Residensi MARANTAU

 

Riksa Afiaty adalah seorang pekerja seni yang tinggal dan bekerja di Yogyakarta. Ia tertarik pada praktik dekolonisasi dalam kerangka artistik dan kerja kuratorial. Ia pernah terlibat dalam pameran dan program seni di Jakarta, Maastricht, Ljubljana, Brussels dan Gwangju. Pada tahun 2020, ia ikut menggagas proyek residensi MARANTAU, yang mengadopsi dinamika pergerakan, keterasingan, keberjarakan dari ruang-ruang familiar, dan adaptasi dengan pola kerja dan budaya di tempat baru. Meminjam gagasan Edouard Glissant, ia merujuk pada pengembaraan (to errant) dan tercerabut dari akarnya (de-root). MARANTAU juga merupakan upaya untuk membelokkan praktik di luar hegemoni pakem “Jawa”.

 

Dimas: Selamat malam kak Riksa. Malam hari ini kita akan berbincang-bincang soal residensi. Khusus untuk malam ini, Tika juga akan menjadi salah narasumber kita karena Tika merupakan salah satu anggota Komunitas KAHE yang mengikuti residensi MARANTAU. Sebelum kita bicara lebih jauh, saya ingin tahu kenapa mengadakan program residensi MARANTAU, apa gagasan di balik itu, dan kenapa memilih bentuk atau model demikian?

Riksa: Terima kasih kepada Dimas dan teman-teman di KAHE. Ini pertanyaan menarik, karena tadi Dimas sempat sebut di awal bahwa sudah ada banyak program residensi. Aku dan beberapa teman juga sebenarnya tertarik untuk melihat “sejarah residensi”, khususnya di Indonesia.

Kebetulan, enggak tahu apakah ini sebuah privilege atau bukan, ketika aku hidup dan bekerja di “pusat” (Jawa) banyak sekali program residensi di Jawa khususnya di Jakarta atau Jogja. Ini kayaknya udah jadi bagian integral dari  kesenian kita hari ini. Karena banyak mengenal program-program residensi itu, saya kemudian banyak merefleksikan kenapa sampai ada MARANTAU. Itu juga bentuk kritik.

Kita semacam bikin encounter atau pembeda. Ketika ada satu residensi dan residensi lain, apa yang beda di MARANTAU. Makanya waktu kami (aku, Agni, dan Goethe Institute) bikin program ini, aku melihat ada kesempatan untuk kita bikin kritik melalui program seni, khususnya di residensi, dengan menawarkan tadi yang kita bilang, ingin menjauhkan diri dari sesuatu yang “Jawa”.

Aku melihat program residensi kebanyakan mendatangkan seniman asing, biasanya orang kulit putih yang datang ke Indoensia (Jogja). Masih ada pandangan-pandangan-pandangan yang sangat oriental, atau enggak proses-proses yang hanya ada di permukaan dan kemudian jatuhnya jadi kayak eksotisme gitu. Kurang lebih sama seperti  misalnya kita menjadi turis, hanya melihat kemudian menikmati saja tanpa ada kritik.

Makanya waktu bikin MARANTAU, kita mencoba untuk melihat apakah program residensi bisa menjadi kritik untuk praktik kesenian kita hari ini. Misalnya, dalam konsepnya itu MARANTAU mencoba mempertanyakan ‘siapa sih yang sebenarnya bisa bepergian?’ Ini sebenarnya tidak ada di open call tapi menjadi pertanyaan di balik MARANTAU. Siapa sih yang punya hak untuk crossing the border? Atau ketika kita menjauhkan diri dari suasana yang familiar di tempat kita tinggal, bagaimana cara kita beradaptasi?

Tapi bentuk-bentuk adaptasi ini selama residensi 3 bulan ini kadang-kadang ada praktik-praktik atau bentuk-bentuk ekstraktif. Seniman datang, seniman mengambil sesuatu (resourses) entah itu interview, entah itu benda, entah itu pengetahuan-pengatahuan lokal yang orang-orang di sini bagikan. Hal-hal ini diambil saja tanpa ada resiprokalitas atau saling memberi dan menjadi percakapan yang berguna. Alih-alih, proses itu jadi bentuk karena kadang seni rupa juga kritiknya adalah dia selalu ingin menjadikan proses itu menjadi objek.

Ketika proses itu menjadi objek dan disimpan dalam sebuah ruang entah itu ruang publik atau ruang galeri, si objek ini jadi tidak punya manifestasi sebuah pemikiran kritis. Maka dari situ, aku dan teman-teman di MARANTAU sama Tika, Sidi, dan juga Wilda mencoba bentuk-bentuk yang sifatnya enggak berwujud seni rupa. Makanya waktu open call MARANTAU kita memanggilnya bukan seniman, tetapi praktisi seni.

