Bahasa; Yang Membangun, Yang Meruntuhkan

Dalam dua edisi terakhir Lau Ne, kita telah melihat bagaimana bahasa berperan sebagai alat ekspresi, komunikasi, dan bahkan kontemplasi serta kelindan dan konflik yang turut menyertai peran-peran bahasa tersebut. Dalam setiap perannya, bahasa hadir sebagai bagian integral dari kehidupan manusia. Dapat dikatakan, di mana ada manusia di situ terdapat bahasa sebagai unsur elemental, terutama dalam kelompok atau komunitas kultural. “Bahasa menunjukkan bangsa (budaya)”, kira-kira begitu bunyi ungkapan terkenal yang sering dikumandangkan. Namun, apa sebenarnya arti “berbudaya” atau “berbahasa”? Apa implikasi “berbudaya” dan pada saat saat yang sama, “berbahasa?”

Salah satu kisah terkenal dari kitab Perjanjian Lama yang  menunjukkan bagaimana bahasa memainkan peranan penting dalam kebudayaan manusia adalah kisah menara Babel. Dikisahkan bahwa pada suatu masa di mana manusia telah mencapai kemajuan yang sangat pesat, muncul keinginan untuk mendirikan sebuah menara yang tingginya dapat mencapai, bahkan melampaui langit. Pembangunan menara itu dilakukan dan ambisi menaklukkan langit bukan omong kosong.

Tepat pada saat menara itu hendak mencapai langit, Allah murka dengan kesombongan manusia yang telah diselamatkan-Nya. Namun, Allah tidak mengirimkan badai atau gempa dahsyat yang dapat menghancurkan menara yang hendak menyentuh langit itu. Allah mengacaukan bahasa orang Babel. Mereka yang semula saling memahami karena berbicara dengan bahasa yang satu dan sama dibuat tidak saling memahami karena setiap orang berbicara dengan bahasa yang tidak dipahami yang lain. Hasilnya? Pembangunan menara Babel menjadi kacau dan tidak pernah mencapai langit.

Kisah pembangunan menara Babel menyiratkan efektivitas kerja jika semua orang dapat berbicara dan memahami melalui penggunaan bahasa yang satu dan sama. Banyak bahasa bersifat destruktif. Berbicara dalam banyak bahasa tidak efektif untuk mengorganisasi suatu kelompok besar untuk mencapai satu tujuan bersama. Ideal kemajuan dan perkembangan akhirnya tidak dapat dilepas pisahkan dengan uniformitas linguistik. 

Ribuan tahun setelah kisah menara Babel ditulis, seorang psikolog Jerman yang terkenal sebagai bapak psikoanalisis, Sigmund Freud, menulis salah satu karya pentingnya, The Future of An Illusion.  The Future of An Illusion dimulai dengan dua pertanyaan yang sangat mendasar mengenai kehidupan manusia yang kemudian berusaha dijawab oleh manusia dari generasi ke generasi melalui berbagai cara. Dua pertanyaan tersebut adalah dari mana kehidupan manusia berasal dan ke mana kehidupan manusia menuju? 

Sejarah telah menunjukkan kepada kita bahwa dua pertanyaan ini kemudian melahirkan berbagai cabang ilmu pengetahuan, berbagai genre kesenian, berbagai produk budaya, yang berusaha mengemukakan jawaban untuk dua pertanyaan tersebut. Namun, tetap saja tidak ada jawaban yang sungguh memuaskan. Kemungkinan untuk menemukan jawaban yang memuaskan sangat kecil karena tidak ada manusia yang dengan segala kemampuannya dapat melakukan pengamatan menyeluruh terhadap berbagai aktivitas kehidupan manusia dengan segala aspeknya secara menyeluruh. Karena itu, hanya jawaban-jawaban parsial yang dapat digunakan untuk menjawab dua pertanyaan paling dasar dalam kehidupan manusia. 

Menurut Freud, kebudayaan manusia memperlihatkan dua aspek penting. Aspek pertama mencakup seluruh pengetahuan dan kemampuan yang telah diperoleh manusia untuk mengendalikan kekuatan alam dan mengambil segala kegunaan yang terdapat pada alam untuk kebutuhan manusia. Aspek kedua mencakup seluruh peraturan yang dibuat untuk mengatur hubungan antarmanusia secara khusus dalam mengatur pembagian kekayaan alam untuk pemenuhan kebutuhan manusia. 

