artwork - andry sola

Hujan Sore Hari di Lapak Bibi Sali

Oleh Theresia Nay –

Pada suatu sore di bulan Februari saya, Ticha dan Megs pergi ke Kampung Wuring untuk melakukan pengamatan lanjutan tentang aktivitas masyarakat, terkhusus di area pelabuhan dan pasar. Dengan kendaraan roda dua, kami menyusuri jalanan berlubang dan melewati beberapa undakan atau “polisi tidur”.  Cuaca sedang kurang bersahabat, gerimis sepanjang sore membuat jalanan di  Wuring bergenang air.

Kami memarkir kendaraan, beberapa tukang parkir mengarahkan dan mengatur kendaraan kami. Tempat parkirnya luas dan bersih dan terdapat penerangan yang memadai. Adapun biaya parkir sebesar dua ribu rupiah bagi kendaraan roda dua, dan tiga ribu rupiah untuk kendaraan roda empat. Di dekat tempat parkir terdapat deretan lapak penjual pakaian loak atau rombengan. Bibi-bibi, sapaan akrab bagi perempuan dewasa di Wuring, menata pakaian dagangan mereka dengan rapi.

Dari situ kami kemudian beranjak menuju tempat penjualan ikan. Namun, hujan semakin besar dan membuat  kami harus berteduh di salah satu kios yang berada di dalam pasar. Walaupun hujan, aktivitas di pasar yang para penjualnya didominasi oleh kaum perempuan tetap berjalan seperti biasa. Para pembeli hilir mudik mencari ataupun membeli ikan, sayur, tomat dan lombok. Kami lalu tertarik dengan seorang bibi penjual ikan; dia menawarkan jualannya dengan cara berjoget.

Nama dia, bibi Saliati. Kami perhatikan, suasana pasar semakin ramai karena “ulah”  bibi ini. Toh di dekat situ, di sebuah rumah yang berada tepat di belakang lapak jualan, suara musik berdenting lumayan besar. Kami mendekati bibi Saliati dan mengajaknya berbincang-bincang.

Bibi Sali, sapaan akrabnya, tampak bersemangat menceritakan kehidupannya; bagaimana dia berjuang menjual ikan untuk bantu suaminya dalam membiayai begitu banyak kebutuhan kelurga. Berbeda dengan kebanyakan orang kampung nelayan lainnya, suami bibi Sali rupanya tidak melaut. “Paman jualan buah mangga, tapi karena sekarang bukan musim mangga, paman bantu-bantu jemur ikan; kata bibi Sali.

Bibi Sali juga ceritakan bahwa dia dan keluarganya tinggal di Pondok Kampung Buton. Jarak rumahnya memang agak jauh dari Wuring. Makanya, setiap pagi, setelah salat subuh, bibi Sali pergi ke lempara guna membeli ikan yang akan dijual kembali di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Maumere dan Pasar Wuring sore harinya.

Pagi tadi, misalnya, bibi Sali membeli 3 kantong plastik ikan tongkol seharga Rp 360.000 dan 2 ember besar ikan layang seharga Rp 600.000. Ikan-ikan itu lalu dia simpan di dalam boks gabus berisikan es batu agar tetap segar. Tidak setiap hari ikan-ikan itu terjual habis. Namun, bagi bibi Sali, yang terpenting iala modalnya bisa kembali dan  ada keuntungan meski sedikit.  Lantas sisa ikan yang tidak terjual itu akan ditaburi garam, dijemur kemudian dijual kembali sebagai “ikan-ikan kering”.

“Tadi saya pulang jam dua belas dari TPI. Istirahat sebentar, jam setengah tiga saya pergi ke sini lagi. Saya jualan di sini karena di TPI itu jam delapan sudah sepi,” pungkasnya. Dia juga harus bayar jasa transportasi ojek sebesar lima puluh ribu rupiah, sementara untuk sewa meja biayanya lima ribu rupiah, dan biaya penerangan sebesar dua ribu rupiah.

Saat kami bertanya soal rencana penutupan pasar Wuring dan TPI, bibi Sali langsung mengeluh . “Aih, bagaimana sudah kita punya hutang-hutang? Tidak akan terbayar, mana uang sekolah anak-anak lagi. Dulu bapak bupati itu yang resmikan TPI tapi jam 9 atau 10 sudah harus dikosongkan, terus sekarang bilang tanggal 2 Maret mau ditutup. Bagaimana bupati sendiri yang resmikan, bupati sendiri yang mau tutup lagi? Kasihan kami ini,” ujarnya.

Jika diberi pilihan, bibi Sali akan lebih memilih berjualan di pasar Wuring. Menurutnya, di Wuring pasarnya bersih, waktu untuk berjualan tidak terbatas dan dia mudah mendapatkan air laut. Sementara di TPI Maumere waktu berjualan sangat terbatas. Pun di pasar Alok, jika harus berjualan dari pagi sampai sore dibutuhkan lagi biaya tambahan untuk beli makan minum.

Hari semakin gelap. Kami lalu memutuskan untuk pulang. Saya kira, cerita bibi Sali tadi menjadi pelajaran penting bagi saya tentang perjuangan orang kecil dalam mendapatkan rupiah, terutama untuk memenuhi kebutuhan subsistensinya.

 

 

Bagikan Postingan

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Kalender Postingan

Kamis, April 18th