Jadi, kita berusaha juga mencari bentuk-bentuk praktik seni rupa yang “belum pernah” atau jarang kita bahas sebelumnya misalnya praktik Tika di mendengarkan, praktik Wilda di menulis dan ngobrol sama orang-orang, atau praktiknya Sidi yang mengarsipkan. Bentuk-bentuk mendengarkan, menulis, mengarsipkan itu sebenarnya praktik-praktik yang sebetulnya dekat dengan seni rupa tetapi jarang dibahas karena mungkin sifatnya jadi lebih melebar, jadinya bukan art making tapi seperti sesuatu yang ada di belakang seniman entah siapa yang mengerjakan, apakah artisannya atau tim risetnya.

Di MARANTAU kami mencoba untuk membahas praktik-praktik seperti itu. Makanya, kemarin saat pandemi itu, nanti mungkin Tika bisa cerita soal bagaimana praktik dia mendengarkan kemudian menemukan “bentuknya” saat pandemi kemarin.

Dimas: Waktu pertama kali mendengar soal residensi MARANTAU ini yang terbayang di pikiran saya adalah sebuah kata dari bahasa lio yaitu ‘melara’ yang merupakan terjemahan dari kata ‘merantau’. Kata ‘melara’ sendiri kalau didekatkan dengan Bahasa Indonesia menjadi ‘melarat’.

Orang-orang di sini sejak dulu dan mungkin sampai sekarang masih meyakini konsep bahwa orang harus pergi merantau supaya bisa sukses. Kita pergi merantau supaya bisa dapat kebahagiaan dan bisa bikin hidup lebih baik. Makanya banyak kasus human trafficking itu korbannya kebanyakan berasal dari wilayah NTT karena merantau ini merupakan tujuan hidup. Orang selalu berpikir bahwa di luar tempat kita hidup, kita bisa dapat sesuatu untuk perubahan, hidup yang lebih baik. Namun, yang terjadi justru mereka dieksploitasi, hidupnya jadi ‘melarat’.

Sekarang saya ingin dengar dari Tika sebagai orang yang pergi merantau, apakah ‘melarat’ juga di sana?

Tika: Waktu pertama kali lihat open call-nya, saya rasa residensi ini menarik, apalagi dengan semangatnya MARANTAU. Saya jadi mau mencoba bagaimana kalau saya berjarak dari Maumere dan ke Jogja dan bersama teman-teman di “Marantau”. Nanti di sana baru merancang apa yang mau dibuat. Saya akan ke sana dengan kesadaran bahwa saya kan pergi merantau. Entah apa yang nanti akan saya buat di sana belum saya pikirkan secara detail. Memang ketika sampai di sana barulah kita ngobrol lebih dalam dan lebih jelas soal apa ini MARANTAU.

Di residensi ini, kita tidak pergi magang atau belajar di satu tempat atau institusi seni, jadi kita semacam “dibebaskan” – tapi kebebasan yang terpimpin. Kita akan ke mana, buat apa, sesuai dengan kita punya minat. Ini juga sesuatu yang baru saya dapatkan. Selain bahwa ini pertama kali saya pergi untuk residensi, saya juga mendapatkan suatu gaya residensi yang seperti ini.

Selama ini yang kita tahu residensi itu berarti  sudah ada satu tempat yang nanti akan kita datangi, atau tempat kita belajar, atau ada satu program yang akan kita jalankan bersama teman-teman di tempat residensi. Namun, di MARANTAU kami bertiga dalam diskusi bersama tim MARANTAU yang menentukan sendiri saya bikin apa, dengan minat apa, tema apa, isu apa yang ingin saya angkat, atau kegelisahan apa yang saya bawa, yang mau saya bagikan di residensi ini. Dan itu yang terjadi, sehingga menarik bahwa dalam residensi ini pertama-tama output atau hasil residensi ini tidak harus berupa sebuah karya seni yang berwujud, misalnya seni rupa.

Dari sini saya, oleh karena kelonggaran untuk tidak bikin karya, justru terpanggil untuk bikin karya. Dengan minat saya di musik, lalu membawa refleksi saya dalam beberapa kegiatan bersama Aura dan kaka Iin di Wuring. Saya memang datang merantau tetapi saya tidak datang kosong. Saya punya sesuatu juga yang mau saya bagikan, yang mau aya ungkapkan di sini, dan ini yang saya pakai untuk berdialog dengan teman-teman di residensi merantau dan secara umum teman-teman di Jogja yang akan saya temui. Dan jadilah konsep mendengarkan itu lalu akhirnya saya bikin satu karya “mendengarkan suara-suara”, baik itu suara-suara yang baru atau yang sama yang kemudian saya ulik jadi satu musik.

