Identifikasi Identitas

: oleh Dwi Januartanto*

 

Dalam identifikasi tentu ada si pengamat dan yang diamati. Dalam residensi Lumbung Kelana ini, aku datang sebagai perupa yang terlanjur telah terbekali sebaki paradigma, entah itu kultural, estetik, ataupun filosofis. Dalam kadar tertentu, aku terus-menerus mengukur batas-batas pengetahuan subjek-objek antara aku dengan Komunitas KAHE. Aku terus menakar, baik paradigma personal dari anggota atau paradigma kolektif tentang karya dan program-program yang telah mereka kerjakan, secara seni, budaya, sosial, politik, dan ekonomi.

Sejak hari pertama sampai di Maumere, aku merasa teman-teman KAHE secara mayoritas adalah orang-orang yang suka berbincang. Karena itu, di hari-hari berikutnya, saat kami berkeliling ke situs-situs sejarah selama kurang lebih seminggu, yang aku perhatikan bukan hanya sejarah tempat-tempat yang dikunjungi dan program seni yang telah dan sedang dilakukan KAHE, tetapi juga cerita dan konteks yang disampaikan oleh Gero dan Megs, selain tentu saja aktivitas berbincang dengan orang-orang yang kami kunjungi. 

Selama seminggu itu pula aku mencoba untuk memahami paradigma teman-teman KAHE khususnya Dede Aton, Gero, dan Megs. Hal itu aku lakukan agar bisa lebih fokus dan intim. Sebuah kutipan dari Simone Weil biar aku coba masukan sebagai pernyataan pendukung, “semua orang tahu bahwa percakapan yang benar-benar intim hanya mungkin antara dua atau tiga. Segera setelah ada enam, atau tujuh, bahasa kolektif mulai mendominasi”. Aku kira itu betul dan bagiku navigasi yang KAHE paparkan dengan serius ataupun santai adalah gambaran perspektif mereka, dalam upaya mempresentasikan gagasan kolektif mereka secara sosial. Hal ini penting untuk ditangkap dan dirasakan agar tidak terjebak dalam sudut pandang subjektif yang cenderung suka mengobjektifikasi hal-hal yang liyan.

Hingga di kunjungan terakhir, aku memutuskan untuk membuat karya yang sebagian adalah perspektif, sebagian perspektif KAHE, dan sebagian lagi hal yang kami jalin dalam komunikasi. Aku sengaja memilih medium yang dirasa mampu menampung tiga aspirasi tersebut.

Singkat cerita setelah kunjungan terakhir kami di rumah pak Viktor yang adalah keponakan Piet Petu, aku merasa data yang aku butuhkan sudah cukup terakumulasi: cerita tentang budaya Krowe, dekolonialisasi, adat-istiadat, politik, perubahan, konflik serta semangat kekinian.

Secara estetik di pikiranku terngiang kata-kata “watu pitu, nitu, tuhan-hantu”. Aku ingin membuat karya dengan kata-kata ini. Hal ini sempat aku obrolkan dengan Gero saat kami naik motor di perjalanan pulang menuju studio KAHE. Aku sadar nalar semacam itu merupakan kebiasaan yang telah menubuh di alam bawah sadarku. Di masyarakat Jawa, kami terbiasa dengan celoteh konseptual “gotak gatik gatuk” yaitu menyambungkan hal-hal yang asosiatif baik secara bunyi, pemvokalan, ataupun pengertian dari masing-masing kata yang saling kait kelindan, bertaut, juga bertentangan.

Dalam proses penciptaanya, aku menyampaikan pada KAHE akan membuat tujuh lukisan wajah perwakilan anggota KAHE, juga meletakkan tujuh batu yang di atasnya dipasang lampu pijar 5 watt. Angka 7 dipilih karena mayoritas watu mahe berjumlah 7, meski ada juga yang sampai 10. 

Aku membuat lukisan dengan ukuran perbandingan pas foto. Hal ini dimaksudkan agar berasosiasi dengan foto-foto yang digunakan di kartu-kartu identitas formal seperti kartu tanda penduduk, ijazah, SIM dan surat formal lain. Dalam prosesnya, sebelum melukis aku memotret masing-masing anggota KAHE dengan pakaian yang mereka nyaman dan meminta nama apa yang pas untuk dituliskan. Aku juga meminta sebuah kutipan pendek yang merepresentasikan diri dan semangat mereka. Terkecuali Tika Solapung, dengan enam teman lainnya: Dede Aton, Gero, Megs, Marcel Jansen, Qikan, dan Bang Rizal terjadi interaksi secara langsung. 

Proses penciptaan ini sangat menarik. Aku cukup berhati-hati dengan artistik, karena berkaitan dengan identitas personal. Terlebih lagi, aku tidak memiliki kemampuan melukis potret wajah yang bagus selain tidak terbiasa melukis di depan orang. Karena itu, aku memilih memakai proyektor untuk mensketsa wajah dan tulisan, setelah itu baru mengecatnya.

Strategi artistik ini dipilih semata-mata agar tidak terjadi pergeseran maksud dari karya secara keseluruhan dan demi menunjang kecepatan proses. Yang juga perlu aku sadari dengan sungguh adalah bahwa aku bukan Walter Spies ataupun Paul Gauguin. Aku hanya ingin berkomunikasi dalam derajat yang setara, berbagi sudut pandang serta refleksi untuk satu sama lain dan meletakkan tanda berupa karya rupa. 

Secara garis besar, bagiku karya ini bicara soal spirit lokalitas yang direpresentasikan oleh watu mahe serta proses eksistensial yang sedang dilakukan Komunitas KAHE dalam mengarungi perubahan zaman, diantaranya adalah hal-hal yang bersangkutan dengan identitas, musyawarah, peran, kepercayaan, harapan, kehidupan, kematian, legasi jangka pendek atau legasi ke generasi selanjutnya.

Lamongan, 2022

*Bisa dipanggil Januar.
Lahir di Lamongan dan lebih mengenal dunia seni ketika kuliah di Universitas Negeri Surabaya.
Selain menciptakan karya-karya yang bersifat personal, ia juga seringkali menginisiasi aktivitas komunal yang spontan. Tahun 2011, ia mendirikan komunitas Serbuk Kayu bersama kawan-kawannya, 2012 membuat grup performans Noise Brut, 2019 ia sempat menggelar pameran tunggal pertamanya yang bertajuk “Angst” di C2O Library and Collective, Surabaya. Beberapa waktu ini ia sedang sibuk dengan aktivitas bertani dan merenung, sesekali berkarya.

Bagikan Postingan

Subscribe
Notify of
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] bisa menjadi sebuah Wonderland bagi Hananingsih Widhiasri (Hana) dan Dwi Januartanto (Januar) yang datang dari Jawa untuk melakukan residensi. Maumere tidak benar-benar asing, tetapi […]

Kalender Postingan

Rabu, Mei 22nd