l1

COVID-19: Kala KM Lambelu Bikin ‘Gemas’ (Analisis Video Amatir Kedatangan Kapal Penumpang Lambelu di Pelabuhan Laurensius Say-Maumere dalam Youtube Kompas TV)

Oleh Elvan De Porres

Pandemi corona virus Covid-19 tidak hanya mengganggu kesehatan fisik, tetapi juga memberikan efek bagi psikologi manusia berupa kepanikan, kecemasan, bahkan ketakutan (Torales et al., 2020). Kepanikan itu terwujud dalam beragam bentuk aktivitas, seperti pemborongan bahan makanan (theatlantic.com, 26/3/2020), penolakan jenazah pasien (kompas.com, 13/4/2020) atau dalam skala yang lebih luas inisiatif kewargaan untuk melakukan lockdown lokal.

Sementara itu, dampak lain dari pandemi ialah merosotnya pertumbuhan ekonomi karena tutupnya sejumlah lapangan pekerjaan (Peterson & Arun, 2020) dan timbulkan pengangguran.

Para pekerja di perkotaan ataupun di tanah rantau memutuskan untuk pulang kampung karena tidak bisa lagi bekerja dan mendapatkan penghasilan.

Kampung halaman menjadi semacam pertahanan terakhir sebab di sana mereka masih bisa makan dan bersolidaritas satu sama lain selain kampung itu sendiri dianggap menyediakan pasokan pangan bagi masyarakat kota (lingkar-desa.com, 6/4/2020).

Artikel ini hendak menyoroti sebuah video amatir tentang situasi “pulang kampung” tersebut, terutama terjadi di atas kapal KM Lambelu sebelum kapal ini bersandar di pelabuhan Laurensius Say Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Video tersebut dikompresikan ke dalam pemberitaan media Kompas TV Regio Kupang dan kemudian timbulkan reaksi beragam, terutama pada sebuah kejadian yang berlangsung di atas kapal.

Lebih dalam, tulisan ini menganalisis kejadian di video tersebut, yakni lompatnya beberapa penumpang ke air laut. Tulisan ini juga memeriksa komentar-komentar pada laman youtube Kompas TV yang menyajikan informasi tersebut.

Adapun beberapa pertanyaan yang diajukan sebagai berikut, 1) Mengapa terdapat penumpang yang melompat dari kapal?, 2) Bagaimana reaksi warga Maumere terhadap kejadian dalam video tersebut?, 3) Bagaimana tanggapan-tanggapan warganet dalam komentar pada laman youtube Kompas TV tersebut?

Pendekatan yang dipakai ialah deskripsi kualitatif dengan melihat citraan virtual pada tayangan youtube didukung data berupa sejumlah wawancara dengan warga dan analisis pemberitaan lain terkait kasus tersebut.

Asumsi yang dimunculkan ialah kepanikan akibat Covid-19 menyebabkan orang menjadi latah dalam mengambil suatu tindakan serentak memberikan komentar atas tindakan itu. Selain itu, pengaruh media baru yang terwujud dalam teknologi menjadi faktor pemicu lain yang mendorong adanya kepanikan tersebut.

Dalam tayangan youtube pada 7 April 2020, Kompas TV Regio Kupang menyajikan sebuah berita tentang bersandarnya KM Lambelu di Pelabuhan Laurensius Say, Maumere. Video berita tersebut berjudul “Dilarang Bersandar, Penumpang KM Lambelu Nekad Terjun ke Laut” dengan beberapa subjudul berita dan memiliki durasi satu menit empat belas detik.

Informasi kunci yang disampaikan berita tersebut ialah video amatir yang dibuat di atas kapal tentang terjunnya penumpang ke air laut. Video tersebut menjadi pembuka dan hampir mendominasi isi pemberitaan. Video footage lainnya menyoroti badan kapal dari jauh,dari arah pelabuhan juga situasi di atas kapal motor tim SARS.

