Berjumpa ‘Wajah’ Waria Maumere di Rumah Mami Vera dan Berita Media Lokal

Cerita-cerita Keberagaman dari Maumere yang digagas oleh Komunitas KAHE melanjutkan program learning encounter (ruang temu) dengan melakukan dua pertemuan: bersama Persatuan Waria Kabupaten Sikka (Perwakas) di halaman belakang rumah Mami Vera Crus (Ketua Perwakas) dan bersama para jurnalis di kantor Redaksi EKORA NTT. Kunjungan ke rumah Mami Vera dilakukan pada Jumat, 10 Februari 2023, dan pada Sabtu, 11 Februari 2023 ke Kantor Redaksi EKORA NTT.

Di Halaman Belakang Rumah Mami Vera

Kunjungan ke Perwakas berlangsung sejak pukul 18.00 hingga pukul 21.00 di teras halaman belakang rumah Mami Vera. Acara kunjungan berjalan lancar, diselingi senda gurau dan tukar cerita menarik di antara semua yang hadir. 

Membuka perjumpaan, Yolanda Adam selaku pemandu acara memberikan kesempatan bagi para peserta untuk memperkenalkan diri.

“Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang, maka kesempatan yang pertama adalah perkenalan”, kata Yolanda. 

Setelah sesi perkenalan, acara dilanjutkan dengan sharing pengalaman teman-teman waria. Mami Vera membuka sesi ini dengan menceritakan sejarah Perwakas dan perjuangan kelompok ini demi mendapat pengakuan dari masyarakat.

Foto: Eka Putra Nggalu/Dokumentasi Komunitas KAHE.

Haji Mona, Wahida dan Olga sebagai senior dan mantan ketua Perwakas juga berbagi cerita tentang pengalaman mereka sebagai waria. Mereka bercerita tentang masa kelam teman-teman waria, di awal tahun 80-90-an.  Pada tahun-tahun itu, para waria kerap mendapat diskriminasi dari masyarakat. Para waria kerap dilecehkan dengan hinaan, caci maki, bahkan disiram dengan air got hingga bahkan dipukul. 

“Pada tahun 1998 itu, para waria mengalami berbagai bentuk diskriminasi oleh masyarakat, khususnya oleh anak muda. Sebagai waria atau yang sekarang disebut transpuan, kami hanya bisa menunjukkan diri kami apa adanya. Kami tidak bisa sama dengan kalian yang maco, jantan, kekar. Kami hanya ingin menunjukan bahwa inilah kami”, ungkap haji Mona. 

Perwakas sebagai  rumah bagi waria yang ada di Maumere  dibentuk pada tahun 1998 dengan dukungan Lambert Purek dari Yayasan Cinta Kehidupan. Haji Mona menjadi ketua pertama Perwakas. Nama kelompok yang dibentuk sebagai upaya untuk menciptakan kekuatan kolektif dalam memperjuangkan pengakuan masyarakat di Maumere ini terinspirasi dari Perwakos (Persatuan Waria Kota Surabaya), sebuah kelompok transpuan di Kota Surabaya yang eksis saat itu. 

Wahida yang mengabdikan dirinya sebagai kader posyandu sejak tahun 90-an hingga saat ini, juga membagikan pengalamannya sebagai seorang waria yang turut menghidupkan Perwakas dan aktif dalam berbagai program pemerintah. 

“Pada saat itu, stigma dan diskriminasi masih sangat kuat, tetapi alhamdulillah, di Kabupaten Sikka sendiri sebagian besar warga menerima  keberadaan kami. Perwakas tidak hanya terlibat dalam kegiatan-kegiatan untuk kepentingan diri kami sendiri, tetapi kami juga membantu program-program pemerintah seperti menjadi kader posyandu, bergabung di PKK, dan karang taruna. Waria harus menunjukan potensinya, bukan hanya hura-hura, tetapi juga berperan dalam masyarakat”, tutur Wahida.