Kalau tadi Dimas tanya soal melarat atau tidak, saya kira residensi ini cukup kaya ketika saya bisa berdiskusi dengan banyak orang, entah itu orang di ranah seni rupa, saya juga ketemu orang-orang yang di seni musik, pengamat musik, para penulis, orang-orang yang juga bekerja di manajemen seni. Jadi, pertemuan-pertemuan ini membuka lebar sekali diskusi dalam residensi waktu itu dan dan itu semua saya ambil kemudian saya tulis tapi juga dari diskusi diskusi itu juga menghasilkan apa yang teman-teman dengar di saya punya karya, sebenarnya. Jadi, ini yang saya juga baru alami, pergi residensi dan bikin karya pertama kalinya.

Saya kira itu berkesan sekali untuk saya pribadi. Ini jadi awal yang juga berarti pergi residensi tidak hanya soal bertukar atau sampaikan kegelisahan, tapi saya juga dapat apa atau saya juga bisa bagikan apa dari yang saya dapatkan tanpa saya cari tahu lebih dulu residensi itu sebenarnya apa, tapi bahwa yang MARANTAU tawarkan ini menarik dan saya menjalakannya dengan seru dan itu berhasil buat saya.

Dimas: Sebagai orang luar yang melihat, saya merasa Tika tidak melarat, dia pulang dengan keadaan sehat dan malah tambah gemuk sedikit. Tapi yang paling penting sebenarnya Tika berhasil dalam arti begini; saya secara pribadi mengenal Tika dengan kemampuan suaranya, kemampuan musiknya. Setiap kali kita acara di kampus pasti Tika yang jadi penyanyinya. Ketika karya yang dipresentasikan tuh dia bikin lagu sendiri bagi saya itu berhasil, tapi juga jadi catatan kritis.

Artinya Tika harus ke Jogja dulu baru bisa mengeluarkan potensi terbaiknya, jadinya harus ke pusat-pusat kesenian dulu baru bisa berhasil ya?

Riksa: Ini menarik sih. Kemarin saya sempat ngobrol sama Maya. Maya itu melihat celah di mana dia tahu potensi orang dari CV-nya. Dia itu mencari orang yang belum pernah residensi. Tika ini kebetulan di kolektif. Maya melihat potensi itu. Kayaknya Tika ini memang harus residensi supaya dia berjarak dari tempatnya dan dari “gerombolan” itu. Apakah individualitasnya bakalan terasah ketika dia jauh dari teman-temannya, dari ruang-ruang yang dia kenal, yang dia merasa nyaman. Alhamdulillah ya kalau berhasil dengan harus ke Jogja dulu.

Dimas: Kalau begitu dari Tika sendiri apakah memang keadaan ketika berjarak karena residensi mengharuskan kita pergi keluar dari tempat kita tinggal dan hidup sehari-hari, apakah itu memang memberikan pengaruh yang signifikan terhadap karya yang dihasilkan atau sebenarnya potensi itu sudah ada tapi ketika tadi ketemu orang lain yang bukan bukan dari latar belakang musik justru dapat inspirasi dan apanya dari situ atau bagaimana?

Tika: Keinginan untuk buat seperti ini sudah ada dan sejak pandemi itu saya jarang bergaul dengan musik. ketika pergi ke Jogja itu saya punya keinginan yang kuat sekali untuk bekerja dengan musik karena saya lagi kerja sendiri. Saya ingin buat sesuatu yang sangat saya, atau yang basicnya saya, saya punya minat.

Langsung terpikirlah soal ini, saya bekerja dengan medium musik. Apalagi residensi ini ada kak Riksa yang dari latar belakang seni rupa. Apa jadinya kalau saya dengan latar belakang yang berbeda berdiskusi dengan mereka, selain bahwa saya juga punya kolektif, Komunitas KAHE, yang bekerja juga dengan seni rupa. Saya ke Jogja juga akan turut mendengarkan atau berdiskusi soal seni rupa karena saya tidak ahli dalam seni rupa maka saya memutuskan untuk fokus dengan saya punya keahlian saja. Seni rupa di sini saya dengarkan saja, saya belajar bahwa di Jogja manajemen seninya sekian. Jadi, saya bukan cuma menginspirasi diri sendiri soal berkesenian, tetapi juga cari tahu soal manajemen seni.

