Aktivisme Seni TrotoArt dan Politik Ruang di Penjaringan

 

Bersama Bang Joni dari TrotoArt dan Mbak Rina yang sudah mengelola TK Gelora Bangsa selama lebih dari dua puluh dua tahun, Eka Nggalu dan Mario Nuwa berbincang mengenai bagaimana kompleksitas lingkungan dan masyarakat di Penjaringan, Jakarta Utara memotivasi bang Joni dan teman-teman Trotoart untuk mengativasi ruang-ruang publik dan kegiatan sosial kemasyarakatan bersama dengan Mbak Rina yang turut mencerdaskan kehidupan masyarakat Penjaringan melalui TK Gelora Bangsa.

 

Eka: Saat ini kami sedang rintis jurnal online. Lalu, temanya itu cukup menyentil. Ekspresi Politik/Politik Ekspresi. Menurut kami, kayaknya Bang Joni asyik untuk diajak mengobrol soal TrotoArt, terutama soal pengelolaannya. Bagaimana ruang dan politik ekspresi/ekspresi politik terutama yang berkaitan dengan penjaringan itu, karya-karyanya Bang Joni supaya teman-teman di Timur juga tahu bahwa ada estetika atau bentuk aktivisme berbasis seni seperti yang dikerjakan Bang Joni. Kami sebenarnya sedang kesepian jadi ingin cari teman ngobrol.

Bang Joni: Jadi ini Zoom berkedok curhat, ya? Inisiatifnya keren ini.

Eka: Biar kami kalau capek jadi ingat Bang Joni di sana yang lagi semangat jadi kami jangan kendor.

Bang Joni: Saya sudah sepuh, umurnya hampir 50.

Eka: Kami ingin dengar bagaimana awalnya TrotoArt dirintis, cerita soal Penjaringan dan TrotoArt pada saat awalnya dirintis dulu. Kemudian apa saja yang mendorong Ogud dan teman-teman percaya bahwa kita mesti bikin satu ruang bersama untuk aktivitas-aktivitas kita dan lebih jauh untuk hidup kita bersama.

Bang Joni: Terima kasih, Bung Eka dan Rio untuk kepercayaannya dan sudah memberi saya kesempatan. Di Indonesia ini sebenarnya banyak sekali Joni-Joni lain. Saya ini cuma salah satu saja yang iseng-iseng tanggap saja.

Saya dan teman-teman saya ini pada awalnya merupakan para pelukis jalanan dengan basic pelukis foto atau potret yang sehari-hari mangkal di trotoar sepanjang jalan protokol, di depan museum Fatahilah. Aktivitas kami setiap pagi memajang lukisan, lalu melakukan demo melukis untuk meraih konsumen yang lalu-lalang di jalan protokol tersebut, dan setiap jam lima sore kami tutup, lalu angkut semua lukisan ke salah satu gudang yang ada di wilayah kota tua. Itu rutinitas kami selama bertahun-tahun sejak awal tahun 80-an.

Pada suatu waktu, saya berpikir dan kemudian menyampaikan ke salah satu teman saya bahwa saya mau berhenti mangkal di trotoar. Saat itu, posisinya saya sedang kontrak rumah di daerah pemukiman yang ada di Jakarta Utara, tepatnya daerah Kampung Baru, Kubur Koja, Penjaringan. Itu di ujung Jakarta Utara. Di situ, kami melihat bahwa aktivitas anak-anak, remaja, dan orang-orang dewasa yang ada di usia-usia produktif itu tidak wajar. Di situlah saya memutuskan untuk tidak lagi mencari nafkah dari melukis, dari mangkal itu. Akhirnya saya coba menghibahkan lahir batin saya untuk masyarakat di situ. Tapi dengan cara apa selain saya mangkal? Saat sedang berpikir soal itu, salah satu teman kami, Bung Oskar, dari ruangrupa yang ditugaskan oleh Ade Darmawan untuk bertemu dengan saya.