Olga yang menjabat sebagai ketua Perwakas pada tahun 2012-2015 juga bercerita tentang kegiatan-kegiatan Perwakas, misalnya kunjungan Perwakas ke rutan (rumah tahanan), mengadakan pertandingan voli, renungan bersama, gerak jalan yang diinisiasi waria pada tahun 2013 dan ajang pemilihan Ratu Waria se-Flores Lembata memperebutkan Piala Nyonya Adinda Lebu Raya. Ada pula ajang pemilihan Ratu Waria se-Flores Lembata Piala Mami Vera Cruz yang dimotori oleh Mami Vera di Hotel Benggoan Maumere. Berbagai kegiatan ini dilakukan demi mengembangkan  kemampuan diri, menciptakan ruang untuk bersosialisasi dan berkontribusi bagi masyarakat luas. 

Partisipan sedang mendengarkan sharing dari Olga. Foto: Eka Putra Nggalu/Dokumentasi Komunitas KAHE

Selain sebagai kader posyandu, saat ini para waria secara aktif terlibat dalam pelatihan pembekalan tentang HIV/AIDS, bergabung di PKK (Perempuan Kepala Keluarga) dan karang taruna. Ada juga yang bekerja sebagai penyuluh pertanian, pelayan gereja dan ikut serta dalam pelatihan keterampilan lainnya. Hal ini memberikan citra positif bagi waria pada umumnya, dan bagi Perwakas pada khususnya. Penerimaan masyarakat atas keterlibatan waria dalam beberapa program di atas, tentu menjadi motivasi bagi para waria untuk terus berkarya bagi masyarakat. 

Pada tahun ini, tepatnya pada tanggal 28 November, Perwakas merayakan ulang tahunnya yang ke 25. Usia perak ini menjadi kesempatan bagi Perwakas untuk berefleksi, melihat kembali sejarah dan perjuangan menghadapi diskriminasi dan stigma masyarakat sebagai sebuah pembelajaran untuk semakin aktif terlibat dalam berbagai kegiatan atau program pemerintah. Setelah 25 tahun aktif melibatkan diri dalam berbagai kegiatan bersama masyarakat,  dunia politik tentu menjadi ruang luas bagi para waria untuk terlibat lebih jauh dalam program pembangunan pemerintah. 

Waria dalam Berita

Kegiatan diskusi di EKORA NTT dihadiri oleh Perwakas, AWAS (Aliansi Wartawan Kabupaten Sikka), Humanitas, BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) IFTK (Institut Ilmu Filsafat dan Teknologi Kreatif)-Ledalero, dan dosen dari salah satu universitas di kota Maumere. 

Dalam suasana semi formal, proses diskusi berlangsung cukup kondusif dan interaktif. Selama kurang lebih satu jam, kegiatan ini berlangsung.

Sebagai pembuka, Hengki Ola Sura (perwakilan redaksi EKORA NTT) memberikan sambutan.

Dalam sambutannya, dia menyadari bahwa jurnalis bukanlah profesi yang eksklusif. Apalagi jika berbicara tentang isu-isu keberagaman, para jurnalis harus inklusif. Baginya, kunjungan ke kantor redaksi EKORA NTT ini menjadi alarm bagi kegiatan jurnalistik agar memberikan tempat seluas-luasnya terhadap isu keberagaman.

Selanjutnya, Eka Putra Nggalu (ketua Komunitas KAHE) menceritakan perjumpaan KAHE dengan masyarakat Kampung Wuring termasuk kelompok waria di komunitas Bajo-Bugis tersebut.

“Pertemuan menghasilkan perspektif baru,” tegasnya. Setelah mempelajari dan mendalami kebudayaan masyarakat wuring, Komunitas KAHE menemukan suatu kenyataan bahwa keberadaan para waria di Kabupaten Sikka yang cukup diterima tidak terlepas dari peran Haji Mona dan Wahidah, serta para waria-aktivis se-angkatan mereka yang lebih dulu bergerak di Kampung Wuring.