Mungkin juga ketika berada di sana dan saya punya keinginan untuk bikin suatu karya, saya rasa berpengaruh juga meskipun tidak ada tuntutan untuk bikin karya, saya menuntut diri sendiri untuk buat sesuatu yang lain dari biasanya saya. Justru ketika saya ada di sana juga, saya punya pikiran banyak juga tentang apa yang saya buat di Maumere. Jadi, benar bahwa ketika saya di Jogja saya ketemu dengan orang-orang yang punya pandangan, pengetahuan yang lain tentang musik ini. Di sana saya juga bertemu dengan orang yang di eksperimental musik. Itu juga semakin memotivasi saya.

Saya bisa bicara tentang saya pu kegelisahan dengan medium musik dan musik yang bukan musik popular. Ini sebetulnya bisa jadi pembahasan lain lagi. Di tahun 2019, saat bikin rencana untuk lima tahun ke depan, salah satu rencana saya adalah bikin lagu tapi sampai saat ini belum kesampaian.

Ketika di Jogja, yang terjadi saya tidak hanya bikin lagu tapi ada juga tapi ada instrumen-instrumen dan lain sebagainya yang juga saya eksplor di situ. Ini penting juga karena saya tidak tahu apakah kalau saya tidak ikut residensi saya akan bisa bikin karya ini.

Jadi, saya kira pergi ke Jogja ada pengaruh yang kuat juga untuk saya. Ketika ke Jogja saya punya keinginan sekian dan keadaan mendukung dan mengharuskan saya untuk buat sekian. Tantangannya buat saya, apa saya bisa bikin lagi tidak di sini. Ini juga yang menjadi perhatian kami di KAHE, yaitu untuk mengembangkan pengalaman yang didapatkan teman-teman yang kemarin ikut program residensi seperti Aldo, Yohan, dan Gee. Kita yang sudah pergi residensi ini mau buat apa lagi ni di sini dengan pengalaman yang kita dapat di tempat residensi.

Aura: Gimana sih persiapan sejak MARANTAU berupa ide sampai kemudian jadi dan mengundang teman-teman dari luar Jogja. Prosesnya seperti apa?

Apakah ekosistem atau iklim seni di Indonesia menurut Kak Riksa sudah cukup mendukung untuk pelaksanaaan event-event semacam ini, misalnya kalau dari penyelenggara apakah gampang dapat dana? Kalau dari Tika, apakah gampang untuk mengakses data-data atau arsip-arsip yang diperlukan selama residensi?

Riksa: MARANTAU ini sebenarnya kita siapkan bersama dengan Goethe sejak tahun 2018-2019 sebelum Covid. Dulu MARANTAU itu proyeksinya adalah mengundang seniman Jerman dan seniman Global South. Kemudian karena Covid, kita akhirnya postpone dulu. Kita akhirnya berhenti dulu selama masa Covid berlangsung.

Terus di antara teror-teror Covid ini, kami kemudian sedikit demi sedikit berdiskusi soal ini. Apakah cukup mumpuni ide untuk residensi online? Nah, ketika kita berdiskusi kita menyadari bahwa residensi situ nggak bisa bisa online. Karena pada saat residensi itu kita butuh exchange dan bertemu dengan orang, sesama manusia dan juga alam sekitarnya, more than human: sesuatu yang di luar si manusia itu sendiri gitu. Misalnya, Tika. Dia mendengarkan sesuatu yang tidak didengarkan sama orang lain, sesuatu yang gaib gitu. Nah, itu kan bisa ditemukan kalau kita berangkat sebenarnya. Dari situ, karena ternyata online nggak akan mungkin, karena kita memegang teguh bahwa ini harus ketemuan. Kalau mau ketemuan, berarti harus melihat situasi sampai aman, sampai bisa melakukan perjalanan.

Ketika tahun kemarin 2021 itu kita mulai, itu sebenarnya sudah bisa nih kita mulai jalan, crossing border. Tapi, kemudian ini juga masih terbatas, artinya belum bisa yang dari luar negeri ke sini. Kita kemudian berdiskusi lagi sama Goethe. Kalau begitu gimana kalau kita fokus saja sama praktisi di Indoensia. Itu juga agak alot karena sebenarnya mungkin kita masih pengen untuk mendatangkan yang dari luar negeri. Namun, keadaan ternyata berkata lain.

