Ada “Yang Lain” yang Tidak Tersampaikan

Oleh Ticha Solapung –

Pada suatu sore, beberapa bulan lalu, saya ditemani oleh Fikram, seorang pemuda di Kampung Wuring, melakukan pelesiran di seputar area pasar kampung tersebut. Dalam perjalanan kami saling bertukar cerita dan saya menanyakan beberapa hal tentang dirinya supaya bisa lebih mengenal satu sama lain.

Tentu saya tidak bermaksud mencari tahu kehidupan pribadinya, tetapi saya memang agak cukup terkejut karena dia begitu dikenal oleh semua kalangan dari berbagai usia. Sepintas kilas Fikram mengenal baik tempat tinggalnya dan terutama orang-orang Wuring itu sendiri. Saya pun penasaran, apakah dia juga mengetahui kisah-kisah zaman dahulu yang mungkin diceritakan para orangtua kepadanya.

Dengan sedikit terbata-bata, Fikram lalu bercerita bahwa dahulu ada seorang pelaut di Wuring yang hebat seperti seorang raja. Ketika terjadi suatu masalah, orang-orang dari gunung datang mengeroyok pelaut itu, tetapi dia melawan seorang diri dan berhasil mengalahkan mereka. Setelah kejadian itu semua orang pun takut padanya, demikian tutur Fikram.

Sepenggal percakapan tersebut kemudian membawa kami pada Mbo (nenek) Rapese. Mbo Rapese merupakan seorang dukun persalinan juga pengobat yang terkenal di Kampung Wuring. Fikram katakan bahwa Mbo Rapese akan menceritakan banyak kisah dan dongeng tentang Wuring.

Kami pun berjumpa Mbo Rapese dan saya memperkenalkan diri kemudian menyampaikan maksud kedatangan kami. Mbo Rapese sendiri sedang menggulung kertas rokok berisi tembakau untuk dibakar dan dihisapnya. Dia menyambut kami dan mulai bercerita.

Dia katakan, dulu neneknya yang bernama Mbo Jarihun sangat ditakuti oleh orang-orang. Kalau Mbo Jarihun meminta umpan untuk pancing ikan dan orang-orang tidak memberikannya, ia akan memotong telinga mereka dan menyimpannya di dalam kotak tembakau miliknya. Adapun ketika orang-orang di Geliting dan Nangahale berperang, Mbo Jarihun ini pergi dengan sampan untuk menghentikan perang. Ia menumpas mereka yang lagi berperang itu.

Saya pun berpikir dan bertanya-tanya, apakah cerita ini yang dimaksudkan oleh Fikram tadi. Namun, tiba-tiba Mbo Rapese melanjutkan ceritanya, terutama perjalanan hidup dia sebagai seorang dukun. Sejarahnya, dahulu ada seorang nenek yang melahirkan dua anak kembar, yaitu seorang manusia dan  seekor buaya yang mana buaya ini dilepas di lautan.

Jika buaya ini lapar ia akan datang meminta makanan dengan cara membuat anak bayi menangis. Ketika ada anak bayi yang menangis, orang akan memeriksanya dengan bantuan jin dan baru mengetahui kalau penyebabnya diakibatkan oleh buaya yang datang meminta makanan tadi. Mereka lantas memberi buaya itu makanan berupa irisan pinang, telur dan nasi yang mana bahan-bahan tersebut dihanyutkan di laut.

“Kalau kita tidak memberi makanan itu, si buaya akan menahan rezeki kita. Sampai sekarang masih ada yang seperti itu. Kita tidak bisa melihat si buaya tapi bisa merasakan keberadaannya,” tandas Mbo Rapese.

Dia juga menggambarkan bagaimana orang-orang datang meminta pertolongannya ataupun bagaimana dia menyembuhkan orang sakit, entah penyakit yang tergolongkan sebagai sakit medis ataupun nonmedis yang dibuat oleh setan. Dengan ramuan herbal yang diraciknya sendiri dan penerawangannya beserta doa juga zikir, Mbo Rapese mampu menyembuhkan orang-orang dengan berbagai macam penyakit.