Saya kemudian dibawa bertemu dengan Ade Darmawan dan Hafis Forum Lenteng. Ada dua poin yang dibahas saat itu. Pertama, mereka mau membuat sebuah komunitas yang namanya ruangrupa. Kedua mereka menawarkan program JakArt. Saya diberi satu kesempatan untuk membuat satu program, yaitu mural yang terdiri dari 18 peserta yang ada di Indonesia.

Program JakArt itu sendiri sebenarnya menampilkan pentas seni apa saja yang ada di Indonesia seperti musik (pop, rock, dangdut, kasidah), seni rupa (mural, pameran interior, kriya), dan banyal hal lainnya. Salah satu dari 18 peserta mural itu, kami salah satunya. Namun, syarat untuk berpartisipasi dalam JakArt itu, kami mesti punya legalitas komunitas, organisasi, atau instansi. Saat itu, saya baru mau keluar dari mangkal di jalan Pintu Besar itu. Saya gagap soal hal-hal seperti ini. Namun, di sisi lain, kami diberi semacam wacana soal yang struktural, legal, dan manajerial. Waktu itu, spontan saya dengan teman sekontrakan saya, Sobirin, menerima tawaran Ade Darmawan dari ruangrupa. Saat itu saya putuskan untuk memberi nama komunitas itu TrotoArt. Nama TrotoArt itu sendiri berasal dari aktivitas mangkal kami, melukis di pinggir jalan. Lalu, saya tambahkan ‘t’ di akhir kata ‘Trotoar’ itu menjadi Trotoart. Trotoart itu sendiri adalah pelaku seni yang ada di pinggir jalan. Penggagasnya, pembuat nama, dan pembuat logonya adalah saya. Itu di tahun 1989.

Eka: Berarti setelah komunitasnya terbentuk, ikut JakArt, lalu setelah itu sudah mulai aktivitas di Penjaringan?

Bang Joni: Saat itu kami langsung mulai aktivitas di Penjaringan. Saya memulai pendekatan dengan anak-anak karena istri saya memang basic-nya adalah akademisi dari salah satu universitas swasta di Jakarta. Saya melihat latar belakang pendidikan istri saya ini sebagai indikator bahwa istri saya, Rina, bisa membuat program yang sama dengan saya. Kalau saya memang basic-nya dari sosial kemasyarakatan. Lalu, saya kumpulkan anak-anak dan pemuda-pemuda di situ untuk menginisiasi sebuah program yang namanya KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) khusus untuk anak-anak Penjaringan. Setelah kami menikah, Rina mendirikan TK Gelora Bangsa yang masih ada sampai sekarang di bawah Yayasan Gelora Bangsa dan saya dengan TrotoArt yang setelah bertahun-tahun isunya dibentuk, tahun 2013 kami legalkan dengan nama Yayasan Trotoar Semesta Raya.

Program Kegiatan Belajar Mengajar. Dokumentasi TrotoArt

Eka: Berarti apa karya pertamanya di JakArt waktu itu?

Bang Joni: Konteks saat itu kan pasca reformasi. Waktu itu kami bikun mural berukuran 12 meter yang kami bagi menjadi tiga kotak. Kotak kanan itu pra-reformasi, kotak kiri untuk pasca-reformasi, dan kotak tengah itu kondisi Indonesia yang diharapkan. Ternyata konten mural itu dilombakan.

Kami sempat didatangi perwakilan negara dan saat itu TrotoArt terekspos karena dukungan dari ruangrupa, juga karena menjadi bagian dari JakArt, dan karena memang karyanya waktu itu tepat dalam artian bahwa pra-reformasi, pasca-reformasi, dan harapan saya sebagai warga Indonesia di kondisi saat itu terpampang di 12 meter tembok tersebut. Kami menjadi juara 1 dari 18 perserta mural saat itu.

Di  kotak sebelah kiri itu ada 27 kotak catur hitam putih. Di situ ada tokoh-tokoh lintas generasi dan lintas disiplin ilmu seperti Akbar Tanjung, Megawati, Gusdur, R. A Kartini. Estetikanya jelas dan saya juga menjelaskan secara detail esensinya kepada semua pihak: pelaku seni, penikmat seni, media, dan para tamu dari dalam dan luar negeri. Itu yang menjadikan karya kami diapresiasi pemerintah dan menjadi priotitas saat itu.