Kemudian, akhirnya ketika itu difokuskan untuk yang Indonesia, saya sejujurnya secara pribadi lebih senang karena ketika dengan seniman asing ada kendala bahasa. Ini jadi sangat penting karena ada bahasa-bahasa dan konteks-konteks yang harus selalu kita terjemahkan. Ini terjemahannya bukan dalam artian Google Translate tapi sesuatu yang berkaitan dengan konteks sosial politiknya, terjemahin sesuatu di lingkungan kita yang jadi asing bagi mereka.

Ketika praktisi Indonesia ini datang bertiga: Tika, Wilda, dan Sidi datang itu kita menyatu karena, walaupun kita tidak mengenal konteks masing-masing karena tinggal di tempat yang berbeda (Maumere, Makasar, Bali), dan praktiknya itu juga beda-beda, tapi setidaknya itu bisa mereduksi penerjemahan konteks yang tadi agak sulit ketika itu bisa jadi seniman asing atau praktisi dari luar negeri. Ini sangat memudahkan dan ternyata  saya jadi percaya bahasa gitu. Ini berarti emang kita tuh harus punya bahasa yang sama. Saya jadi mengerti bahwa ada satu bahasa yang kita mengerti, ada konteks yang kita sama-sama mengerti ketika kita berkumpul bersama walaupun berbeda-beda daerahnya.

Dari situ, aku udah ngerasa ini keren juga nih. Lagi pula, kita nggak pernah mengenal “Indonesia” seperti apa. Indonesia yang kita tahu adalah selalu Jawa. Seperti yang Aura bilang, jangan-jangan memang infrastrukturnya ada di Jawa aja nih. Ini terlihat dari misalnya, bagaimana mudahnya untuk ketemu orang atau enggak mengambil data, ke perpustakaan. Ternyata, di Jogja itu sangat mendukung. Aku juga nggak tahu apakah Jogja ini memang kota seniman atau kota di mana orang bisa berkarya. Tapi, aku bahkan enggak bisa melihat ini kalau residensi ini digeser ke Bandung atau ke Jakarta.

Di Jakarta mungkin banyak orang, tetapi untuk berpindah dari satu titik ke titik lain itu sangat membuyarkan semangat entah itu karena macet atau udara panas. Jogja itu kota yang sangat unik karena kita punya pace sendiri. Bukan berarti di sini kita melambat. Suasananya jadi sangat kondusif untuk kita ngobrol dan ketemu orang, untuk janjian.

Di sini juga banyak pengetahuan-pengetahuan yang bisa nyambung dengan ketiga praktisi ini ketika mereka datang ke Jogja. Misalnya, Wilda yang mencari alternatif makanan untuk lidahnya yang tidak cocok dengan makanan Jogja. Apakah ini memang kita beruntung? Atau memang kondisinya di Jogja sangat kondusif ketika diadakan di sini.

MARANTAU ini juga sebenarnya ingin jadi program yang gantian gitu, dalam artian dia roaming ke beberapa daerah. Oke di Jogja udah selesai nanti pindah ke Maumere. Proyeksinya ke situ sebenarnya, supaya juga si infrastruktur tadi yang Aura sempat mention, itu juga kita bisa bangun sama orang-orang yang hidup dan menghidupi konteks tertentu, misalnya di Maumere. Karena jangan-jangan ini soal resource aja. Resourcenya selalu di Jawa dan enggak pernah dikirim ke luar Jawa. Kenapa Jawa selalu jadi pusat? Jangan-jangan karena resourcenya berputar di Jawa aja. Yang sudah jelas-jelas ada museum, duitnya ke museum lagi, yang pergi residensi ke Eropa tetap aja kurator-kurator di Jawa.

Kemarin saya sempat ngobrol sama Eka juga soal bagaimana praktik-praktik kerja ini kita bisa bayangkan sebagai opsi bahwa ada juga praktik-praktik selain membuat karya seni. Praktik mendengarkan juga jangan-jangan sebenarnya praktik kesenian atau kebudayaan yang sebenarnya juga kita pakai.

Aku khawatir jangan sampai seni rupa itu menjadi sesuatu yang hanya rupa. Kita cuma bisa tahu ketika itu ada bentuk. Ketika itu berubah menjadi suara, tulisan atau arsip itu jadi asing lagi dan itu jadi kayak, ”Oh ini bukan seni rupa nih”. Ini yang bersama-sama kami ingin dekonstruksi.

Kita mulai meretas apa itu seni rupa lewat apa yang sudah kita kerjakan, apa yang sudah kita percaya bahwa ini juga adalah cara-cara kita untuk melihat opsi-opsi lain dari seni rupa yang sebenarnya udah “ajek” gitu.

