Lubang Hitam dalam “Malam Seribu Jahanam”

Terjebak di antara perjalanan menelusuri rahasia-rahasia kelam keluarga dan ingatan-ingatan mengenai ramalan sang nenek, Mutiara, Maya, dan Annisa dihadapkan pada pilihan-pilihan dilematis antara berdiri tegar sambil berpegang teguh pada keyakinan mereka tentang surga, keluarga, dan cinta atau runtuh dan hancur berkeping-keping, lalu kehilangan pijakan mereka masing-masing.

Mutiara – sang penjaga – merawat yang hidup dan mengantar dan memakamkan yang wafat. Begitu terus sepanjang hidupnya sampai ia harus membawa pulang abu adiknya, Annisa dan anak perempuan Annisa, sebagai pelaku bom bunuh diri. Siapakah Annisa sebenarnya? Adik manis yang begitu dicintainya atau pelaku bom bunuh diri terkutuk?

Maya – sang pengelana – menjelajahi lorong-lorong dan jalan-jalan tikus di berbagai penjuru dunia untuk mencari apa sebetulnya yang dimaksud Victoria ketika mengatakan “Kau, di atas perahu, bersama buku-buku.” Maya suka membaca dan menulis. Namun, dia tidak pernah yakin ke mana semua itu akan membawanya.

Annisa – sang pengantin – adalah kesayangan semua orang. Dara yang selalu bermimpi menjadi putri dengan gaun putih berkilau yang akan dinikahi oleh pangeran, tapi kemudian menjadi pengantin berdarah yang melilit bom di tubuhnya bersama sang anak lalu meledakkan diri bersama orang-orang tak bersalah yang bahkan tak mengenalnya.

Masa lalu

Membaca Malam Seribu Jahanam membuat pikiran saya tidak dapat lepas dari tiga hal ini: masa lalu, fiksi, dan identitas. Salah satu komentar di sampul belakang buku mengatakan bahwa Malam Seribu Jahanam adalah “sebuah renungan tentang praktik beragama, retakan, dan reruntuhan kelas menengah, serta rapuhnya persaudaraan.”  Namun, bagaimana hal-hal itu berkelindan dalam diri para tokoh? Mengapa praktik beragama bisa menjadi tameng yang begitu kuat sekaligus mudah hancur pada waktu yang sama? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang kemudian kembali menuntun saya kepada tiga hal di atas: masa lalu, fiksi, dan identitas.

Hidup sebagai tiga bersaudara yang dibesarkan oleh orang tua yang sama di dalam rumah yang sama tidak lantas menciptakan masa lalu yang seragam bagi Mutiara, Maya, dan Annisa. Di bawah bayang-bayang ramalan sang nenek, Victoria, masa lalu menjadi titik mulai sekaligus tujuan pencarian tiga dara. Mutiara, sang penjaga, mendampingi kedua orang tuanya hingga memakamkan mereka, mengurus pernikahan adiknya, dan membawa pulang abu adik dan ponakannya yang melakukan aksi bom bunuh diri. Bagaimana mungkin Annisa menjadi monster mengerikan seperti itu? Sosok itu bukan Annisa yang dikenal Mutiara. Apakah ada yang Mutiara lewatkan dari masa-masa bersama Annisa sehingga dia tidak mampu memahami apa yang Annisa lakukan?

Maya, sang pengelana, adalah sosok abu-abu di dalam keluarga. Dia bukan anak pertama yang berperan penting mengurusi adik-adiknya juga bukan anak bungsu yang disayang semua orang. Di suatu masa, Maya mesti “dipindahkan” sementara di rumah neneknya karena dia belum bisa mengurusi adik dan ibunya seperti Mutiara, tetapi sudah cukup dewasa untuk jauh dari ayah dan ibunya. Semuanya diputuskan tanpa meminta pendapatnya. Maka berkelana keliling dunia adalah pilihan yang paling tepat baginya. Di suatu tempat di dunia ini, Maya yakin akan menemukan bahwa dirinya penting, berharga, dan dicintai.

