Menjelajah Kerja Holistik Keproduseran, Refleksi Temu Produser Seni Pertunjukan Indonesia

Ruang perbedaan, atau ‘menjelajahi perbedaan’, adalah kata kunci yang saya garis bawahi untuk membuka catatan ini. Sejak awal, dialog kami berangkat dari kesadaran atas perbedaan praktik keproduseran kami. Ada yang berangkat dari kebutuhan ruang bersama, teater pelajar, kebiasaan ‘nongkrong dan ‘ngobrol bersama para pekerja seni, perkumpulan kajian seni, bahkan dari festival ke festival. Pertemuan produser ini, pertama-tama, mengajak kami untuk membentang kata kunci/kalimat kunci kerja keproduseran sebagai momen reflektif yang membawa kami pada kesadaran bahwa bentangan kerja produser ini tidak main-main banyaknya (dan penting).

Meminjam istilah teman-teman, kerja produser selalu dari hulu ke hilir. Sejak dari penentuan gagasan, perencanaan riset, pendanaan, perwujudan karya hingga penyelesaian hal-hal setelahnya, produser harus memastikan semua sesuai dengan yang direncanakan. Kerja yang sangat produktif itu juga dilakukan bersamaan dengan kerja-kerja reproduktif seperti merawat kelompok, penonton, jejaring, dan melakukan banyak negosiasi agar karya atau pertunjukan bisa hadir dengan selamat sampai tuntas. Kami menelusuri kerja-kerja itu perlahan-lahan seturut dengan materi dan diskusi yang kami lakukan bersama-sama selama empat hari. Tulisan ini adalah catatan sederhana dan refleksi personal saya atas apa yang telah dibuka dan dapat diteruskan ke depan dalam guliran diskusi forum produser ini.

Kerja-kerja Keproduseran: Dari Struktur, ‘Kontak’, Hingga Negosiasi

Apa yang berharga bagi saya dalam pertemuan produser ini adalah kami diajak untuk terlebih dahulu merunutkan pikiran agar apa yang sedang direncanakan menjadi lebih jelas dan terstruktur. Tampaknya mudah, tetapi pada kenyataannya hal itu seringkali disepelekan. Bersama Pak Pranoto, seorang ahli dan fasilitator manajemen organisasi, kami belajar untuk membuat proyek, dimulai dengan pengertian yang tepat atas proyek, hingga bergulat dengan tujuan kegiatan, sasaran, hasil, penyusunan kegiatan, anggaran kas, pengawasan, pengendalian, dan evaluasi kegiatan.

Ada dua catatan penting menurut saya dalam kerja bersama di sesi Pak Pranoto. Pertama, kerja perancangan proyek merupakan upaya kita untuk berpikir secara logis dan sistematis. Kerja yang tidak sistematis membuat proyek yang sedang atau akan kita kerjakan tidak terumuskan dengan baik atau bahkan kehilangan poin-poin pentingnya. Maka dari itu, konstruksi logika amatlah penting dalam kerja keproduseran. Kedua, tinggalkan legacy yang baik untuk meminimalisasi atau bahkan menghindari ketergantungan pada kerja salah satu atau sebagian orang saja.

Hari-hari selanjutnya, kami menelusuri praktik keproduseran melalui pengalaman para produser senior, yaitu Yudi Ahmad Tajudin (sutradara dan produser Teater Garasi/Garasi Performance Institute), Heri Pemad (pendiri dan direktur artistik Artjog), Helly Minarti (peneliti dan kurator seni pertunjukan), dan Alia Swastika (kurator seni rupa dan direktur Yayasan Biennale Yogyakarta). Kerja keproduseran yang mereka lakukan tak lepas dari ‘kontak’—upaya menyambung dan saling tersambung dengan pihak-pihak lain di luar dirinya, baik pengalaman kontak terhadap hal-hal yang bersifat teoretik seperti diskursus dan ilmu pengetahuan, kemudian menempuh praktik artistik, mengolah modal sosial sebagai strategi perluasan jaringan karya dan donor, hingga kontak terhadap publik.

Yudi, bersama Teater Garasi, menawarkan salah satu kata kunci kerja keproduseran yaitu katalisator: menyebabkan perubahan, kejadian baru, mempercepat suatu peristiwa, dan bersifat saling memengaruhi. Ia juga menekankan bahwa seorang produser perlu mempunyai visi yang baik sehingga dapat memetakan ruang lingkup kita: menyadari ruang kritis atas tatapan maupun struktur kuasa yang bekerja di sana; dengan demikian kita dapat menentukan posisi diri, sikap, dan siasat yang tepat.