Aura: Tika ini juga kuliah di Ledalero dan punya akses ke data dan arsip-arsip. Praktik-praktik kesenian di Maumere sebenarnya jauh lebih “alami”. Kamu bisa menemui mereka yang bernyanyi dan bersyair di mana gitu dan itu bisa lebih cair. Kalau di Jogja gimana? Apakah seperti yang Riksa bilang ini sebenarnya cuma butuh duit doang untuk mengembangkan ini?

Tika: Di Jogja saya kira mudah untuk mengakses data, arsip, atau bertemu orang-orang. Tentu di Maumere lebih gampang lagi untuk bertemu orang-orang. Di Jogja, saya memang lebih banyak bertemu dan berdiskusi dengan orang-orang yang punya pengetahuan tentang wacana musik dan kesenian. Di Maumere kita bisa juga berdiskusi tentang wacana yang sama, tapi yang punya pengetahuan dan ahli di bidang itu ada di Jawa (Jogja).

Ketika saya di Jogja, saya bisa bertemu dengan mereka. Di Maumere kita juga bisa buat hal ini. Namun, ketika di Jogja saya tidak pertama-tama mau langsung belajar musik Jawa atau nyanyian Jawa, tapi justru lebih ke pertukaran wacana atau gagasan seputar seni.

Di Jogja saya bisa bertemu dengan orang-orang atau pelaku seni musik. Saya bertemu mereka untuk diskusi terkait apa yang mereka kerjakan. Saya ke sana tetapi malah berpikir tentang apa yang ada di Maumere. Saya ke sana tidak menempatkan diri saya sebagai turis yang penuh kekaguman terhadap Jogja.

Saya juga kaget ketika di Jogja saya dengar suara-suara sinden gitu pagi-pagi buta. Ternyata memang ini memang biasa di alami orang-orang yang baru. Ini menjadi satu tanda bahwa saya diperingatkan akan hal-hal yang juga kita percayai di Maumere.

Saya ke sini itu benar-benar saya ngobrol dan cerita dengan dengan orang-orang keadaan saya di Maumere sekian dan keadaan di Jogja Sekian dan kira-kira apa yang bisa kita sharing atau kita bagikan. Saya merasa sebagai orang yang tidak punya banyak hal berusaha mencari tahu apa yang mereka di Jogja buat sampe mereka bisa. Dan juga saya kira resource di sini juga berpengaruh.

Di Jawa hampir semuanya ada dibandingkan dengan Maumere misalnya, alat rekam saja susah didapat di Maumere. Kita di Maumere selalu berusaha untuk meretas situasi itu dengan menggunakan apa yang ada saja, tapi makin ke sini sepertinya kita harus rebut itu. Ketika ada obrolan soal teman-teman Indonesia timur perlu dilibatkan, saya kira ya ini harus disambut karena memang kita tidak punya resource dengan tetap kritis terhadap tawaran-tawaran itu.

Jadi, buat saya residensi seperti ini harus diberikan kepada mereka yang tidak pernah residensi, yang jarang residensi atau tidak punya resource karena itu penting.

Dimas: Sebagai orang yang menyelenggarakan residensi, menyediakan resourcenya tidak dapat dihindari yang namanya “relasi kuasa” misalnya antara mereka yang dianggap lebih ahli, lebih tahu, dengan peserta residensi yang datang sebagai pihak yang minim resource. Apakah sejak awal ada strategi yang bisa menegosiasikan relasi kuasa ini agar justru tidak membuat ketimpangan posisinya semakin kentara?

Riksa: Menurutku yang pertama-tama penting untuk disadari adalah bahwa di sini ada resource yang banyak. Strateginya adalah membuka kesempatan residensi ini untuk praktik-praktik yang tidak hanya di Jawa. Makanya, praktik-praktik yang kami lihat juga adalah yang jarang dibahas.

Soal relasi kuasa ini penting juga untuk dibahas. Waktu di awal kami dapat kesempatan untuk menyelanggarakan MARANTAU, kita juga menawarkan kepada Goethe bahwa kita sebenarnya ingin bikin platform yang sifatnya tidak dihosting sama institusi karena kita pingin percaya sama individu-individu, pekerja pekerja yang dulunya bekerja untuk institusi, yang biasanya ketika ada residensi itu di-hosting sama institusi, di mana hanya ada satu gedung atau ruang. Orang-orangnya tidak akan kelihatan; siapa yang bekerja, siapa yang lembur, siapa yang taking care, siapa yang hosting, siapa yang nyuci piring.

