Komunitas KAHE Selenggarakan Workshop ‘Riset Seni dan Penciptaan Bersama’

Sebanyak 11 anggota Komunitas KAHE Maumere mengikuti workshop riset seni dan metodologi penciptaan bersama (collective creation). Kegiatan yang berlangsung dari Selasa (21/1/20), hingga Jumat (25/1/20) ini difasilitasi oleh Lusia Neti Cahyani, MN Qomarudin dan Antonius Maria Indrianto dari Teater Garasi/Garasi Performance Institute. Narasumber lainnya ialah Bapak Zaiunuddin dari kampung Wuring. Bapak Zainuddin berbicara tentang sejarah maupun etnografi perkampungan Wuring. Peserta workshop lainnya ialah tiga orang anak muda dari kampung Wuring.

Workshop hari pertama berlangsung pada Selasa, (21/1/20) dari pukul 10.44 – 19.24 WITA di kampung Gere. Bersama Lusi, workshop tahap ini berfokus pada community building. Sebagai bagian dari pengembangan institusi, peserta workshop diajak untuk melihat energi yang ada di dalam komunitas: kemampuan pribadi, kemungkinan pengembangan secara pribadi, serta kontribusi setiap anggota bagi pertumbuhan komunitas sesuai visi bersama. Pada kesempatan ini, peserta diminta untuk membuat visi pribadi lima tahun ke depan beserta kemungkinan pengembangan bagi keberlangsungan komunitas. Selain itu, diatur  juga distribusi kerja melalui program-program yang selama ini telah dijalankan oleh komunitas KAHE.

Sementara itu, pada workshop hari kedua, Bapak Zainuddin menjelaskan secara umum sejarah migrasi orang Bajo ke Maumere. Beliau juga menjelaskan struktur kampung, interaksi warga, konteks politik, serta pengaruh Wuring bagi Kabupaten Sikka. Antonius Maria Indrianto juga menjadi pembicara hari itu. Antonius berbicara tentang metodologi riset dan memberikan materi tentang metodologi Penelitian Pemberdayaan atau PRA (Partycipatory Learning and Action) sebagai acuan penelitian di kampung Wuring.

PRA merupakan sebuah metode pembangunan masyarakat yang berpangkal pada masyarakat itu sendiri. Dalam penjelasannya, Antonius menjelaskan secara umum maksud metodologi tersebut beserta urutan kerangka penelitian, sebagai berikut; orientasi kepada tim peneliti (workshop), desain penelitian, mengembangkan pertanyaan penelitian dan wilayah percakapan, studi lapangan tinggal di komunitas, penulisan hasil penelitian, pengarsipan/ foto, katalog, profil komunitas, video dokumentasi, analisa temuan, identifikasi temuan, menyusun narasi, menulis laporan penelitian akhir, dan presentasi.

Proses yang berlangsung selama tiga hari ini tidak semata-mata penjelasan teoretis, tetapi juga penerapan lapangan. Peserta workshop langsung pergi ke kampung Wuring untuk mempraktikkan materi tentang metodologi penelitian.  Saat melakukan penelitian lapangan, para fasilitator menemukan beberapa informasi umum tentang Kampung Wuring. Berdasarkan hasil evaluasi, para fasilitator bersepakat untuk membuat kajian lebih jauh tentang Kampung Wuring. Informasi-informasi umum seperti sejarah, soal sosial, politik dan budaya akan menjadi kajian lebih jauh.

Sementara itu, pada hari terakhir, Sabtu, 25 Januari 2020, MN Qomarudin menjelaskan metodologi penelitian Teater Garasi. Tahapan “Penciptaan Bersama” Teater Garasi (Bertolak dari Yang Ada, Bicara pada Dunia) adalah sebagai berikut, menetapkan dan merumuskan pertanyaan, kerja gali sumber, improvisasi, kodefikasi, komposisi, dan presentasi.

Metodologi yang dijelaskan oleh Qomarudin membantu para fasilitator untuk melihat kemungkinan pengembangan metode riset sesuai kebutuhan komunitas. Metodologi dijelaskan dan dipraktikan menggunakan bahan dan isu yang dipilih para fasilitator. Workshop berjalan dengan baik. (rio/elv)

Bagikan Postingan

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Kalender Postingan

Kamis, April 18th