atau dalam kaitannya dengan bekas negara Dunia Ketiga dan negara dengan sejarah non-Eropa—misalnya, Jepang. Di/bagi Jepang, modernitas, sejak dulu hingga sekarang, merupakan masalah besar yang dieksplorasi dan diperdebatkan. Harry Harootunian mengeksplorasi masalah ini secara rinci dalam bukunya Overcome by Modernity. History, Culture and Community in Interwar Japan (2000); di Rusia, modernitas menjadi masalah sejak Petrus dan Katarina Agung yang ingin melompat pada band-wagon (kereta musik) modernitas Eropa, tetapi sudah terlambat dan berakhir dengan mereproduksi semacam modernitas kelas dua di Rusia.19 Cina dan India tidak terkecuali. Saya telah menyebutkan bahwa argumen de-Westernisasi yang diajukan di Asia Timur dan Tenggara. Sanjib Baruah baru-baru ini merangkum modernitas ‘India dan Cina’ yang diperdebatkan. Pada bagian yang secara terang-terangan berjudul ‘melibatkan yang modern’, Baruah mengamati bahwa India — terlepas dari wajah kolektifnya baru-baru ini — merupakan rumah bagi intelektual oposisi yang kuat terhadap ide-ide pembangunan dan modernisasi, mengikuti ajaran Mahatma Gandhi.20 Analisisnya mengarah pada dua skenario argumen yang bertolak belakang dalam membela ‘keinginan menjadi modern dan berkembang’ dengan mereka yang terlibat dalam kritik radikal terhadap modernitas dan pembangunan.21 Skenario tersebut merupakan salah satu yang umum di Afrika dan di Amerika Selatan. Namun, dalam skenario tersebut, apa yang sebenarnya dipertaruhkan dalam modernisasi adalah pembangunan ekonomi. Baruah menulis:

“Kritikus modernitas menikmati sedikit prestise intelektual di India (meskipun ini tidak boleh dikacaukan dengan kesetiaan yang sebenarnya terhadap ide-ide mereka). India adalah rumah bagi intelektual dan aktivis oposisi mutakhir terhadap ide-ide arus utama tentang pembangunan dan modernisasi. Sebagaimana yang ditunjukkan sejarawan Cina, Prasenjit Duara, narasi-narasi kontra terhadap modernitas telah ‘hampir sama’ banyaknya dilihat sebagai narasi-narasa kemajuan’ di India. Dilihat secara komparatif, ‘penerimaan umum dan prestise’ dari ide-ide anti-modern Gandhi di India luar biasa, meskipun para pembuat kebijakan mengabaikan ide-idenya dalam praktik.”22

Di Inggris, Anthony Giddens mengakhiri argumennya dalam bukunya yang terkenal The Consequences of Modernity (1990) dengan bertanya pada dirinya sendiri: Apakah Modernitas adalah Proyek Barat?’ Dia melihat produksi negara-bangsa dan kapitalis sistematis sebagai jangkar modernitas Eropa. Artinya, kontrol otoritas dan kontrol ekonomi dilandasi oleh sejarah imperialisme Eropa. Dalam pengertian ini, jawaban atas pertanyaannya adalah ‘Ya secara terang-terangan’.23

Apa yang dikatakan Giddens memang benar. Jadi apa masalahnya? Masalahnya adalah apa yang dikatakannya itu setengah benar: Yang dikatakan Giddens benar dari sudut pandang seseorang yang berdiam dengan nyaman di dalam rumah ‘modernitas’. Jika kita menerima bahwa ‘modernitas’ adalah proyek Barat, maka mari kita bertanggung jawab juga atas ‘kolonialitas’ (sisi yang lebih gelap dan hakiki dari modernitas): kejahatan dan kekerasan yang dibenarkan atas nama modernitas. ‘Kolonialitas’ dengan kata lain adalah salah satu ‘konsekuensi modernitas’ yang paling tragis dan di saat yang sama yang paling penuh dengan harapan karena telah melahirkan pawai global menuju de-kolonialitas.

VI

Jika Anda menjadi bagian dalam sejarah kekuasaan Inggris di India, bukan di Inggris, dunia tidak akan terlihat sama. Di Inggris Anda mungkin melihatnya melalui lensa Giddens; di India mungkin melalui lensa Gandhi. Apakah Anda akan membuat pilihan atau berjalan dengan ko-eksistensi yang tak terbantahkan dan bertentangan dari keduanya? Sejarawan dan ahli teori politik India, Partha Chatterjee membahas masalah ‘modernity in two languages. Artikelnya, yang dikumpulkan dalam bukunya A Possible India (1998), adalah versi berbahasa Inggris dari kuliah yang disampaikan dalam bahasa Bengali dan dipresentasikan di Kalkuta.24 Versi berbahasa Inggris tersebut tidak hanya merupakan terjemahan tetapi juga refleksi teoretis tentang aspek geo-politik pengetahuan serta pemutusan hubungan epistemik dan politis.