Di awal residensi ini, kita waktu ketemu tim (dokumentasi, desain, asisten residensi), kita bilang bahwa kita punya uang segini, kita akan meremunerasi kalian dengan jumlah sekian. Dengan menawarkan remunerasi dan jam kerja sekian, pertanggungjawaban kalian akan seperti apa? Kalau mereka merasa tidak cukup, kita akan negosiasikan.

Dari situ kita belajar untuk saling terbuka soal dana. Dari situ terjadi diskusi misalnya, kita setuju di awal kita enggak akan punya deadline, tapi yang kita punya adalah satu tanggal yang kita setujui untuk bertemu hari itu dan itu berarti semua orang harus bertanggungjawab.

Soal relasi kuasa, aku juga khawatir misalnya, apakah aku sebagai kurator harus “oh semua keputusan ada di tanganku!”? Kadang-kadang ini kita enggak sadari. Nah, untuk relasinya biar gak timpang, biasanya kita punya pertemuan seminggu sekali untuk ngobrol entah itu diskusi soal rumah, kita seminggu ini mau ke mana, apakah teman-teman yang residensi butuh bantuan, minta dianterin, minta dikenalin gitu. Itu kan juga kita pengen diskusi ini juga bisa meng-update bahwa apakah teman-teman ada yang tidak nyaman gitu dengan situasi ini, misalnya rumah bocor. Ini tidak enak sebenarnya menjelaskan situasinya, tapi kemudian harus disadari bahwa curah hujan di Jogja memang terlalu besar sehingga genteng rumahnya pecah-pecah. Hal-hal seperti ini kan perlu dijelaskan dan kemudian dicari solusinya bersama. Dengan ini sebenarnya kita mau tunjukkan ke teman-teman bahwa selain hal-hal teknis kita juga bisa bicarakan hal-hal yang sangat domestik.

Ada pernyataan dari Maya yang sangat menarik soal ruang aman. Konsep ruang aman itu gak ditentukan sama siapa yang menentukan itu, tapi itu harus dirasakan sama semua orang. Percuma kita ngomongin ruang aman kalau itu enggak dirasain sama kita semua. Hal-hal seperti ini adalah proses yang harus terus dicoba sampai orang-orang merasa nyaman untuk setting boundaries. Misalnya, ada yang tidak bisa meeting pagi karena dia tidurnya pagi. Hal-hal seperti ini kan enak kalau dikomunikasikan daripada membebankan satu orang.

Bentuk-bentuk transparansi ini yang coba untuk kita buka saat kerja di MARANTAU. Semoga ini bisa menjawab pertanyaan soal relasi kuasa itu, tapi dari pengalaman kami di MARANTAU mudah-mudahan mulai membaurkan garis-garis institusi atau bukan, ini individu, ini kurator, oh kurator itu bosnya. Ternyata kurator itu bukan bosnya. Ternyata kurator itu bukan bosnya, harusnya setara dengan seniman. Kita mencoba untuk membongkar-bongkar hierarki itu. Juga misalnya narasumber yang mau teman-teman temui.

Kita juga harus bertanya sama mereka, apakah ketika ngobrol sama teman-teman dia cukup nyaman? Apakah dia merasa dia juga belajar banyak dari Tika, misalnya? Ini bisa dilihat dari kita bukan cuma sekali datang, tapi obrolannya jadi kontinu selama residensi atau bahkan setelahnya.

Saya juga berharap ketika residensi ini beres, hubungan-hubungan yang sudah dijalin itu tetap ada. Ini sebenarnya pengen juga aku tes. Apakah ini berhasil? Apakah benih-benih yang kita udah simpan waktu di MARANTAU akhirnya bisa jadi pohon di kemudian hari?

Dimas: Apakah ada kemungkinan MARANTAU jilid 2 tapi dibuat di luar Jogja? Dan ketimbang kita membawa resource dari Jogja, apakah mungkin kita membiarkan peserta residensinya menggunakan segala sesuatu yang tersedia di Maumere? Mungkin tidak mereka bisa menghasilkan sesuatu? Mungkin tidak Tika bisa buat sesuatu yang lebih bagus dari kemarin kalau di Maumere saja?

Riksa: MARANTAU itu memang diprediksikan untuk jadi keliling yah. Cita-citanya itu. Tapi kemudian juga cita-cita yang lain adalah MARANTAU juga bisa jadi bentuk-bentuk yang lain selain residensi seperti jurnal, pertunjukkan, atau sesuatu aja yang bertransformasi sesuai sama siapa yang nanti akan ngambil kesempatan berikutnya dengan resource yang semoga tetap ada. Saya sih berharap MARANTAU akan ada lagi.