Annisa, sang pengantin, putri kecil yang menjadi kesayangan semua orang. Dia menikah dan memiliki anak lebih dahulu dari kedua kakaknya. Sesuai impiannya sejak kecil, Annisa menikah dibalut gaun putih berkilau dengan hiasan bunga-bunga putih menjulur dari atas kepalanya, seperti seorang putri. Namun, di suatu masa Annisa menemukan dirinya hancur berkeping-keping. Meskipun sudah berusaha dikubur dalam-dalam, Annisa kecil terus berontak mencari cara menyatukan kembali pecahan-pecahan dirinya. Annisa menghancurkan tubuhnya dengan bom karena dia tahu cuma itu satu-satunya cara dia kembali menjadi utuh.

Dalam Malam Seribu Jahanam, masa lalu ketiga tokoh ini menjadi penentu bagi perjalanan kehidupan mereka. Bahkan, rahasia-rahasia dari masa lalu yang berusaha mereka sembunyikan dan abaikan pada akhirnya menarik mereka bertiga kembali. Gagasan mengenai bagaimana masa lalu mempengaruhi kehidupan Mutiara, Maya, dan Annisa ini sejalan dengan apa yang diungkapkan Freud ketika mengamati pasien-pasiennya yang menderita neurosis obsesif.

Berbagai bentuk tindakan obsesif yang dilakukan senantiasa disertai perasaan takut atau juga gelisah apabila tidak dilakukan dengan tepat. Jika tidak dilakukan, akan timbul rasa bersalah yang luar biasa pada diri seorang dengan neurosis obsesif. Rasa bersalah ini bersumber dari pengalaman-pengalaman di masa lalu terutama yang memiliki efek emosional pada seseorang dan pengalaman ini senantiasa muncul kembali ketika ada pemicu yang mampu membuat seseorang mengingat lagi pengalaman tersebut. Lama-kelamaan, hal ini tidak lagi bisa direpresi sehingga kemudian menimbulkan tindakan-tindakan obsesif dalam berbagai bentuk sesuai dengan pengalaman pada masa lalu.

Annisa yang membantu ibunya mengakhiri hidupnya, Maya yang tidak pernah merasa memiliki arti penting dalam keluarga, dan Annisa dihantui rasa bersalah karena keutuhannya sebagai perempuan telah hancur, berusaha hidup dalam keteraturan semu (perilaku obsesif) untuk terus meyakinkan diri mereka bahwa mereka melakukan sesuatu yang tepat. Tidak ada yang salah dengan kehidupan mereka masing-masing. Yang telah berlalu biarlah tetap dikubur dalam gelap.

Fiksi

Sebagai bagian penting dari kehidupan Mutiara, Maya, dan Annisa, masa lalu mereka bertiga hadir secara fiksional. Representasi fiksional ini semakin diperkuat dengan ramalan sang nenek. Penjaga, pengelana, dan pengantin adalah sosok-sosok fiktif yang disematkan Victoria pada ketiga cucunya. Namun, apa sesungguhnya penjaga, pengelana, dan pengantin yang dimaksudkan Victoria tidak dijelaskan. Ketiga cucunya kemudian menafsirkannya sendiri dan terus meyakinkan diri mereka bahwa memang seperti itulah mereka bertiga. Mutiara sang penjaga, Maya sang pengelana, dan Annisa sang pengantin.

Kelindan antara dunia fiksi dan kenyataan yang terjadi dalam kehidupan merupakan mekanisme yang yang lumrah. Kendall Walton dalam bukunya Mimesis as Make-Believe (1990) menjelaskan bahwa pemahaman dan pemaknaan kita terhadap fiksi disusupi oleh apa yang kita alami dan yakini.

Mekanisme penyusupan ini menyebabkan kita memberi makna pada dunia fiksi sesuai dengan pengalaman duniawi kita. Karena sejak kecil selalu mendapat kepercayaan mengurusi adik-adiknya, membantu sang ayah menjaga ibunya, dan mengambil alih tugas sang ibu, Mutiara menyimpulkan bahwa dia memang adalah seorang penjaga. Dia yang harus bertanggung jawab penuh dalam mengurus keluarganya. Maya yang sejak kecil tidak terlalu diperhatikan, yakin bahwa tempatnya memang bukan di rumah. Dia mesti pergi menjelajah untuk menemukan “tempatnya.” Annisa yang sejak kecil dimanja sebagai putri kecil kemudian tumbuh dengan keyakinan bahwa dia adalah tuan putri yang akan dinikahi seorang pangeran tampan.