Hal ini tidak mengherankan, sebab nenek dari Mbo Rapese juga memiliki kemampuan untuk mengobati macam-macam penyakit. Apabila muncul wabah penyakit, nenek itu pasti berkeliling kampung dan berteriak, kalau yang datang itu jahat haruslah ia keluar dari kampung, kalau baik ia boleh masuk.

Pernah suatu waktu, lanjut Mbo Rapese, ada wabah penyakit di kampung itu dan banyak orang yang meninggal dunia. Mereka lalu membuat ritual tolak bala dengan menghanyutkan sampan berisi dua ekor ayam, kopi, gula dan nasi. Lantas, tak lama kemudian penyakit itu pun berhenti.

Mengakhiri cerita itu, Mbo Rapese -yang memang mendapat keahlian dari neneknya dan almarhum suaminya sebagai penyembuh penyakit- sempat menaruh kecemasan, terkhusus kepada generasi muda. “Ini kalau saya mati, kamu siapa yang obat sudah? Sekarang anak muda tidak tahu tentang ilmu-ilmu, anak-anak sekarang lebih sibuk pesta, minum mabuk, dan baku pukul,” ungkap Mbo Rapese dengan nada suara yang meninggi.

Saya dan Fikram, yang mendengar cerita dia selama hampir kurang lebih dua jam, pun terbawa rasa heran sekaligus takjub. Fikram kelihatan begitu penasaran, sementara saya menyimak sambil mengelus bulu kuduk yang tak henti berdiri.

Akan tetapi, cerita tentang pelaut hebat yang ditakuti semua orang juga cerita tentang saudara kembar buaya, wabah dan berbagai macam penyakit tadi mirip dengan cerita yang ada dalam masyarakat Suku Bajo di Desa Torosiaje, Sulawesi Utara sebagaimana sempat dituliskan oleh Francois-Robert Zacot (2008). Bahwasanya di sana ada dukun hebat yang menjadi penolong bagi segala masalah yang menimpa masyarakat. Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh setan diobati dengan berbagai ritual yang dilakukan oleh dukun tersebut. Selain itu, terdapat juga pamali-pamali dan penyembuhan yang dilakukan dengan memberi sesajian kepada penguasa lautan yang memiliki tingkatan-tingkatan. Buaya adalah raja yang paling kuat dan paling jahat sehingga harus diberikan sesajian yang paling rumit .

Memang cerita-cerita tersebut tidaklah sama persis dalam hal tata cara ataupun penamaan yang saya kira dipengaruhi oleh keadaan alam atau letak geografis selain persentuhan dengan kebudayaan lain yang lebih luas. Namun, terlihat bahwa ada suatu intertekstualitas dalam kerangka besar perihal kebudayaan orang Bajo itu sendiri.

Dalam intertekstualitas ini terdapat kemungkinan penyampaian cerita dengan  pola yang berbeda dan membuat cerita itu menjadi beragam. Ini juga memungkinkan adanya versi cerita maupun sejarah yang berbeda di setiap daerah yang dituturkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, tetapi tetap punya kandungan makna atau gagasan serupa.

Lebih daripada itu, pertanyaan saya di awal, apakah yang diceritakan Fikram tentang pelaut itu sama dengan yang diceritakan oleh Mbo Rapese barangkali terjawab. Di sini saya bisa mengambil kesimpulan, transfer budaya ataupun pengetahuan lisan senantiasa alami pergeseran seiring berjalannya waktu. Ini juga menandakan bahwa kebudayaan memang selalu bergerak, berpindah, dan bertransformasi.

Kecemasan yang diungkapkan Mbo Rapese bahwa setelah ia meninggal tak ada lagi yang bisa meneruskan keahliannya juga menjadi satu pertanda bahwa warisan budaya nenek moyang dahulu tidak selalu bertahan atau mengalami perkembangan seiring perubahan zaman.

Dengan demikian, kisah-kisah semacam tadi penting untuk diceritakan dan terutama dituliskan sebagai peninggalan sejarah yang memiliki nilai/falsafah hidup orang Bajo untuk generasi selanjutnya.

Bagikan Postingan

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Kalender Postingan

Kamis, April 18th