Eka: Saya ingin tahu situasi atau kondisi Penjaringan yang menjadi tepat atau ekosistem kerja Bang Joni itu seperti apa? Barangkali Bang Joni bisa ceritakan pada kami lingkungan di situ.

Bang Joni: Hari ini adalah hari paling bete bagi saya. Saya masih keringatan sambal minum teh. Saya baru saja memisahkan orang yang berkelahi di samping rumah saya. Pertama, anak-anak muda. Kedua, antara saudara. Di situ saya hadir sebagai RT/RW, Lurah, Camat, pemuda, warga, seniman, dan Joni. Hal seperti ini sudah menjadi hidangan sehari-hari di sini, seperti pelaku narkoba ditangkap, anak-anak balita nongkrong sampai jam 1, 2, sampai 3 itu sudah biasa.

Sebelum Jakarta Biennale 2013, tawuran itu sudah jadi agenda Mingguan. Setiap malam Rabu dan Minggu kami tim TrotoArt yang mengurus hal-hal itu, mulai dari mengurus samurai, celurit, sampai mengurus mayat.

Kenapa saya memilih Penjaringan? Alasannya karena intensitas. Saya tinggal di sana dan keseharian saya di sana, maka saya memilih Penjaringan sebagai pijakan bagi kami TrotoArt untuk berkarya. Penjaringan adalah kanvas kami karena kanvas kami adalah lingkungan, masyarakat, konfliknya, semua yang ada di lingkungan itu. Lalu, yang kami berikan sebagai bentuk layanan kami adalah Art public sesuai dengan situasi dan kondisi riil komunitas di lingkungan di mana kami berada. Dengan konsistensi dan konsekuensi yang ada, kami tidak semata berfokus pada menampilkan estetika belaka.

Di luar estetika itu ada yang jauh lebih penting, yaitu etika. Contoh kecil, waktu JakArt kamera Jin Panji sempat dirampas di kolong tol oleh preman-preman Penjaringan. Ketika saya datang, beres. Ini bukan masalah saya ditakuti atau disegani. Seperti yang sudah saya sampaikan tadi, kami membutuhkan masyarakat dengan segala situasi riil kehidupan mereka, tetapi ini bukan untuk eksploitasi demi tujuan estetika pribadi. Ada yang jauh lebih penting dari estetika, yaitu etika tadi. Jadi, mereka bukan segan atau takut dengan saya, tetapi karena rasa saling memiliki mereka dan saya. Saya menjadi Joni, seniman, sebagai RT/RW, Lurah, Camat, Walikota, pemuda, dan warga. Dan saya masuk ke dalam persoalan-persoalan mereka. Makanya ini saya baru selesai memisahkan orang ribut besar-besaran.

Rasa saling memiliki itu yang menciptakan keseimbangan. Itu yang menjadikan Trotoart bisa berdiri sampai sekarang sudah 35 tahun meskipun tanpa funding baik dari pemda, negara, maupun swasta. Meskipun begitu, kami tetap produktif dan intensif, tetap memunculkan berbagai inisiasi dan terus bergerak.

Eka: Bagaimana Bang Joni merancang aktivitas di Trotoart untuk melibatkan orang-orang di sekelilingmu?

Bang Joni: Saya menjadi seperti mereka, sebagai pemuda, sebagai warga, sebagai RT/RW atau istilahnya birokrat-birokrat kecil, para pelaku ruang yang konteksnya kampung. Saya juga, istilahnya, sebagai konseptor, mediator, dan fasilitator. Ketika ada kegiatan yang kami inisiasi, saya tawarkan kepada mereka dan meminta tanggapan mereka. Kami hanya sebagai pemantik di sini. Biasanya, tawaran inisiasi dari kami, mereka cenderung menerima. Lalu program itu diimprovisasi oleh mereka atau jika inisiatifnya datang dari mereka, tinggal sesuaikan dengan kami.

Eka: Bisa ceritakan salah satu aktivitas yang banyak melibatkan warga di sekitar?