Kedua aspek ini memiliki hubungan yang sangat kuat sehingga akan sangat sulit untuk memisahkan keduanya. Hal ini pertama-tama disebabkan oleh relasi antarmanusia yang sangat dipengaruhi oleh pemuasan dorongan-dorongan instingtif yang dimungkinkan oleh ketersediaan sumber daya alam.

Selain itu, seorang manusia juga dapat dilihat sebagai bagian dari kekayaan alam oleh manusia lain sehingga dapat digunakan sebagai objek untuk memuaskan berbagai keinginan manusia seperti kepuasan seksual atau kepuasaan untuk menguasai manusia lain. Setiap manusia juga dapat menjadi musuh bagi kebudayaannya, sekalipun kebudayaan dapat dianggap sebagai objek dari kepentingan manusia secara universal. 

Karena itu, kebudayaan berusaha mempertahankan dirinya dengan memunculkan berbagai macam aturan yang membatasi serta mengatur pemuasan keinginan manusia melalui institusi-institusi sosial dan juga aturan-aturan dalam sebuah kelompok. Institusi sosial tidak hanya bertujuan mengefektifkan pembagian sumber daya alam untuk pemenuhan kebutuhan hidup manusia, tetapi juga untuk mempertahankan pembagian itu sendiri sehingga sebuah kebudayaan dapat melindungi alam terhadap hasrat tidak terkendali manusia. 

Hal ini menimbulkan kesan bahwa kebudayaan muncul sebagai sesuatu yang dipaksakan oleh sebagian kecil orang yang memahami bagaimana cara untuk menguasai alam dan menetapkan aturan untuk sebagian besar orang lain dalam sebuah kelompok. Ketika manusia telah berhasil membuat kemajuan yang berkelanjutan untuk menguasai dan mengendalikan alam dan mengharapkan hasil yang semakin baik dari hari ke hari, manusia tetap tidak dapat menyangkal bahwa tidak ada kepastian mengenai penguasaan dan kendali yang sama terhadap manusia itu sendiri. 

Meskipun demikian, menata hubungan antarmanusia bukan hal yang mustahil dilakukan. Penataan tersebut memungkinkan manusia menyingkirkan rasa tidak puas terhadap paksaan untuk menahan dorongan-dorongan instingtifnya. Dengan ini, Freud menunjukkan bahwa selain dua aspek mendasar yang membentuk kebudayaan manusia, terdapat satu aspek yang juga sangat berpengaruh dalam sebuah kebudayaan. Aspek tersebut berkaitan dengan manusia itu sendiri sebagai individu yang memiliki berbagai macam keinginan untuk dipenuhi. 

Namun, kebudayaan selalu memberi batasan terhadap pemenuhan kebutuhan dan keinginan-keinginan manusia. Maka, setiap kebudayaan manusia harus dibangun di atas paksaan dan pembatasan terhadap pemenuhan keinginan-keinginan instingtif.

Inilah aspek psikis yang tidak dapat diabaikan dalam sebuah kebudayaan.

Jika dalam kisah Babel “berbudaya” berarti “berbahasa” satu, The Future of An Illusion menunjukkan perkembangan gagasan bahasa yang satu itu. “Berbudaya” artinya hidup dalam berbagai “pembatasan”. Dalam dunia yang berbudaya (yang penuh dengan pembatasan), bahasa adalah sarana yang sangat efektif.

Kata-kata diberi definisi yang membatasi cakrawala pemahaman. Apa yang tidak sesuai definisi yang telah disepakati (dibatasi) dapat dianggap sebagai ancaman bagi tatanan kebudayaan yang harus dijaga. Kebudayaan dengan demikian menjadi dijalankan dalam kerangka bahasa. Di luar kerangka itu, segala sesuatu dapat dianggap penyimpangan yang perlu “dibereskan” agar sejalan dengan arah gerak kebudayaan.