Tanpa penyesalan dan dengan sangat tegas, Chatterjee melandaskan kuliahnya pada distingsi antara ‘modernitas kita’ dan ‘modernitas mereka’. Daripada memperpertahankan modernitas tunggal oleh para intelektual postmodern di ‘Dunia Pertama’, Chatterjee menanamkan pilar yang kuat untuk membangun masa depan modernitas ‘kita’—yang tidak terlepas dari ‘modernitas mereka’ (karena ekspansi Barat adalah fakta), tetapi tanpa penyesalan dan tanpa malu-malu merupakan ‘milik kita’.

Inilah salah satu kekuatan argumen Chatterjee. Tetapi perlu diingat bahwa, pertama, orang-orang Inggris memasuki India secara komersial menjelang akhir abad kedelapan belas dan secara politis selama paruh pertama abad kesembilan belas ketika Inggris dan Perancis, memperpanjang tentakel mereka di Asia dan Afrika sesudah masa Napoleon. Karena itu, bertentangan dengan intelektual Amerika Selatan dan Karibia, bagi Chatterjee, ‘modernitas’ berarti pencerahan, bukan renaisans. Karena itu, tidak mengherankan jika Chatterjee menjadikan ‘What is Enlightment‘ Immanuel Kant sebagai pilar dalam fondasi gagasannya mengenai modernitas Eropa. Bagi Kant, pencerahan berarti manusia itu (dalam artian sebagai makhluk hidup) menjadi dewasa, meninggalkan ketidakdewasaannya, mencapai kebebasannya. Chatterjee menunjukkan keheningan Kant (sengaja atau tidak) dan Kebutaan Michel Foucault ketika membaca esai Kant. Ada sesuatu yang hilang dalam perayaan kebebasan dan kedewasaan Kant dan dalam perayaan Foucault terhadap kebebasan dan kedewasaan itu yakni, fakta bahwa konsep Kant tentang manusia dan kemanusiaan didasarkan pada konsep Eropa tentang kemanusiaan dari Renaisans hingga abad pencerahan dan bukan pada konsep ‘manusia yang lebih rendah’ yang menghuni dunia di luar Eropa sebagai pusat dunia. Jadi, ‘pencerahan’ bukanlah untuk semua orang, kecuali mereka menjadi ‘modern’ dalam gagasan modernitas Eropa.

Satu poin dalam interpretasi mendalam Chatterjee tentang Kant-Foucault merupakan gagasan yang relevan untuk argumen yang saya kembangkan di sini. Saya menduga, sebagaimana argumen Chatterjee, bahwa Kant dan Foucault tidak memiliki pengalaman kolonial dan kepentingan politik yang dimotivasi oleh ‘luka kolonial’. Bukan karena mereka harus memilikinya, melainkan pandangan mereka itu tidak dapat diuniversalkan. Jika Anda dilahirkan, dididik dan subjektivitas Anda terbentuk di Jerman dan Perancis, konsepsi dan perasaan Anda tentang dunia akan menjadi berbeda dengan seseorang yang lahir dan besar di India pada masa penjajahan Inggris. Dengan demikian, Chatterjee dapat menyatakan bahwa ‘kami – di India – telah membangun struktur otoritas yang secara rumit berbeda dan yang menentukan siapa yang berhak mengatakan apa tentang subjek yang mana’.25 Dalam ‘Modernity in Two Languages’ Chatterjee mengingatkan kita bahwa ‘Dunia Ketiga’ telah menjadi ‘konsumen’ utama kecendekiaan dan pengetahuan Dunia Pertama:

Entah bagaimana, sejak awal, kami telah membuat tebakan yang cerdik bahwa dengan adanya keterlibatan erat antara pengetahuan modern dan kekuasaan rezim modern, kita selamanya akan tetap menjadi konsumen modernitas universal; kita tidak akan pernah dianggap sebagai produsen modernitas secara serius.26

Chatterjee menyimpulkan bahwa untuk alasan inilah ‘kami telah mencoba, selama lebih dari seratus tahun, untuk mengalihkan pandangan kami dari angan-angan modernitas universal ini dan membersihkan ruang di mana kami bisa menjadi pencipta modernitas kami sendiri’.27 Saya membayangkan Anda mendapatkan intinya. ‘Yang lain’ (anthropos) memutuskan untuk tidak mematuhi: pembangkangan epistemik dan politis yang terdiri dari penggantian modernitas Eropa, sementara pada saat yang sama tinggal dalam rumah kolonialitas.

Bagikan Postingan

Subscribe
Notify of
2 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Marno nigha
Marno nigha
2 years ago

Wala terjemahan enak, bisa dicerap dengan mudah…good job Dimas

Kalender Postingan

Senin, Juni 24th