Selamat Jalan, Turi

 

Rasanya sudah lama sekali tidak bertemu Kirchberger, pastor tua dari Eropa yang sangat akrab dengan ojek-ojek seputaran Ledalero dan Nita. Sampai pada satu malam di bulan Maret 2023, kami diajak makan malam dengan sajian khas Bavaria. Tentu menu-menu spesial ini karya tangan beliau.  Di cafe Pa Il, mantan mahasiswanya, Kirch melayani kami: beberapa anggota KAHE bersama dengan beberapa dosen dari Maumere, Surabaya, dan Ledalero.

“Oh, jadi kalian ini KAHE itu? Saya banyak dengar tentang kalian.”

Kirch menyambut kehadiran Eka yang susah turun dari tangga dengan keterkejutan yang tidak dibuat-buat. Pertanyaannya dibalas oleh beberapa dari kami dengan tertawa dan senyum malu-malu. Dalam hati, kami cukup besar kepala. Betapa kerja-kerja KAHE ‘dipantau’ oleh seorang yang sungguh dihormati oleh beberapa dari kami yang adalah mantan muridnya.

“Saya ingin ngobrol dengan kalian.”

Kirch tidak banyak berubah. Bicaranya lurus tetapi santai. Meski raut mukanya tampak menua, cara ia bicara tidak berubah. Untuk orang seusianya, tubuhnya masih cukup lincah saat berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya ketika sedang menyediakan menu makan malam untuk kami. Ia juga masih selalu fokus dan sepenuh hati dengan apa yang sedang ia kerjakan. Termasuk ketika membuat burger malam itu.

“Saya sudah pensiun. Jadi saya memutuskan untuk bekerja di dapur. Saya ingin bikin restoran atau cafe yang menyajikan makanan Bavarian. Ini mengingatkan saya pada masa kecil dengan keluarga di kampung. Saya sendiri kokinya.”

Sambil mempromosikan cafe barunya yang terletak persis di depan kampus IFTK Ledalero, tangannya dengan cekatan membelah roti, menumpuk lembaran-lembaran seledri, tomat, sosis dan beberapa ham dari olahan babi.

“Kalau di Jerman, butuh waktu cukup lama untuk sosis dan ham jadi enak. Biasanya kita mengasapinya di musim panas untuk disimpan sampai hari raya di musim dingin. Kalau di sini, semua pakai alat dan untuk kebutuhan makan saja. Di antara para saudara, kami biasanya sudah punya tugas masing-masing untuk menyiapkan makanan di musi dingin dan hari-hari raya.”

Minyak zaitun jadi sentuhan terakhir dari olahan bavarian burger itu. Sebagai tambahan, kami boleh memilih untuk menyantap hidangan ini dengan saus atau mayonaise.

“Kalau yang tradisional tidak pakai keduanya. Di beberapa tempat (di Jerman) ditambahkan sedikit keju. Ayo selamat makan.”

Semua makan dengan lahap. Beberapa ham yang tidak diolah pakai roti, dihidangkan sebagai lepeng untuk jamuan malam itu. Pater Otto Gusti, rektor IFTK Ledalero memimpin lingkaran dengan menuang minum. Sekali lagi kami bebas memilih: moke atau bir. Di tengah obrolan, beberapa piring asinan buah mendarat ke meja. Kirch akhirnya bergabung dalam lingkaran.

“Saya melayani kalian malam ini. Membuat roti Bavaria ini bikin saya ingat kampung halaman. Di kampung saya, juga di keluarga, kami sering membuat roti ini. Ya karena daerah kami adalah daerah peternakan. Ada daging yang cukup untuk membuat sosis, ham, dan yang lain untuk sepanjang tahun.”

Ah, ini bedanya. Kirch membuka obrolan di lingkaran itu dengan sesuatu yang terkesan begitu romantik, begitu personal tentang kampung halamannya.  Ia mengucapkan kalimat itu sambil memberi penekanan pada beberapa bagian, seolah ingin menyatakan bahwa memorinya tentang keluarga, kampung halaman dan negaranya masih kuat membekas, meski sejak tahun 1976, ia telah bermisi serta mengajar di Ledalero sebagai seorang pendidik misionaris muda. Beberapa kalimat yang ia ucapkan, terasa diulang-ulang.

Mungkin ia tidak menyadari itu. Sebab, ketika Eka mencoba memancing obrolan ke arah sejarah misi, ia terkesan kelelahan atau tak antusias menanggapi. Ia malah memilih membahas tentang teknologi yang berkembang pesat dan upaya-upaya yang dibutuhkan oleh manusia untuk menyelaraskan diri dengan perubahan-perubahan itu. Meski untuk satu hal ia tidak setuju.