Puluhan tahun setelah The Future of An Illusion ditulis, dunia berada dalam upaya kemerdekaan. Bangsa-bangsa yang dijajah oleh bangsa Eropa memulai gerakan kemerdekaan untuk memulai negara-bangsa mereka sendiri. Indonesia ada di antara bangsa-bangsa yang memulai gerakan tersebut. Di Indonesia, bahasa yang satu dan sama seperti dalam kisah menara Babel menjadi unsur konstitutif dari gerakan awal kemerdekaan Indonesia.

Tahun 1928, beberapa pemuda yang telah mengenyam pendidikan modern Eropa berkumpul sebagai bagian dari gerakan nasionalis saat itu. Mereka kemudian merumuskan dan menyerukan apa yang kita kenal sekarang sebagai Sumpah Pemuda. Butir ketiga dalam Sumpah Pemuda berbunyi: “Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa: itulah tiga pilar utama di mana Indonesia diimajinasikan kemudian menjadi visi perjuangan kemerdekaan kemudian. 

Pada saat Sumpah Pemuda dinyatakan, tidak ada yang disebut dengan bahasa Indonesia. “Bahasa Indonesia” yang disebut dalam Sumpah Pemuda merujuk pada bahasa Melayu dialek Riau yang digunakan kurang dari 5% penduduk Indonesia (Sneddon, 2003: 105). Bahasa Indonesia sebagai pilar gerakan nasionalis saat itu merupakan bahasa yang masih diimajinasikan atau dalam bahasa Freud disebut sebagai Ilusi.

Dalam kebudayaan berbasis negara-bangsa, imaji bahasa sebagai alat pemersatu adalah niscaya. Penduduk suatu negara akan sulit diatur jika tidak saling memahami bahasa yang sama. Di saat yang sama, ideal bahasa pemersatu menjadi ancaman bagi keberagaman linguistik. Ancaman legitimasi dan hegemoni linguistik senantiasa membayangi gerakan kebudayaan berbasis satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa itu.

Dalam edisi terakhir Bahasa dan Ekspresi Politik/Politik Ekspresi kali ini, kita diajak untuk melihat kembali peran bahasa yang lebih mendasar sekaligus lebih luas dalam kebudayaan kita saat ini. Tulisan-tulisan dalam edisi kali ini memaparkan bagaimana pembatasan melalui bahasa menjadi keniscayaan dari kebudayaan kita saat ini. Namun, keniscayaan ini yang justru luput dari refleksi kita. Padahal, keniscayaan tersebut juga membawa ancaman inheren bagi kebudayaan itu sendiri.

Lewat Biennale Jogja 17: Museum Tanpa Gedung, Seni Tanpa Eksotisasi, Amos Ursia membagikan refleksinya atas perhelatan Biennale Joga 17. Definisi museum yang identik dengan pengunjung berpakaian necis, masuk gedung yang adem, melihat karya dipajang pada dinding putih, lengkap dengan panduan kurator serta parfumnya yang bukan parfum curah literan — serba nyaman, bersih, dan memanjakan mata sepenuhnya berbeda dengan yang Amos temukan dalam Biennale Jogja 17. Bagi Amos, Biennale Jogja 17 “Menghancurkan Representasi dan Imaji Eksotik soal Desa.” Definisi museum yang selama ini diterima sebagai sebuah pakem diperluas dalam Biennale Joga 17.

Di sisi lain, dalam ‘Cuci Otak’ Versi Negara Totalitarian, Gita Hastarika membandingkan lima kriteria organisasi totalis dalam teori negara totalitarian Hannah Arendt dan Robert Jay Lifton dengan para pendukung capres dan cawapres 02 pada pemilu Indonesia 2024 yang baru saja lewat. Komparasi ini menunjukkan bahwa tanpa sadar Indonesia telah menjadi negara totalitarian. Yang jauh lebih berbahaya dari kenyataan ini adalah sebagian besar penduduk Indonesia tidak sadar dan merasa sedang hidup baik-baik saja.

Apa yang dipaparkan Gita juga yang sebetulnya sedang kita alami dalam kaitannya dengan bahasa. Memiliki bahasa yang satu dan sama sebagai bahasa nasional, bahasa pemersatu, tidak lantas membuat kita baik-baik saja. Ada ancaman laten yang terus mengintip dan makin lama makin jelas mempengaruhi kebudayaan kita, tetapi justru diterima sebagai keniscayaan yang tidak perlu dikritisi.