Bang Joni: Kami memiliki program mingguan, program bulanan, program per tiga bulan, per enam bulan, dan program per tahun. Program-program ini melibatkan sampai ratusan warga. Dan itu kami lakukan tanpa funding sampai hari ini.

Gerobak Bioskop. Dokumentasi TrotoArt

Salah satu program mingguan kami yang merupakan limpahan dari ruangrupa sebagai partner kerja sama kami adalah Gerobak Bioskop. Sejak 2013 sampai hari ini, satu-satunya komunitas di mana program Gerobak Bioskop ini masih aktif dan intens itu adalah kami. Setiap malam minggu kami memutar layer tancap dan paginya kami mengadakan senam buat ibu-ibu warga kolong dan ibu-ibu PSK.

Dokumentasi TrotoArt

Setelah senam kami mengadakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) untuk anak-anak mereka, yaitu anak-anak kolong, anak-anak sekitar kontrakan saya, dan anak-anak kolong tol. Pesertanya kurang lebih sampai empat ratus. Sampai hari ini, program ini masih berjalan.

Ketika saya diundang oleh Ahok, DKI juga mengadakan Gerobak Bioskop dengan mobil di Balai Kota. Tapi kegiatan ini berhenti setelah Ahok berhenti menjabat. Lalu, program senam kami menjadi percontohan bagi beberapa senam lainnya. Ini kan kegiatan yang murah meriah, sepele, dan sudah tidak dianggap. Kami sebenarnya mau menanamkan kesadaran bahwa sesuatu yang kecil itu bagaimana menjadi hal yang besar dengan kemasan-kemasan yang dengan manajerial yang tertib. Sebagai seniman, kita juga mesti tertib.

Saat kami mengadakan program senam itu, gegerlah satu Indonesia dan di banyak tempat program kami itu diikuti. Begitu pula dengan KBM, beberapa kelompok seniman lain sperti Gudskul juga membuat program-program serupa untuk anak-anak juga. Setiap tahun kami juga mengadakan sunatan massal untuk warga kolong hingga tiga ratus anak. Ini juga kami gratiskan untuk warga.

Eka: Menurut saya itu bukan hal yang kecil dan biasa karena tidak semua orang punya kemampuan mengorganisir dan melayani. Banyak yang mengorganisir, tetapi tidak banyak yang bersedia melayani. Saya juga ingin dengar cerita soal TK-nya Mbak Rina.

Bang Joni: Kalau untuk TK Bu Rina saya langsung ke narasumbernya.

Rina: TK itu sudah berdiri 22 tahun. Saya asli Penjaringan. Sejak kecil, dari TK, SD, SMP, saya tinggal di Penjaringan dengan orangtua. Aktivitas dan pertemanan saya juga sebagian besar terjadi di Penjaringan. Bapak saya dulu ketua RW. Lalu dibikinlah yang namanya Sekolah Gelora Bangsa. TK itu awalnya gratis untuk warga. Jadi, memang seja dulu kegiatan kita selalu bersifat sosial kemasyarakatan. Sampai hari ini juga masih seperti itu. Jadi, kalau ada yang dianggap tidak mampu, kita cari funding dari luar, misalnya dari temen-teman kuliah saya yang bersedia membayar SPP anak-anak yang kurang mampu itu.

Saya memang kegiatannya fokus dengan anak-anak usia 3-7 tahun. Kebetulan bang Joni bergerak di TrotoArt yang banyak berhubungan dengan anak-anak juga. Jadi, mau tidak mau saya menjadi support juga secara tidak langsung.

Meskipun kita suami-istri, kita tetap menjalankan aktivitas kita fokus dengan bagian masing-masing. Perbedaan pendapat itu sudah hal biasa. Saya selalu menekankan apa yang menjadi kebutuhan atau kepentingan anak-anak, makanya TrotoArt itu kan punya program KBM dan sunatan massal dengan anak-anak. KBM itu setiap minggu kegiatannya berbeda-beda. Minggu ini prakarya, minggu depan melukis, minggu depan lagi bahasa Inggris. Jadi, saya memang lebih banyak bergaul dengan anak-anak, ibu-ibu, dan pemuda di sini.