Ijas, pimred EKORA NTT sedang berbagi tentang kerja-kerja jurnalistik Komunitas KAHE. Foto: Eka Putra Nggalu/Dokumentasi Komunitas KAHE

Eka juga menjelaskan bahwa EKORA NTT dipilih sebagai salah satu tempat kunjungan karena media ini adalah salah satu yang pertama dan cukup konsisten memberitakan cerita-cerita baik dan kritis dari waria di Maumere.

Ijas, pimpinan redaksi EKORA NTT membuka diskusi dengan berbagi cerita tentang karya-karya jurnalistik yang dilakukan EKORA NTT. Bagi Ijas, sebagai media, EKORA NTT berkomitmen untuk memberitakan informasi-informasi yang berpijak dan berpihak pada kepentingan publik. Pemberitaan EKORA NTT mengenai waria di Maumere adalah imperatif kategoris bagi media ini: semata-mata dilakukan karena itulah hakikat kewajiban sebuah media. Ijas berharap karya jurnalistik tentang waria di Maumere bermanfaat bagi masyarakat banyak, tertuama kelompok waria yang cenderung rentan dan termarjinalisasi.

Selanjutnya, Carlin Karmadina (anggota Komunitas KAHE) sebagai pembicara menyampaikan gagasannya yang sempat ia jadikan skripsi berjudul “Sikap Media Lokal Pada Pemberitaan Terhadap Minoritas Gender dan Seksualitas di Kabupaten Sikka: Analisis Wacana Kritis Model Teun A. Van Dijk Pada Pemberitaan Transpuan di ekorantt.com”. 

Dengan menggunakan pendekatan Teun A. Van Dijk, Carlin menganalisis sebuah tajuk berita pada laman ekorantt.com yang berjudul Saya Perempuan Yang Berkarya. Berita ini memuat tentang Mayora, salah satu waria di Kabupaten Sikka yang terlibat aktif di  berbagai kegiatan gereja. Mayora berjuang untuk menunjukkan identitasnya yang adalah seorang transpuan.

Hasil analisis Carlin menyebutkan bahwa sejauh ini pemberitaan mengenai isu keberagaman mempunyai tone positif sekalipun penerimaan terhadap Kelompok Minoritas Gender dan Seksualitas masih sangat terbatas. Menurutnya, media mempunyai kontribusi besar terhadap penerimaan kelompok ini di masyarakat. Apabila narasi yang terkandung dalam berita mengenai kelompok minoritas gender dan seksulaitas diskriminatif atau stigmatis, keraguan dan penolakan pun akan tumbuh subur di masyarakat.

Ebed De Rosary (wartawan) berbagi pengalamannya ketika meliput berita mengenai isu keberagaman.

Dia bercerita bahwa meliput berita mengenai Mayora adalah pengalaman pertamanya membahas isu gender dan seksualitas. Dari pengalamannya, dia mempelajari bahwa pilihan kata atau diksi amat perlu diperhatikan.  Menurutnya, media saat ini cenderung kurang memperhatikan kemampuan para wartawan dalam meliput berita sehingga menghasilkan berita yang kurang berkualitas. Hal yang menurutnya miris adalah dampak dari kemajuan teknologi dan komunikasi mempermudah orang untuk mengarang berita, menyalin ulang berita dari berbagai sumber tanpa harus turun lapangan.

Para partisipan dari kalangan mahasiswa juga mengemukakan pandangan mereka terhadap pemberitaan yang menyudutkan waria.

Fr. Paul Tukan, SVD (mahasiswa IFTK-Ledalero) menyanggah tanggapan Carlin berkaitan dengan pilihan kata kelompok minoritas gender dan seksualitas. Media sebagai penjaga marwah nalar publik harusnya bisa mendeskripsikan sesuatu hal secara konkret, jelas, dan terus terang.