Praktik keproduseran Heri Pemad ditempuh melalui Artjog (yang telah berjalan selama kurang lebih 15 tahun) dengan upaya menanam modal kepercayaan kepada seniman dan kolega seni, para jejaring kolektor dan donor, juga kepada masyarakat, agar seni hadir sedekat-dekatnya dengan publik. Kerja-kerjanya adalah nglakoni, terus menjalani, memiliki, dan mengalaminya.

Helly Minarti menautkan praktik keproduseran dan kuratorialnya pada pengalamannya bepergian, berkontak, dan bercakap dengan orang lain dalam lintasan seni pertunjukan global. Pengalaman kontak itu membuatnya terpapar dengan bahasa wacana, ilmu pengetahuan, kultur baru, dan jejaring baru yang sebelumnya tidak ia ketahui. Dari pengalaman itulah Helly dapat melakukan pembacaan atas medan seni global, dari festival ke festival, hingga forum-forum lintas negara sebagai bagian dari praktik dekolonisasi pengetahuan.

Kerja keproduseran dan peran ganda Alia Swastika sebagai direktur-kurator banyak dipengaruhi oleh ‘kontak’. Pengalamannya berkontak langsung dengan masyarakat sekitar menggeser perspektif Alia dalam melihat seni; baginya seni bukan hanya suatu produk. Pengalaman itulah yang mendorong banyak perubahan pada Biennale Yogyakarta yang ia kerjakan; tahun ini merangkul wacana translokalitas: menarik narasi dari pinggiran, menciptakan pertemuan antara praktik seni rupa kontemporer dengan masyarakat kota dan lokal pedesaan.

Baik Yudi, Heri, Helly, maupun Alia, sebagai seorang produser dengan praktik yang berbeda-beda (dan seringkali mengalami tarik-menarik antara peran seniman-produser ataupun kurator-produser), mereka juga melakukan kerja-kerja regenerasi dan menjaga jaringan yang berada di dalam lapisan praktik kesenian mereka. Hal ini menjadi poin penting karena kerja keproduseran adalah kerja estafet. Kerja-kerja semacam ini perlu usaha perawatan yang panjang, juga memperhatikan etika kontak agar kesalinghubungan terjaga dengan baik.

Perspektif Feminis dalam Kerja Keproduseran

Pengalaman berada dalam percakapan bersama mengenai kerja keproduseran ini berpantulan dengan praktik keproduseran saya (pada saat yang sama juga sebagai sutradara) bersama kolektif saya di Solo. Mirat Kolektif dirintis karena adanya kebutuhan atas ruang aman untuk berproses kreatif bersama. Sejauh kurang lebih lima tahun ini kami bersepakat untuk belajar menggunakan metode dan etika feminis dalam berkolektif, termasuk dalam berkarya. Proses kreatif Mirat dalam dua tahun terakhir ini menelusuri karya dan pemikiran seorang penulis perempuan tahun 1950-an, S. Rukiah. Bersamaan dengan berjalannya proses karya tersebut, saya bersama kawan-kawan Mirat menyadari bahwa selain sebagai ideologi penciptaan, perspektif feminis juga perlu ditajamkan dalam praktik kerja keproduseran.

Kerja keproduseran dengan perspektif feminis—setidaknya yang saya yakini—adalah kerja yang tidak tunggal dan individual, tetapi selalu melihat kepentingan bersama, mengupayakan kerja kolektif yang kritis dan saling membangun. Semua itu berarti tak hanya mengakui kerja-kerja produktif yang berhubungan dengan keberhasilan pertunjukan, tetapi juga menghargai kerja-kerja reproduktif yang menopangnya. Beberapa praktik yang telah saya tuliskan di atas, seperti membuka jejaring, merawat penonton, negosiasi-negosiasi yang harus dilakukan di balik perjalanan suatu karya, juga termasuk kerja estafet produser, adalah kerja-kerja reproduktif yang banyak dilakukan oleh perempuan—dan seringkali dilupakan, tak tercatat, menguap di balik karya besar yang justru ditopangnya.