Sebagaimana paslon 02 menggunakan istilah “gemoy” yang terkesan lucu dan imut padahal menyembunyikan kengerian kekuasaan yang dibangun dari kecurangan demi kecurangan, kondisi kebahasaan kita yang tidak baik-baik saja juga ditutupi dengan program-program revitalisasi, konservasi, dan dokumentasi bahasa-bahasa daerah yang tidak lebih dari upaya semakin menempatkan bahasa-bahasa daerah di tempat yang eksotis semata (lihat Hegemoni dan Legitimasi Linguistik dalam Kebijakan Revitalisasi Bahasa Daerah di Indonesia).

Gladhys Elliona, dalam Mengamati Teater Orang Tertindas di Brasil, membagikan pengalamannya di selama di Brazil melihat dan terlibat langsung dengan aktivitas dan kerja-kerja Centro de Teatro do Oprimido (CTO, terj.: Pusat Teater Orang Tertindas). Dengan pijakan gagasan-gagasan dan visi Augusto Boal soal teater, aktivitas-aktivitas di berbagai nukleus  CTO menjadi bahasa alternatif untuk mengkomunikasikan respons atas situasi sosio-politik di Brazil. Kerja-kerja CTO adalah juga tawaran pemaknaan bagi berbagai represi dan ketidakadilan yang coba ditampilkan dengan bahasa yang dapat menjangkau kelompok-kelompok tertindas tidak saja di Brazil, tetapi juga di tempat lain seperti Indonesia. 

Pada rubrik Jala, kita disuguhkan dua tulisan yang berpusar pada siasat atau strategi sebagai mekanisme bertahan hidup. Ragil, dalam Melihat SIASAT dari Dekat, membagikan pengalamannya mengunjungi sebuah pameran bertajuk SIASAT yang diselenggarakan Cemeti Institut.

Lewat kunjungannya, Ragil berusaha mengajak pembaca terlibat dengan berbagai karya dalam pameran tersebut. Meskipun datang dari berbagai konteks kebudayaan dan metode serta pendekatan artistik yang beragam, setiap karya menggaungkan hal yang sama, yaitu cara-cara meretas sekaligus bernegosiasi dengan beragam peristiwa sosiokultural di sekitar kita mulai dari eksploitasi buruh rumahan di Bali hingga perjalanan spiritual manusia. Pilihan bentuk dalam menampilkan karya-karya mereka oleh Ragil dilihat sebagai upaya memaknai kembali pengalaman-pengalaman para seniman.

Sejalan dengan Ragil, Citra lewat Melihat Manusia dari Matryoshka, menunjukkan bagaimana perjumpaan, percintaan, dan perpisahan tokoh-tokoh dalam novel Tabula Rasa sebagai siklus memasang, membongkar, dan menyusun kembali potongan-potongan peristiwa masa lalu sebagai cara memahami apa yang terjadi sekarang sekaligus proyeksi atas konsekuensi yang akan terjadi ketika suatu potongan yang satu bertemu atau bertaut dengan potongan-potongan lainnya. Di sini, pemaknaan selalu bersifat probabilistik, bukan deterministik.

Sebagai penghormatan dan rasa terima kasih pada Toriyama Sensei, rubrik Nahkoda menampilkan Akira Toriyama Mengajarkan Saya Arti Batas, sebuah obituari yang ditulis oleh Eka Putra Nggalu. Eka menunjukkan pada kita tidak saja warisan berharga yang ditinggalkan oleh Toriyama Sensei bagi anak-anak di berbagai belahan dunia. Lewat Dragon Ball kita belajar bagaimana bahasa dan budaya yang melaluinya Toriyama Sensei berkarya dapat menjadi milik semua anak di seluruh dunia.

Bagi Eka, Toriyama sensei juga mengajarkan kita soal batas “sebagai suatu keadaan yang menuntut kita terus rendah hati dan belajar bersabar ketika harus menghadapi situasi tak berdaya,” situasi ventilasi di mana kita mesti berjuang menyaksikan Goku lewat celah kecil yang diperebutkan oleh anak-anak lain. 