Menurutnya, penghalusan  bahasa atau eufemisme yang Carlin lakukan kurang tepat dalam konteks ini. Hal ini seolah-olah membungkam maksud yang sebenarnya ingin disampaikan. Berbagai pandangan, komentar, serta kritik dan saran menjadikan diskusi ini semakin menarik. Peserta lain pun tidak sabar untuk mengungkapkan pendapat mereka.

Mayora juga menyoroti soal berita yang berjudul Waspada: Waria Kabupaten Sikka Buka Profesi Jual Diri. Dia mengungkapkan bahwa berita tersebut dipublikasi tanpa adanya wawancara dengan pihak waria. Berita tersebut terlalu menyudutkan kelompok waria karena membangun citra buruk kelompok waria di masyarakat.

Mayora juga menambahkan sebaiknya pemberitaan itu memfokuskan pada peristiwa yang terjadi bukan pada gender atau orientasi seksual karena itu adalah wilayah privat.

Yulius, aktivis dari PBH Nusra (Perhimpunan Bantuan Hukum Nusa Tenggara) mengutarakan perlu ada ruang khusus untuk meliput dan membicarakan soal isu keberagaman di media. Dia menyarankan kepada para wartawan untuk memberikan pelatihan jurnalistik khusus bagi waria sehingga mereka mempunyai tempat menyampaikan pandangan dan pengalaman mereka. Yulius secara tidak langsung mengkritisi sekaligus memberi saran terhadap kinerja kerja para jurnalis.

Mendengar hal yang disampaikan Yulius, Sidhi salah satu aktivis dari Bali berpendapat bahwa media juga perlu memperhatikan soal pemberitaan terhadap kelompok rentan. Pemberitaan yang dimuat sebaiknya tidak melulu soal hal positif atau kegiatan positif yang dilakukan guna mengekspos eksistensi kelompok rentan tetapi juga soal kebijakan birokrasi yang terkesan kurang memperhatikan kebutuhan kelompok rentan. 

Antusiasme para peserta membuat waktu seolah-olah terlupakan. Kegiatan diskusi ini telah sampai pada penghujung acara. Merasa ada yang terlewatkan, Rini Kartini, seorang dosen Ilmu Komunikasi ngotot ingin bicara. Dia gelisah soal posisi wanita dalam masyarakat yang adalah juga kelompok rentan.

Rini Kartini gelisah terhadap kenyataan minimnya jurnalis perempuan di Maumere. Foto: Eka Putra Nggalu/Dokumentasi Komunitas KAHE.

Dia menegaskan, wanita juga seringkali mengalami tindakan diskriminatif akibat stigma yang ada di masyarakat. Dia juga merasa profesi jurnalis di Maumere masih dikuasai oleh laki-laki. Ia membayangkan dan mendorong forum mengupayakan hadirnya jurnalis-jurnalis perempuan yang bermutu. Dengan begitu, perspektif dan wacana yang disebarkan di media menjadi kian beragam dan tidak bias gender. Sebagai dosen, kenyataan ini adalah otokritik baginya dan bagi institusi pendidikan yang belum cukup mampu melahirkan jurnalis-jurnalis perempuan yang bermutu.

Kegiatan diskusi yang berlangsung selama kurang lebih tiga jam ini memberikan perspektif baru mengenai kelompok minoritas gender dan seksualitas. Kelompok ini adalah kelompok rentan tetapi memiliki modal sosial dan kultural yang amat besar.

Media sebagai penjaga marwah nalar publik diharapkan bisa menyampaikan pandangan, memberikan tempat, dan menceritakan pengalaman yang baik dari kelompok minoritas gender dan seksualitas yang ada di Maumere. Tujuannya tidak sekedar supaya kelompok ini diterima oleh masyarakat, tetapi juga demi advokasi yang lebih jauh dan mendalam, yaitu soal akses dan partisipasi pada kebijakan-kebijakan publik.

Bagikan Postingan

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Kalender Postingan

Rabu, Mei 22nd