Meretas Keterbatasan melalui Jamming Sastra

 

Empat puluh sembilan tahun lalu, tepatnya pada 11 Agustus 1973, di sebuah ruangan rekreasi apartemen kelas menengah di Bronx, New York, Clive Campbell atau yang lebih dikenal dengan nama DJ Kool Herc tidak pernah menyangka bahwa sebuah “back to school jam” yang diadakan bersama dengan adiknya akan menjadi sebuah sebuah sub-kultur dan gerakan kebudayaan yang mendunia.  Jamming Party yang dimaksudkan untuk membantu adiknya membeli seragam sekolah ini kemudian berubah menjadi simbol yang menandai sebuah pergerakan massa. Dari sebuah pesta untuk anak muda, “back to school jam” menjadi sebuah gerakan sosial dan kebudayaan yang kemudian dikenal sebagai musik hip-hop.

Kemunculan musik hip-hop sebagai sebuah gerakan sosio-kultural sebetulnya bukan sesuatu yang aneh sama sekali. Kota New York pada tahun 1970-an mengalami krisis ekonomi yang parah sebagai akibat dari industri manufaktur dan pembangunan jalan tol yang melewati Bronx. Untuk menghindari kesulitan ekonomi di tengah kota New York saat itu, orang-orang kulit putih beramai-ramai pindah ke pinggiran kota, termasuk ke Bronx. Migrasi ini kemudian menggeser penduduk Bronx yang sebagian besar berasal dari komunitas Afrika-Amerika, Puerto Rico, dan Karibia.

Pada saat yang sama, sebagian besar bisnis tutup karena bangkrut. Banyak warga kehilangan pekerjaan dan akses kepada berbagai fasilitas publik. Orang-orang kulit putih yang pindah dari tengah kota New York tetap bisa bekerja dan menikmati akses ke berbagai fasilitas publik seperti sekolah, tempat hiburan, dan fasilitas kesehatan. Dari konteks inilah musik hip-hop lahir. Keterbatasan akses anak-anak muda dari komunitas Afrika-Amerika kepada berbagai fasilitas publik menyebabkan mereka memanfaatkan infrastruktur yang terbengkalai dan juga ikatan persaudaraan sebagai satu komunitas, untuk menciptakan ruang di mana mereka bisa mengekspresikan diri mereka, menikmati hiburan yang bisa diakses dengan mudah, dan sekaligus menghasilkan uang untuk bertahan hidup saat itu.

Apa yang dilakukan DJ Kool Herc sebagai respon terhadap situasi sosio-ekonomi dan sosio-kultural saat itu dapat dilihat sebagai sebuah contoh pemanfaatan modal-modal sosial dan kultural yang diperkenalkan oleh seorang sosiolog Perancis, Pierre Bourdieu. Menurut Bourdieu, modal tidak hanya bersifat ekonomi. Interaksi dan pertukaran sosial tidak sepenuhnya berorientasi pada diri sendiri dan laba (Bourdieu, 1986: 241).

Bourdieu melihat modal sosial sebagai milik individu, bukan kolektif, yang terutama berasal dari posisi dan status sosial seseorang. Modal sosial memungkinkan seseorang untuk mengerahkan kekuatan pada kelompok atau individu yang memobilisasi sumber daya. Bagi Bourdieu, modal sosial tidak tersedia secara seragam bagi anggota kelompok atau kolektif, tetapi tersedia bagi mereka yang memberikan upaya untuk mendapatkannya dengan mencapai posisi kekuasaan dan status dan dengan mengembangkan niat baik (Bourdieu, 1986). Bagi Bourdieu, modal sosial melekat erat dan tak terelakkan pada kelas dan bentuk-bentuk stratifikasi lain yang pada gilirannya dikaitkan dengan berbagai bentuk keuntungan atau kemajuan. Bourdieu menekankan kendala struktural dan akses yang tidak setara kepada sumber daya institusional berdasarkan kelas, gender, dan ras.

Bourdieu membingkai modal sosial sebagai sumber daya aktual atau virtual yang diperoleh oleh individu atau kelompok melalui kepemilikan “hubungan yang kurang lebih dilembagakan dari kenalan dan pengakuan timbal balik” (Bourdieu & Wacquant, 1992: 119). Oleh karena itu, modal sosial berada dalam diri seseorang dan terkait dengan koneksi sosial yang dapat dimanfaatkan seseorang baik untuk kemajuan individual maupun kemajuan kolektif.

Bagi Bourdieu, modal sosial dimanifestasikan melalui manfaat yang diperoleh dari jaringan sosial. Namun, sumber modal sosial berasal dari struktur sosial, ekonomi, dan budaya yang menciptakan perbedaan kekuasaan dan status untuk individu tertentu. Kekuasaan dan status menciptakan asumsi yang diterima begitu saja seperti norma sosial yang menghasilkan keuntungan. Oleh karena itu, modal sosial bukan semata-mata soal memiliki jaringan sosial yang besar, tetapi memiliki posisi sosial yang menciptakan potensi keuntungan dari jaringan sosial seseorang.

Sekalipun secara ekonomi DJ Kool Herc dan rekan-rekannya dari komunitas Afrika-Amerika, Puerto Rico, dan Karibia tidak memiliki modal yang cukup untuk mengakses hiburan dan berbagai fasilitas publik di Bronx, mereka memiliki modal-modal sosial dan kultural yang besar. Karena itu, “back to school jam” sejak awal adalah kegiatan yang didukung dengan kekuatan modal sosio-kultural yang besar. Ia bukan sekedar acara jamming anak muda kulit hitam di pinggiran New York yang tidak bisa masuk ke bar-bar mahal. Ia adalah sebuah peristiwa budaya yang posisinya setara dengan konser  atau pertunjukanmusikal yang didukung dengan modal finansial yang besar.