“Kita tak pernah tahu sampai kapan teknologi berubah. Dari disket ke CD, dari CD ke flash disk, pdf. tak tahu akan bertahan berapa lama. Sudah pasti akan berubah.”

Kirch sedang omong soal pengarsipan. Ia merasa pengarsipan digital punya tantangan yang sama besarnya dengan pengarsipan fisik. Ia merasa jauh lebih konstan tantangan memelihara pengarsipan fisik daripada menghadapi kemungkinan pergeseran yang makin cepat dari dunia digital.

“Saya ingin tahu tentang kalian. Saya punya uang dari pemerintah Jerman, yang bisa kamu pakai untuk bikin kegiatan. Jangan pembangunan fisik. Bikin kegiatan anak muda, tentang keberagaman seperti yang kalian buat. Tapi saya ingin dengar dari kalian.”

Kami tambah berbunga-bunga. Selain karena kami bakal dapat uang juga lebih dari pada itu kami mendengar dari mulut Kirch sendiri spirit itu: kecintaannya membangun manusia-manusia Flores, khususnya Maumere, demi cita-cita akan masa depan yang lebih baik bagi tempat ia mengabdi dan menyerahkan seluruh hidupnya hingga akhir hayat itu.

Kami memikirkan beberapa tema. Salah satu yang paling kuat adalah rencana membuat festival John Prior, untuk mengenang dan merayakan sumbangsih pemikiran misionaris Inggris itu bagi gereja di Flores, Asia dan dunia. Ide ini disambut baik rektor dan teman-teman yang hadir saat itu.

Malam itu, Kirch pamit lebih dahulu. Ia menyadari, fisiknya tak sekuat dulu.

Selang beberapa waktu, kami bertemu lagi dengan Kirch pada 26 Mei 2023. Melalui pesan WA, ia meminta kami menantinya di depan halaman kapela St. Paulus Ledalero.

Pukul 16.45, berlima dari Komunitas KAHE, kami menantinya di depan pendopo barat Ledalero. Penantian itu tidak lama, sebab tepat pukul 16.57, Kirch melangkah keluar dari kamarnya menemui kami. Langkahnya tidak selincah dulu ketika ia masih menghuni Unit Arnoldus Nita Pleat, saat ia masih setiap hari berjalan menuju kampus Ledalero untuk mendidik para mahasiswa.

“Siapa yang akan jadi pembicara di antara kita?” Pater Kirch membuka percakapan.

Gero menyampaikan kepadanya dua agenda. Pertama, terkait undangannya kepada kami untuk terlibat dalam rencana aktivitas yang ia tawarkan. Kedua, undangan kepada beliau sebagai teman ngobrol pada program Klub Baca (diskusi buku) yang kami adakan di studio komunitas.

Kirch menyampaikan antusiasmenya berkenaan dengan kerja-kerja yang selama ini kami kerjakan. Sebagai perkenalan awal di project yang ia tawarkan, ia meminta kami membuat proposal dan portofolio berkaitan dengan kerja-kerja kesenian dan kebudayaan yang selama ini sudah kami kerjakan. Ia juga berharap, kegiatan yang nantinya kami rancang, bisa juga menjadi ruang yang mempertemukan beragam kelompok dari berbagai latar belakang agama dan budaya.

Kalian bisa buat kegiatan yang mempertemukan orang-orang muda, dari mana saja mereka berasal. Agama, budaya, dan apa saja, bisa saling bertemu.”

Meski lahir dari generasi yang jauh dari internet, ia mengamati dengan baik berbagai program yang sudah kami kerjakan melalui publikasi-publikasi di sosial media.  Beberapa program seperti ide  kami menjembatani orang-orang Bajo di Kampung Wuring dengan masyarakat kabupaten Sikka menjadi semacam referensi yang selalu ia rujuk saat mengusulkan kemungkinan-kemungkinan konten kegiatan yang bisa kami kerjakan nanti.

Kami menawarkan kemungkinan untuk mewacanakan sejarah modernisme di Flores yang dibawa oleh misi Serikat Sabda Allah, atau kerja-kerja aktivisme dan produksi pengetahuan yang dikerjakan oleh Pater John Prior. Ia menyambut baik ide itu, sekaligus menekankan pentingnya pertemuan antara warga, khususnya anak muda dari beragam latar belakang agama dan budaya sebagai output dari program itu.

“Kalian seniman, bekerja dengan kesenian, nanti bisa buat pameran, pertunjukan teater, musik atau film. Dengan dana yang ada, kalian bisa kerjakan itu.”

Obrolan itu tidak berlangsung lama. Ia hanya mengingatkan kami agar bisa mengerjakan proposal dan portofolio pada bulan Oktober dan November, dua bulan setelah puncak aktivitas KAHE di Agustus tahun ini.

“Nanti pulang, coba buat ide programnya bersama teman-teman. Saya tunggu.”