Catatan yang juga penting bagi saya adalah kerja keproduseran dengan perspektif feminis dapat membuka ruang lebih lebar untuk karya-karya perempuan. Ini tidak hanya berhubungan dengan akses dan cara kerja, tetapi juga bagaimana seorang produser melihat karya, menilai estetika karya perempuan, dan mengakuinya sebagai sebuah eksplorasi yang serius. Saya menuliskan ini karena bahkan sampai sekarang seringkali karya perempuan dianggap tidak serius, tidak eksploratif, dan hanya dijadikan token agar tidak all male panels. Melihat karya perempuan secara serius juga berarti membuka ruang pembacaan kritis terhadap karya-karya seniman perempuan, diskusi yang terus bergulir, dan memungkinkan ruang pertumbuhan yang aman bagi perempuan. Dengan demikian, karya-karya seniman perempuan yang barangkali selama ini tidak pernah punya ruang untuk dipertunjukkan, dibahas, dan dicatat, memiliki peluang untuk disebarluaskan dan dihubungkan dengan jejaring yang memungkinkan karya-karya tersebut berkembang.

Saya sendiri menyadari bahwa kerja-kerja semacam ini memerlukan waktu yang panjang dan jalan yang tidak mudah, tetapi bisa terus diupayakan bersama. Dalam pengalaman kerja saya sebagai salah satu anggota Komite Sekolah Pemikiran Perempuan, kerja keproduseran dengan perspektif feminis dimaknai bersama sebagai sebuah keterbukaan yang kritis, baik dalam penyusunan program, wilayah kerja, wilayah administrasi seperti distribusi keuangan, hingga distribusi pengetahuan. Saya merasa nyaman berada dalam lingkungan kerja semacam itu dan menyadari tantangan ketika saya berada di luar lingkaran para puan. Di luar sana, dalam ekosistem seni pertunjukan, masih banyak praktik yang mengabaikan perspektif feminis maupun karya dan pemikiran perempuan. Imbasnya, kerja-kerja reproduktif tidak dihargai dengan layak sebagaimana mestinya, seniman perempuan tidak mendapatkan kesempatan untuk berkembang dengan aman, dan banyak kantong kebudayaan yang masih belum mengenali ruang ataupun pergerakan perempuan. Di sinilah, menurut saya, urgensi untuk menimbang perspektif feminis dalam kerja-kerja keproduseran seni pertunjukan, terutama dalam perumusan kebijakan dan berbagai hal yang berhubungan dengan lingkup kerja keproduseran.

Apa yang berlangsung dalam forum produser ini sebetulnya sedikit banyak telah menyentuh kemungkinan perspektif feminis. Saya ingat bahwa obrolan kami dalam forum produser ini banyak membicarakan tentang kemungkinan berbagi sumber daya. Kolaborasi, berbagi sumber daya, saling terhubung dan berafiliasi, adalah kata-kata kunci dalam kerja-kerja dengan perspektif feminis.

Jika kesadaran atas perspektif feminis sudah dimulai sejak saat ini (tidak hanya berada dalam wilayah gagasan karya, tetapi juga sejak awal kerja keproduseran itu sendiri) maka mimpi-mimpi kami semua mengenai kerja kolaboratif, berbagi sumber daya, saling mengenali ruang pergerakan antar komunitas, dan saling merawat jejaring, dapat terjalin kuat bersama. Kerja-kerja keproduseran dapat membuka ruang-ruang alternatif, ruang yang mempunyai posisi tawar lain di hadapan ruang-ruang otoritatif dalam ekosistem seni pertunjukan kita.

Penutup

Catatan ini saya akhiri dengan satu istilah: kerja produser adalah kerja yang holistik. Kerja yang menyeluruh (meski juga tak perlu dibilang utuh, karena ketidakutuhan juga merupakan konsekuensi dari kerja ini), kerja yang mengupayakan pertumbuhan semua lini dengan seluruh potensi yang ada. Mengupayakan pertumbuhan juga berarti menerima kegagalan sebagai sebuah pengalaman dan produksi pengetahuan. Kerja produser yang holistik—juga yang feminis—adalah kerja yang memeluk semua kekurangan dan keterbatasan sebagai bagian dari perjalanan panjang merawat keberlanjutan kesenian untuk kita, untuk semua manusia.

Catatan ini diterbitkan ulang dari terbitan digital Merimpang dan Menjalar dari Balik Layar, disusun dan disunting oleh Rama Thaharani dan Rebecca Kezia. Terbitan tersebut memuat refleksi partisipan forum temu produser seni pertunjukan fokus Indonesia (berlangsung di Yogyakarta) dan fokus Asia Tenggara (berlangsung di Jakarta) pada 2023 silam. Luna Kharisma adalah salah satu peserta observer di forum Yogyakarta.

Bagikan Postingan

Subscribe
Notify of
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] berdasarkan kekayaan praktik dan kenyataan produksi kemudian diperkuat lewat refleksi bersama. Luna Kharisma dan Maria Pankratia berbagi refleksi mereka tentang forum yang berlangsung di Yogyakarta dan […]

Kalender Postingan

Kamis, April 18th