Eka: Untuk KBM, fasilitatornya dari teman-teman TrotoArt?

Rina: Iya, untuk KBM fasilitator memang dari TrotoArt. Selain itu, saat Jakarta Biennale 2013 kita berkolaborasi dengan Ikon. Kita membuat perahu yang dindingnya terbuat dari tripleks lalu di bagian dinding itu dilubangi dan dilukis berbagai tokoh seperti Soekarno, R. A Kartini sehingga anak-anak bisa masuk ke perahu dan kepalanya bisa nongol lalu lihat di kanan kirinya ada gambar-gambar itu. Yang mengecat perahu itu anak-anak sendiri. Kita akhirnya menjadi support system pada kegiatan dan program masing-masing dan jadinya saya kebablasan lalu terjerumus juga ke seni. Karena program seperti Jakarta Biennale juga pasti melibatkan Gelora Bangsa. Ayo main ke Penjaringan!

Eka: Kemarin saya sempat ngobrol sama bang Joni dan ingin ke Trotoart juga, tetapi kami dapatnya di Sumatra. Mbak Rina mau cerita apa tadi soal Penjaringan?

Rina: Penjaringan itu daerah yang unik. Penjaringan itu posisinya ada di Jakarta. Orang daerah pasti membayangkan Jakarta itu dengan kemewahannya dan glamournya. Begitu menginjak Penjaringan, pasti mereka akan menemukan sisi lain Jakarta. Beberapa teman seperti dari Gubuak Kopi, Ucin, dan Acong. Mereka yang mampir ke Penjaringan sering merasakan Penjaringan sebagai tempat yang unik dan mengherankan, meskipun bagi kami itu hal biasa. Ayo mampir ke Penjaringan nanti.

Eka: Bang Joni ini secara aktivisme dan seni juga kuat. Lalu, bagaimana sejauh ini Bang Joni berinteraksi dengan pemerintah atau negara?

Bang Joni:  Kami fleksibel saja sebetulnya. Kami menyesuaikan dengan kebutuhan kami saja. Kalau misalnya diharuskan untuk menyampaikan mengena sebuah program atau aktivasi ruang publik, saya akan temui pejabat pemerintah terkait seperti RT/RW, Lurah, Camat. Lentur saja. Ini tidak menjadi prioritas, apalagi untuk mendekat dan masuk utnuk  cari muka tipis-tipis. Maaf saja, tapi tidak bisa disangkal kalau birokrat itu kan bangsat, meskipun tidak semuanya, tapi kebanyakan begitu. Birokrat itu kan jabatan politis, bagian dari politik itu. Seni juga pada hakekatnya sama, yaitu politik yang dikemas dengan keindahan. Makanya kita harus benar-benar bisa bersiasat, apalagi kalau melibatkan publik. Kita harus menjadi panutan, walaupun sosok Joni tidak baik-baik juga. Intinya, tugasnya seniman menjadi penengah.

Eka: Kalau saat musim-musim pilkada atau pemilu begini apakah banyak anggota DPR yang mendekati Bang Joni?

Bang Joni: Kalau di Parpol itu kan ada hierarkinya, mulai dari PAC, DPC, DPD, dan DPP. Biasanya sekjen parpol-parpol itu minimal jadi Menteri kalau capres yang mereka usung menang, misalnya ketua PAN, Zulkifli Hasan yang jadi Menteri Perdagangan. Ada lima partai besar yang menawari kami posisi. PKB menawarkan Rina untuk masuk ke DPP dan saya ke PDI-P. Saya menjawab mereka, “ngurusin KBM aja udah puyeng, apalagi ngurusin parpol”.

Kalau saya orientasinya fee, materi, ekonomi, dan duniawi pasti saya sudah masuk parpol dan meninggalkan TrotoArt. Di sini bukan sekadar masalah materi. Seni itu mengukurnya tidak selalu dalam angka, kan? Seni diukur dengan rasa. Saya mungkin ekonomi sulit, tapi rasa tetap harus dijaga. Seperti yang saya sampaikan di awal, estetika perlu, tetapi etika juga tetap perlu dijaga.