Ia meminta kami menyiapkan desain proyek seni itu dengan baik karena ia mesti menerjemahkannya ke dalam bahasa Jerman dan nantinya akan berurusan dengan laporan-laporan yang cukup sulit. Kami menerima ide itu, dan berencana akan mempresentasikan kepadanya setelah bulan Agustus.

Kami kemudian lanjut mengobrol soal program Klub Baca. Saat itu, kami akan ngobrol salah satu novel Marriane Kattopo berjudul “Dunia Tak Bermusim” Pater Kirchberger menyambung, bahwa hanya ada satu novel Marriane yang ditulis dengan pendekatan teologi. Namun, ia belum banyak memberi komentar, sebab selain menyatakan ketidaksediaan untuk  terlibat dalam program tersebut, ia juga menyatakan kesulitannya karena kondisi kesehatan kurang memungkinkan.

“Mungkin di lain waktu. Saya agak kesulitan karena kondisi leher yang kurang baik. Kalian bisa cari dosen lain.”

Menurutnya, dua minggu sebelumnya, ia mendapat sakit leher yang menyebabkannya sulit menggerakan lehernya dengan maksimal. Saraf lehernya terganggu. Meski sudah mendapat perawatan yang intensif, keadaan tidak jadi lebih baik. Jika tidur pada malam hari, ia merasa lehernya lebih baik, tetapi saat bangun pagi dan memulai aktivitas, ia mulai kesulitan lagi.

Menurutnya, kemungkinan untuk mendapat perawatan yang intens di rumah sakit kota Maumere pun bukan pilihan terbaik, sebab sering ia jenuh dengan urusan administrasi yang sering abai dan prioritas pada pasien yang membutuhkan perawatan yang urgen.

“Menunggu terlalu lama, saya tidak bisa. Bisa tambah sakit,” ucapnya.

“Kami bisa bantu antre, Pater,” kami menawarkan. Kirch hanya tersenyum.

“Mungkin Pater terlalu banyak membaca,” kami bergurau.

Ia katakan kalau ia sudah membeli kursi yang cukup ramah untuk lehernya jika akan membaca.

“Tetapi kadang-kadang mata saya bermasalah. Kalau di depan komputer, saya melihat ada dua layar.”

Obrolan kami seputar dua agenda ini tak makan banyak waktu. Kirch menyela beberapa obrolan kami saat kami berusaha masuk lebih jauh ke dalam inti topik sore itu. Rupanya ia kelelahan dan tidak dalam kondisi sehat. Ia justru menggiring obrolan kami pada saat-saat awal kedatangannya ke Flores. Ia membuka obrolan itu dengan menceritakan pengalamannya saat mengunjungi Ende untuk melaksanakan sidang dewan provinsi Serikat Sabda Allah.

“Kami pakai bis Agogo dari Maumere ke Ende. Biasanya tiba di Wolowaru, anak-anak lihat saya dan berteriak, turi-turi (turis, ed).” Ia tersenyum masam mengisahkan beberapa pengalamannya saat pertama kali datang ke Maumere, pergi ke Ende dan bertemu anak-anak di tempat-tempat ini.

Kisah-kisahnya tentang Flores itu seperti berlalu begitu saja. Kami pamit, menyalaminya dan berarak menuju parkiran. Sebelum tiba ke parkiran, Gero bergurau kepada teman-teman, “Apakah Kirch bisa bertahan sampai November tahun ini?”

Teman-teman menatap tajam ke arah Gero, menuntutnya untuk berhenti mengucapkan gurauan itu. Di kejauhan, Kirch, masih berjalan pelan dan sedikit tertunduk, hilang di antara rimbunan bunga dan deretan pinang hias.

Apakah Kirch adalah generasi terakhir misionaris Eropa yang datang ke Flores, Ledalero untuk mendidik orang-orang muda Flores? Jawaban itu tak sepenuhnya muncul ke permukaan bahkan saat khotbah dan sambutan setelah misa pemakamannya pada 7 Juni 2023 yang lalu.

Kami berniat bisa mewujudkan proposal proyek yang sudah Kirch titipkan kepada kami. Tidak sekedar sebagai proyek seni, tetapi sebagai upaya untuk terus menyemai dan menabur benih-benih gagasan kreatif mereka ke seluruh penjuru dunia. Yang lebih personal, kami ingin menyampaikan hormat dan membangun monumen ingatan bagi para pendidik yang punya dedikasi tinggi pada tanah rantau tempat mereka menyelesaikan sisa hidup mereka yang singkat, di dunia.

Bahwa dulu, di Flores, dari pinggir-pinggir jalan, dari jendela-jendela ruang kuliah, pernah ada mereka yang kami panggil, “turi, turi.”

Selamat jalan Kirch.

 

Bagikan Postingan

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Kalender Postingan

Rabu, Mei 22nd