Dimas: Bagaimana Tika melihat fleksibilitas dan kebebasan yang diberikan selama residensi? Bagaimana Tika memposisikan diri ketika bertemu dengan orang-orang yang dianggap lebih ahli, lebih berpengalaman, apakah Tika sadar akan adanya ketimpangan atau relasi kuasa tadi?

Tika: Ketika mengikuti residensi ini, saya lebih ke menikmati gaya kerja yang lain. Saya juga bekerja di kesenian dengan cara kerja yang sekian dan ketika ke residensi MARANTAU sekian. Di residensi ini pun saya rasa kita sedang bekerja. Saya tidak merasa sebagai seniman yang datang dan harus bikin karya. Karena saya juga tidak punya pemikiran soal kalau ikut residensi ini kita sudah sah jadi seniman. Atau misalnya pada kasus lain, kalau saya sudah tampil di sini, sudah pameran di sini, saya sudah hebat.

Saya ikut residensi MARANTAU ini benar-benar mau merasakan cara kerja yang berbeda, mengalami situasi yang berbeda, tempat yang berbeda, stres dengan makanan yang berbeda. Saya tidak merasa bahwa saya hebat karena sudah residensi di Jogja ni dengan Goethe. Memang ada penyelenggara dan sebagai peserta saya mesti menjalankan kewajiban saya sebagai peserta, tapi tidak ada pikiran bahwa residensi ini bisa mengangkat nama si seniman selama saya ikut residensi kemarin.

Terkait relasi dengan narasumber, dari beberapa orang yang saya temui, ketika membicarakan sesuatu ada tahap di mana saya merasa saya tidak tahu hal ini. Sebaliknya mereka juga bertanya terkait hal-hal yang mereka tidak tahu dan ditanyakan pada saya. Di sini pertukarannya terjadi saya kira. Benar bahwa ada orang yang pengetahuan dan pengalaman berkaryanya lebih banyak, dan harus diakui saya juga ingin dengar hal-hal itu. Mereka tidak serta-merta mengatur saya untuk buat ini atau itu, tapi lebih ke bertukar pikiran dan bertanya apa yang mau saya buat. Diskusinya betul-betul terjadi.

Dimas: Bagaimana MARANTAU merespon fenomena adanya sejumlah program residensi yang justru menciptakan hegemoni atau dalam bahasanya Matther Salesses “Literary Imperialism”? Karena bisa jadi akhirnya orang punya pandangan bahwa kalau belum ikut residensi MARANTAU maka tidak bisa jadi seniman yang bisa menghasilkan karya-karya yang bagus?

Ini poin yang penting ketika kita bicara institusionalisasi. Ini jadi hal yang orang sembah, misalnya, “Oh, kalau sudah sudah ikut program ini lulusannya akan jadi lulusan yang hebat”. Makanya, dengan MARANTAU kami ingin ini digulirkan ke teman-teman lain. Ini harus ke orang yang berbeda, bentuknya bisa disesuaikan dengan visi, misi atau perspektif dari orang-orang yang akan memegang kesempatan atau program ini. Ini mungkin adalah cara untuk mendesentralisasi, bahwa ini tidak harus dipegang orang yang sama. Lalu orang itu kemudian jadi figur, jadi tokoh dan ketika kita melihat orang ini kita akan mengaitkannya dengan instutusi ini, dan institusi ini sudah menelurkan beberapa program dengan seniman-seniman hebat.

Ini yang secara personal saya ingin hindari. Ini kan jadi berhala lagi, orang menyembah ini lagi. Ini menakutkan bagi saya karena jadi kuasa baru lagi. Pengetahuan dan resourcenya juga berkumpul di situ lagi. Ini mending dirobohkan lalu kita dibikin ulang lagi, robohkan lagi, bikin ulang lagi. Itu biar perkembangannya jadi dinamis, diubah sesuai keadaan atau konteks dunianya.

Dimas: Terima kasih banyak untuk insight-insightnya Kak Riksa, terutama untuk KAHE sebagai sebuah institusi. Ini jadi catatan penting dan kritis untuk kami: Bagaimana kami melihat individualitas kami di tengah kelompok, apa yang bisa saya lakukan ketika menarik diri dari kelompok, apa yang ketika bersama kelompok bisa saya sumbangkan, dan tidak melulu kepada satu atau dua orang saja sebagai pusatnya.

Mohon maaf malam minggunya kita curi buat ngobrolin hal yang berat. Kami tunggu kedatangannya di Maumere. Terima kasih juga untuk Tika, Aura, Gero. Semoga percakapan kita bisa berlanjut terus.

Bagikan Postingan

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Kalender Postingan

Rabu, Mei 22nd