Namun, ketika Annisa menyadari bahwa dirinya yang sudah hancur, tidak dapat menjadi utuh lagi, dan bahwa nilainya sebagai seorang perempuan dan istri hanya ditentukan berdasarkan amal ibadah suaminya, Annisa sang putri ingin melarikan diri dan menghancurkan istana yang dibangun para lelaki untuknya: ayahnya, mantan kekasihnya, dan suaminya.

Ketika mendapat kabar mengenai Annisa yang meledakkan dirinya bersama suami dan kedua anaknya, apa yang diyakini Mutiara hancur berkeping-keping dan kompas yang menuntun Maya tidak lagi dapat membantunya menemukan arah yang dituju. Annisa kemudian berkelana ke negeri impiannya. Maya kembali pulang ke rumah. Ketiganya menemukan bahwa negeri dongeng tempat mereka tinggal ternyata hanya ilusi yang memenjarakan mereka selama ini.

Identitas

Masa lalu dan karakter fiksi ciptaan Victoria bagi ketiga cucunya juga adalah identitas yang Mutiara, Maya, dan Annisa lekatkan pada diri mereka. Namun, ketika semua itu hancur berantakan, apakah identitas ketiganya juga rusak? Siapa yang sebenarnya mesti menjawab pertanyaan “siapakah aku?” bagi ketiganya? Pengalaman dan keyakinan personal tidak akan memadai untuk menjawab pertanyaan tersebut. Mutiara, Maya, dan Annisa adalah bagian dari kebudayaan yang dihidupi oleh suatu komunitas. Di sini, agama menjadi salah satu produk kebudayaan yang memainkan peran penting dalam membentuk baik identitas personal, maupun identitas kolektif.

Agama tidak saja memberikan petunjuk mengenai bagaimana memaknai hidup, tetapi terutama mengatur pembatasan terhadap pemenuhan dorongan-dorongan insting manusia. Pikiran dan mental manusia mengalami perkembangan sebagaimana juga terjadi pada ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kemajuan dalam kondisi mental manusia dapat dilihat dengan jelas melalui proses internalisasi larangan-larangan untuk memenuhi dorongan-dorongan insting. Larangan-larangan tersebut, yang semula berasal dari luar, berkembang menjadi sesuatu yang berasal dari dalam melalui internalisasi yang dilakukan oleh instansi mental manusia yang dikenal dengan hati nurani. Hati nurani merupakan aset budaya yang berharga dalam kaitannya dengan aspek psikis setiap individu. Perlahan-lahan, hati nurani kemudian berubah menjadi penanda unik, tidak saja bagi individu, tetapi juga bagi para pemeluk agama secara kolektif.

Meskipun dalam setiap agama terdapat aturan-aturan yang mesti dilaksanakan oleh seluruh pemeluk agama sebagai perwujudan identitas kolektif, ada juga sejumlah peraturan yang hanya berlaku bagi sebagian orang saja, sementara pada sebagian yang lain aturan tersebut sama sekali tidak berlaku. Ketika agama tidak dapat menjamin bahwa pemenuhan keinginan kelompok tertentu tidak akan menyebabkan kelompok lain mengorbankan pemenuhan keinginan mereka, muncul perlawanan dari pihak yang merasa dirugikan untuk menentang penghayatan agama yang menciptakan kondisi demikian.

Dalam Malam Seribu Jahaman, sosok Rohadi/Rosalinda sebagai tampil sebagai “saudara tiri buruk rupa” yang memulai revolusi terhadap nilai-nilai agama yang ternyata tidak memadai untuk menciptakan kebaikan bagi semua orang dan justru berubah menjadi sumber kekerasan dan diskriminasi bagi mereka yang memiliki identitas yang tidak diakui agama.