Dalam kaitannya dengan parpol, prinsip saya sesuai dengan kebijakan dan kebutuhan saja. Kalau memang ada kesepakatan khusus yang tidak merusak komponen inisiasi publik, bukan soal ideologi karena idealis dan egois beda tipis. Contohnya, saya masuk ke Golkar sebagai perantara untuk memberikan bantuan, sumbangan, atau membagi sembako. Yang seperti itu saya kira tidak ada masalah. Begitu juga dengan PKB dan seminggu kemudian PDI-P. Saya masuk ke semua partai itu sebagai perantara dan akhirnya saya tetap aman.  Saya tidak berafiliasi dengan saalah satu partai karena dalam sebulan saja saya masuk ke beberapa partai itu. Ini bukan orientasi atau passion saya, tetapi sesuai kebutuhan dan negosiasi tanpa merusak inisiasi publik.

Eka: Jadi memang benar-benar menempatkan diri sebagai jembatan. Siapapun parpolnya, siapapun pemimpinnya, kalau kemudian punya manfaat untuk warga, ayo!

Bang Joni: Bahasanya dalam Tuhan, kita bersaudara. Kalau bahasa kamu tadi jarang kan yang mau dan mampu melayani karena ini soal kesadaran. Jadilah saya multiguna, multifungsi.

Eka: Selama ini apa yang paling menjadi kegelisahan Bang Joni dengan aktivitas Bang Joni? Apa yang menjadi tantangan aktivitas Bang Joni selama 35 tahun lebih ini?

Bang Joni: Kendalanya untuk aktivasi program dalam kegiatan sosial kemasyarakatan tidak bisa dipungkiri adalah anggaran. Apalagi saat pandemi kemarin, kami TrotoArt sempat tiarap, mati total karena bagaimanapun materi dan properti itu fungsional dan dibutuhkan. Itu kendalanya.

Kegelisahannya negara kadang sok kepedean, sok iye dengan segala bentuk dalihnya, dalilnya yang sebenarnya tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Sementara kami, benar-benar terjun ke lapangan dan mengetahui sisi kurang dan lebih masyarakat. Makanya, kadang saya sedih dan kecewa sama negara. Bukannya mendukung kami, kecenderungannya kami malah dijadikan kompetitor oleh pelaku birokrat kecil seperti RT, RW, Lurah. Tapi, kami sulit dibentur, karena segala sesuatu yang dari hati itu pasti abadi. Segala sesuatu yang memang bersumber dari akal menimbulkan akal-akalan dan akhirnya tidak berkepanjangan.

Dokumentasi TrotoArt

Eka: Bagaimana Bang Joni menjaga komitmen, kesatuan, dan komunikasi antara anggota-anggota dan para penggerak TrotoArt?

Bang Joni: Pertama, dari saya sendiri sebagai Joni, saya merasa memiliki warga dan seisinya. Kedua, mungkin karena ini adalah panggilan maka menanamkan kesadaran. Itu yang menjadi kekuatan kami sehingga sampai hari ini masih bertahan kurang lebih 35 tahun.

Eka: Kami KAHE merupakan komunitas yang baru. Melihat bagaimana TrotoArt sangat berakar dan punya pijakan di warga, untuk kami sesuatu yang luar biasa dan jadi semangat untuk kami. Kami sendiri ada di situasi masyarakat yang mau dibilang kota juga tidak kota, tetapi mau dibilang tidak kota tapi mulai kota. Kadang-kadang, kami merasa kesulitan menjadi pijakan kami. Namun, setelah dengar dari Bang Joni dan keyakinan-keyakinannya, ini luar biasa bagi kami.

Bang Joni: Saat saya keliling di beberapa daerah di Indonesia, saya melihat Jakarta itu multibudaya, multibahasa, multitujuan, dan karakter personal manusia-manusianya beragam. Di kanan kiri saya saja tidak semuanya saya kenal. Ada yang dari Papua, Cina, Tangerang, Banten, Jawa, Sunda. Tidak semua saya kenal, tetapi ketika kami trotoArt mengadakan sebuah program, mereka keluar semua satu kampung dan ikut serta. Artinya, Penjaringan ini adalah satu wilayah di Jakarta yang kompleksitasnya itu luar biasa. Ini bukan bermaksud membanding-bandingkan dengan tempat Bung Eka.