Dengan kesadaran terhadap pemanfaatan modal-modal sosial dan kultural yang ada, Jamming Sastra yang diinisiasi oleh Komunitas KAHE dilakukan dalam semangat meretas keterbatasan infrastruktur dan finansial untuk kegiatan-kegiatan kebudayaan di Maumere. Pada awalnya, Jamming Sastra dilakukan untuk membuka ruang bagi apresiasi puisi. Tahun 2016, tidak ada forum atau acara yang secara khusus dilakukan untuk mengapresiasi puisi. Komunitas KAHE pada saat itu menyadari adanya tuntutan untuk membuat warga Maumere, khususnya anak-anak muda menjadi familiar dengan puisi. Apresiasi karya sastra memang bukan pekerjaan yang mudah, apalagi mendengarkan pembacaan puisi juga bukan bagian dari kehidupan masyarakat Maumere saat itu. Karena itu, Komunitas KAHE berusaha menggabungkan jamming dengan pembacaan puisi ke dalam satu forum. Orang-orang yang datang bisa menikmati jamming sekaligus mendengarkan pembacaan puisi.

Dalam pelaksanaannya, jamming sastra mengalami perubahan dan penyesuaian. Konsep awal yang sederhana kemudian berkembang baik dari segi teknis maupun konsepnya. Perubahan dan penyesuaian ini tentu saja berkaitan dengan modal-modal sosial dan kultural yang bisa digunakan Komunitas KAHE, seperti misalnya untuk kebutuhan tempat, panggung, peralatan sound system, operator, pemateri, penampil, dan juga penonton. Apresiasi puisi yang dilakukan hanya dengan pembacaan kemudian berubah menjadi diskusi karya dengan penulis. Jamming yang awalnya untuk membuat suasana lebih santai dan bisa mendatangkan banyak penonton juga kemudian berubah. Para penampil di jamming sastra adalah mereka yang telah memiliki karya original dan kemudian karya-karya itu diobrolkan dalam kerangka tematik tertentu. Tata panggung yang sebelumnya sangat sederhana kemudian menjadi semakin terkonsep dan terintegrasi dengan pemanfaatan teknologi.

Semua perubahan dan penyesuaian ini juga menandai akumulasi modal-modal sosial yang dimiliki Komunitas KAHE. Sejak 2017, beberapa anggota komunitas KAHE terlibat dalam berbagai kegiatan residensi dan magang di komunitas atau institusi kesenian yang tersebar di berbagai tempat di Indonesia. Perjumpaan dengan orang-orang baru, interaksi dengan kebudayaan lain, dan proses pembelajaran saat residensi dan magang memperluas koneksi sosial yang kemudian dimanfaatkan dalam pelaksanaan kegiatan jamming sastra dan juga kegiatan-kegiatan lainnya.

Sebagaimana yang dikatakan Bordieu, modal sosial tidak hanya semata-mata mengenai jaringan sosial yang luas tapi lebih kepada bagaimana koneksi yang luas itu dapat menciptakan posisi tertentu yang pada akhirnya dapat menciptakan kemajuan individu maupun kelompok terentu. Jamming sastra sebagai sebuah forum apresiasi karya diharapkan dapat menjadi awal dari sebuah gerakan bersama untuk apresiasi karya-karya seni yang dihasilkan seniman-seniman di Maumere, di mana di dalamnya karya-karya tersebut tidak saja ditampilkan atau dideskripsikan, tetapi dikritisi dan didiskusikan.  Dari sini, wacana yang dihasilkan dalam jamming sastra dapat menjadi referensi untuk semakin memperkaya wawasan dan juga relasi yang dapat dimanfaatkan lagi untuk produksi karya-karya selanjutnya.

Maumere memang bukan kota yang menjadi rujukan utama ketika kita mencari referensi mengenai kesenian. Maumere memiliki infrastruktur yang sangat miskin untuk apresiasi dan pengembangan karya-karya seni. Maumere tidak memiliki banyak forum untuk belajar dari dan berinteraksi dengan karya-karya seni. Pekerjaan dan aktivitas di bidang kesenian juga bukan pilihan yang disukai karena memang tidak akan banyak membantu seseorang atau kelompok tertentu secara finansial.

Selain prioritas dan orientasi pembangunan daerah yang tidak menjadikan kesenian sebagai salah satu prioritas, Maumere memang bukanlah kota dengan ekosistem kesenian yang kondusif. Dalam konteks inilah jamming sastra memiliki posisi yang mirip dengan “back to school jam” di Bronx empat puluh sembilan tahun lalu. Jamming sastra mengawali sebuah gerakan sosio-kultural baru di Maumere. Ia tidak dimulai dari kucuran dana besar untuk merealisasikan sebuah proyek, tetapi lahir dari kegelisahan akan keterbatasan yang berusaha untuk terus diretas dengan memanfaatkan modal-modal yang dimiliki Komunitas KAHE dan Maumere. Suatu saat kelak, ia mungkin akan menjadi seperti hip-hop; tidak hanya sebagai sebuah gerakan kebudayaan, tetapi juga sebuah panggilan untuk terus mengakali keterbatasan.

 

Referensi

Bourdieu, P. 1986. “The Forms of Capital.” Hlm. 241–258 dalam Handbook of theory and research for the sociology of education,  J. G. Richardson (ed.). New York: Greenwood Press.

Bourdieu, P. dan L. P. D. Wacquant. 1992. An Invitation to Reflexive Sociology. Chicago: University of Chicago Press.

Bagikan Postingan

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Kalender Postingan

Kamis, April 18th