Selain ketiga cucu, Rohadi juga mendapat ramalan Victoria. Rohadi, sang pendongeng. Namun, Rohadi menolak ilmu manusia harimau yang ingin diturunkan Victoria padanya. Ia memilih menjadi Rosalinda sang pendongeng. Ia menulis ulang kisah tiga dara versinya, versi yang justru hilang dari masa lalu tiga dara dan tidak ada dalam negeri dongeng tempat meraka tinggal. Dengan berganti rupa sebagai Rosalinda yang mendongeng dari panggung ke panggung, Rohadi/Rosalinda menegaskan kembali kerentanan dan paradoks dunia fiksi yang menyokong kehidupan tiga dara sebagai tiang-tiang yang begitu kokoh sekaligus sangat rapuh dan mudah dibongkar pasang.

Lubang hitam Malam Seribu Jahanam

Dalam salah satu tulisannya yang masih kontroversial hingga saat ini, Freud menyatakan bahwa agama adalah ilusi. Karakteristik utama ilusi yang dimaksud freud adalah pendasarannya pada pemenuhan keinginan manusia. Hal ini mirip dengan delusi. Namun, delusi sama sekali tidak berdasar dan bertolak belakang dengan realitas. Sementara itu, ilusi tidak selamanya merupakan hal yang salah atau tidak sesuai dengan realitas, karena ada ilusi yang dapat menjadi kenyataan. Ilusi lebih dekat dengan keyakinan pada kemungkinan mengenai kebenaran dari sesuatu. Contohnya seperti Annisa kecil yang memiliki ilusi bahwa suatu saat ia akan bertemu dengan seorang pangeran tampan yang akan menikahinya. Hal ini tidak sepenuhnya keliru dan juga tidak sepenuhnya benar, tetapi menjadi keyakinan sang Annisa.  Dengan demikian, sebuah kepercayaan atau keyakinan dikatakan sebagai sebuah ilusi apabila pemenuhan keinginan menjadi faktor yang paling menonjol dalam motivasinya dan mengabaikan hubungan dengan realitas sebagaimana ilusi itu sendiri tidak menyediakan ruang untuk verifikasi terhadap klaim-klaimnya.

Keyakinan atau yang dalam beberapa agama disebut sebagai ‘iman’ adalah salah satu keutamaan yang mesti dimiliki setiap pemeluk agama. Agama bergantung pada iman para pemeluknya. Namun, yang jarang disoroti atau barangkali takut untuk diperbincangkan adalah kenyataan bahwa keyakinan atau ‘iman’ itu adalah sebuah gagasan, sebuah fiksi yang dihidupi para pemilik keyakinan atau pemeluk agama. Sebagai fiksi yang senantiasa mempengaruhi pikiran dan perilaku, kepercayaan atau iman seseorang mengenai apapun, seperti keselamatan, kebahagiaan, cinta, surga, hanya dapat bertahan selama didukung oleh pengalaman-pengalaman duniawi yang relevan. Ketika tidak ada referensi material yang memadai bagi sebuah keyakinan, ia menjadi lubang hitam yang menganga, yang siap menelan mereka yang bergantung pada keyakinan tersebut.

Inilah horor yang ditawarkan Malam Seribu Jahanam lewat kisah tokoh-tokohnya. Mereka tahu di hadapan mereka ada lubang hitam menganga dan sepanjang hidup mereka berusaha menambal-sulam lukisan lubang hitam itu agar tidak kelihatan. Usaha menyingkirkan lubang hitam itu membuat Mutiara bersedia menjadi sang Penjaga untuk terus meyakinkan dirinya bahwa ia bukan pembunuh ibunya.

Maya berusaha menutupi lubang hitam itu dengan terus berkelana sambil menulis untuk meyakinkan dirinya bahwa dia berarti sekalipun hanya lewat tulisan-tulisannya. Annisa meledakkan dirinya karena dia yakin keselamatan yang dia peroleh tidak bergantung dari amal ibadah suaminya. Dia bisa menentukan sendiri nilainya sebagai seorang putri yang tidak bercela.

Lewat tokoh-tokoh utama yang didominasi oleh para wanita dan seorang transpuan, Malam Seribu Jahanam menawarkan gagasan pembebasan bagi para wanita. Nilai kewanitaan, moralitas, norma-norma sosial merupakan politik di balik pilihan-pilihan yang dibuat para tokoh. Selama hidupnya, nilai-nilai dan norma-norma tersebut membuat para tokoh terkungkung dalam model ekspresi yang harus sesuai dengan format yang berlaku. Bahkan, Maya yang berusaha memberontak dari ideal wanita muslim yang soleha, tetap dihantui rasa bersalah. Annisa yang tidak lagi perawan ketika menikah akhirnya memilih melakukan bom bunuh diri demi meretas jalan menuju surga tanpa bergantung pada suaminya.