Dari menara Babel, Freud, Sumpah Pemuda, hingga Akira Toriyama, kita diajak melihat betapa menara tinggi yang menjulang menuju langit setelah bertahun-tahun dibangun dapat hilang lenyap dalam sekejap. Namun, keruntuhan itu di saat yang sama dapat menjadi sebuah awal baru. Imaji (atau ilusi dalam bahasa Freud) mengenai masa lalu, menara yang hampir menembus langit, dapat berubah menjadi visi perjuangan, mimpi yang ingin dicapai, langit yang ingin dilampaui. 

Sebagaimana sebuah negara-bangsa dapat dapat dibangun dari pilar-pilar yang masih dibayangkan, pengalaman hidup dalam berbagai keterbatasan juga sebetulnya memberi keluasan bagi kita untuk mengandalkan imajinasi sebagai siasat bertahan yang terus didaur ulang, tidak pernah berhenti, dan selalu dalam dinamika negosiasi, adaptasi, transisi, lalu kembali lagi bernegosias

Dalam salah satu episode Dragon Ball Super berjudul “The Advanced “Time-Skip” Fights Back?! Will It Come Forth? Goku’s New Technique!” Goku bertarung melawan Hit, yang memiliki kemampuan meloncati waktu (time-skip) yang sangat tangguh. Namun, Goku mampu mengimbanginya dalam bentuk Super Saiyan Biru pada awalnya. Dengan berbagai rintangan yang muncul di hadapannya, Hit belajar untuk beradaptasi dan mengembangkan tekniknya untuk sekali lagi membuat Goku kewalahan.

Untuk terus bertahan dalam pertarungan itu, Goku menggabungkan Kaioken-nya dengan bentuk Super Saiyan Biru, sesuatu yang belum pernah dilakukan Goku, untuk sekali lagi menandingi kecepatan Hit. Meskipun kekuatan Goku kali ini dapat mengatasi kecepatan Hit, dia tahu dia tidak bisa berada lama dalam mode ini. Kemungkinan menang cuma satu, yaitu melancarkan kamehameha telak bersamaan dengan loncatan waktu yang dilakukan Hit. Ini adalah momen sekarang atau tidak akan pernah bagi Goku.

Pertanyaan awal kita tentang artinya “berbudaya” atau “berbahasa” dan apa implikasi “berbudaya”, dan pada saat saat yang sama “berbahasa”, barangkali juga adalah cara kita untuk terus bertahan dalam pertarungan seperti Goku. “Berbudaya” tidak semata terus menjaga dan mendayagunakan kekuatan-kekuatan kita untuk bertahan, tetapi lebih merupakan dinamika negosiasi, adaptasi, transisi untuk terus memunculkan cara bertahan yang sesuai dengan lawan yang kita hadapi. 

“Berbahasa” pada saat yang sama adalah dinamika keluar dari formula-formula baku dan definitif, menjelajahi kemungkinan-kemungkinan lain yang tidak bahkan tidak pernah ada dalam imajinasi kita untuk terus melampaui batasan-batasan yang menghalangi. Dan di atas semuanya itu, sebagaimana Goku, “ia bisa melampaui batas-batas diri dan kekuatannya karena ia mengingat orang-orang yang ia cintai dan mencintainya.” 

Dragon Ball belum tamat bahkan setelah Toriyama Sensei wafat. Barangkali ia memang tidak pernah ingin menamatkannya karena perjuangan Goku dan perjuangan kita semua masih harus terus berlanjut.

Referensi:

Foulcher, K. (2000). Sumpah Pemuda: The making and meaning of a symbol of Indonesian nationhood. Asian Studies Review, 24(3), 337-410.

Freud, S. (1961). The Future of An Illusion. New York: W. W Norton & Company.

Freud, S. (1962). Civilization and Its Discontent. New York: W.W. Norton& Company.

Sneddon, J. (2003). The Indonesian language: Its history and role in modern society. Sydney: The University of New South Wales Press.

Bagikan Postingan

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Kalender Postingan

Kamis, April 18th