Menurut analisa mentah saya, masyarakat di sana lebih cepat dan lebih mudah dan lebih bisa dikelola dengan kemaslahatan umat, dengan keharmonisan, dan bisa menjalin kesolidan antara pelaku seni, penikmat seni, dan pemdanya. Tinggal Bung Eka dan Rio yang sebagai motornya tanamkan harapan, niat, dan semangat untuk merealisasikan apapun yang sifatnya bisa merangkul lingkungan, warga, dan seisinya, tetapi tidak lepas dari visi dan misi KAHE pada awalnya karena bagaimanapun, TrotoArt dan KAHE pasti beda rasa, suasana, manusianya dan lingkungannya, daerahnya, dan tujuannya juga.  Itulah kenapa waktu pertama kali kita ketemu di Gudskul, saya langsung ingin kita berkolaborasi.  Saya sangat berharap kita ada sinergi apa saja antara TrotoArt dan KAHE.

Sudah setahun ini saya ditunjuk Kemendikbudristek menangani dua wilayah, Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu, untuk menangani program olah rasa yang seratus persen juga dilakukan TrotoArt. Bagaimana kalau program TrotoArt ini kita kembangkan di KAHE? Tentunya dengan melihat kondisi dan kebutuhan lingkungan dan seisianya. Artinya, kita jangan memaksakan, kita wacanakan saja dulu.

Eka: Pada dasarnya kami sangat terbuka sama kemungkinan untuk bersinergi dan berkolaborasi. Itu hal yang bagus sekali. Kami juga butuh banyak belajar dari konteks yang lain. Sepertinya, kita memang harus lebih banyak ngobrol soal ini.

Bang Joni: Di luar program olah rasa Kemendikbudristek dan program TrotoArt ke Kalimantan dan Papua, kami juga bekerja sama dengan salah satu komunitas literasi yang programnya mengumpulkan sepuluh ribu buku untuk Indonesia timur. Salah satunya ada daerahnya Bung Eka. TrotoArt juga sebagai salah satu penggeraknya.

Sebenarnya, di sini masalahnya bukan soal potensi, tapi lebih arahnya lebih ke tujuan. Tujuan kita bergerak itu untuk apa? Kalau saya, sudah sering saya sampaikan di mana-mana, orientasinya warga. Saya bisa bekerja dengan siapapun, di manapun, kecuali kalau programnya berkaitan dengan konteks keagamaan karena saya agamanya kemesraan.

Eka: Agamanya universal, semesta. Pada akhirnya, kita juga sama. Kalau memang itu untuk warga dan kemudian orientasinya jelas, kenapa tidak? Kami pada dasarnya kesepian, jadi butuh banyak ngobrol dengan senior seperti Bang Joni, biar kalau lagi capek beraktivitas kita ingat Bang Joni yang juga mengerjakan hal yang sama dengan kami. 

Mario: Kami butuh energinya bang Joni untuk kami. Saya ingin mampir juga nanti ke Penjaringan.

Bang Joni: Kapan TrotoArt diundang ke KAHE? Di Solo kami bisa berminggu-minggu survey, yang penting kita menjalankan programnya. Kalau sampai tidak terjadi, saya merasa kehilangan satu saudara di timur, yaitu KAHE.

Eka: Kita bisa pikirkan ini bareng-bareng. Intinya kalau Bang Joni sudah sampai di Maumere, Bang Joni tidak akan kesulitan tempat berteduh dan makan minum.

Tidak terasa ini kita sudah ngobrol sejam lebih. Terima kasih banyak, bang Joni. Selamat menyambut Lebaran.

Bang Joni: Amin. Terima kasih. Salam hormat buat Bung Eka, Bung Rio, dan keluarga KAHE, dan semua keluarga di sana. Semoga kita menjadi satu ikatan persaudaraan yang berkepanjangan. Semoga Tuhan memberikan berkat untuk kita semua. Amin.

Bagikan Postingan

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Kalender Postingan

Jumat, Februari 23rd