Jika memang gagasan-gagasan di atas adalah apa yang coba Malam Seribu Jahanam tawarkan sebagai permenungan, maka pembacaan terhadap Malam Seribu Jahanam sebagai sebuah dokumentasi dan sebagai sebuah refleksi atau catatan kritis mesti benar-benar dibedakan karena implikasi kedua pembacaan menjadi sangat penting.

Sebagai sebuah dokumentasi atas praktik sosio-kultural yang menindas perempuan, terutama dalam kaitannya dengan praktik beragama, Malam Seribu Jahanam merupakan fragmen penting mengenai apa yang terjadi pada rentang waktu tertentu di Indonesia.  Malam Seribu Jahanam adalah salah satu suara mengenai praktik beragama yang menempatkan perempuan dalam posisi yang selalu tertindas. Dalam banyak kesempatan, tuduhan terhadap budaya patriarki sebagai sumber penindasan dan kekerasan ini  sudah sering dilancarkan. Meskipun demikian, justru disinilah letak lubang hitam Malam Seribu Jahanam yang jika tidak secara hati-hati dibaca malah justru akan menelan kita ke dalam kegelapan lain, yakni reproduksi dikotomi yang bisa terus menindas siapa saja.

Sebagai sebuah refleksi dan catatan kritis atas praktik sosio-kultural, Malam Seribu Jahanam justru kembali mereproduksi fiksi mengenai konsep penindasan klasik. Laki-laki lewat budaya patriarki adalah penindas dan perempuan adalah korban. Jika kita kembali pada gagasan Kendall Walton mengenai prinsip realitas (reality principle) dan prinsip keyakinan timbal-balik (mutual belief principle) atau apa yang disebut Tamar Gendler sebagai penularan imajinatif (imaginative contagion), Malam Seribu Jahanam bisa jadi justru semakin memperkuat dan menularkan keyakinan bahwa memang pada dasarnya penindasan itu selalu dan akan terus dilakukan oleh laki-laki atau demi nilai-nilai yang membela laki-laki pada perempuan. Sebagaimana ramalan sang nenek membentuk identitas para cucunya, Malam Seribu Jahanam juga dapat menyusupi keyakinan kita terutama sebagai acuan untuk pembentukan identitas individual dan kolektif.

Perlawanan terhadap kekerasan, penindasan, dan diskriminasi saat ini tidak akan memadai  jika selalu dilihat dalam kerangka dikotomis: laki-laki sebagai pelaku dan perempuan sebagai korban. Perspektif biner ini mesti diperluas, sehingga lebih banyak suara dapat direkam dalam lanskap praktik beragama yang menindas. Memperluas cakrawala pengamatan juga akan membantu melihat hubungan, gesekan, dan tautan yang menciptakan berbagai bentuk  kekerasan, penindasan, dan diskriminasi yang terjadi saat ini.

Mutiara dan Maya berusaha memahami alasan mengapa Annisa berani meledakkan dirinya dan anaknya. Dan ternyata ada rahasia-rahasia yang tidak pernah dibayangkan Mutiara karena hidup Mutiara tertuju pada melakukan apa yang benar dan baik, serta menghindari yang salah dan jahat. Pencarian terhadap alasan mengapa praktik beragama justru malah menindas juga mesti dihindari dari dikotomi yang sempit yang justru semakin menguatkan praktik-praktik penindasan itu sendiri. Jika tidak, pilihan terbaik kita adalah seperti yang Rohadi lakukan. Lubang hitam itu tidak perlu ditutup-tutupi. Dia hanya perlu merias sekeliling lubang hitam itu dengan warna-warni yang disukainya, membiarkan lubang hitam itu tetap ada di sana, hitam pekat dan dingin, tapi tetap cantik, berkilau, mempesona, sekaligus penuh teka-teki.

Bagikan Postingan

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Kalender Postingan

Rabu, Mei 22nd