Kemungkinan dua video terakhir ini dibuat oleh jurnalis Kompas TV ataupun anggota tim SARS yang sedang bertugas. Sementara itu, video amatir dibuat oleh penumpang yang berada di atas kapal.

Video amatir itu pertama-tama menunjukkan orang-orang sedang berdiri-berkerumun di tepi deck kapal dan melakukan beberapa aktivitas. Ada yang bersandar di pagar; ada juga yang lalu-lalang. Meskipun begitu, pergerakan video ini tampak tidak stabil dan bergoyang-goyang seiring dengan perpindahan suasana dari orang-orang di atas kapal ke lautan lepas.

Tiba-tiba video ini kembali menyoroti badan kapal dan kemudian menangkap momen lompatnya seseorang ke air laut. Laut yang biru menampakkan titik buih karena ada tekanan dari atasnya. Pada saat yang bersamaan video ini juga merekam suara teriakan orang-orang; ada yang menangis, ada juga yang menjerit histeris.

Setelah itu tayangan video menyoroti situasi di dalam kapal, tampak beberapa kursi kosong, tetapi yang menarik perhatian ialah adanya beberapa orang berseragam putih sedang duduk ataupun berdiri, kelihatannya mereka sedang mendata para penumpang. Mereka merupakan para petugas kesehatan.

Dari judul berita tersebut diketahui bahwa para penumpang yang melompat ke laut disebabkan oleh adanya larangan bersandar bagi kapal KM Lambelu.

Larangan itu dikeluarkan oleh Bupati Sikka setelah terdapat informasi tiga orang penumpang kapal positif terinfeksi Covid-19. Tentu saja untuk mendapatkan alasan kenapa ada penumpang yang melompat dibutuhkan wawancara langsung dengan mereka.

Namun, dari analisis pemberitaan, dapat ditarik simpul bahwa kemungkinan besar mereka yang melompat itu karena tidak puas atas larangan itu. Mereka sudah berhari-hari berada di kapal -kapal ini berangkat dari Nunukan, Kalimantan Utara- dan tentu saja mereka tidak ingin merasa kecewa atau dikecewakan karena tidak jadi tiba di kampung halamannya.

Kemungkinan lainnya, mereka panik atau cemas untuk diperiksa oleh petugas kesehatan yang saat itu sedang berada di atas kapal. Apalagi beredar juga informasi tentang adanya pasien positif Covid-19 di moda transportasi laut tersebut.

Gambar 1 Tayangan awal video amatir suasana riuh di atas kapal.

Pada lain hal, si pembuat video amatir ini barangkali juga dilingkupi perasaan kaget melihat keriuhan di atas kapal. Atau boleh jadi, dia sendiri juga alami keriuhan itu. Dia terkejut dengan situasi itu dan kemudian mengambil atau merekam gambar. Video ini kemudian beredar cepat di sejumlah akun-akun media sosial, termasuk grup-grup WhatsApp.

Media, dalam hal ini Kompas TV Regio Kupang, kemudian memakainya menjadi bahan pemberitaan. Pihak media, dalam hal ini jurnalis dan editornya, lantas memberikan interpretasi dengan membuat judul mengenai penumpang yang nekad terjun ke luat karena kapal dilarang bersandar. Selain itu, dalam konteks tertentu, dapat juga dilihat bahwa informasi potongan dari warga diubah menjadi produk suatu industri pemberitaan tanpa jurnalisnya mencari tahu lebih jauh. Komodifikasi informasi sedang terjadi.

Gambar 2 Tayangan video amatir lompatnya penumpang ke air laut.

Dalam wawancara dengan beberapa warga Maumere yang sempat menonton video itu didapatkan informasi bahwa sebagian besar narasumber (warga) mengutuk ataupun memarahi mereka yang melompat. Warga mengatakan mereka itu orang bodoh, mau cari mati, tidak sayang nyawa. Akan tetapi, ada juga yang menaruh kasihan kepada mereka.

Kelompok ini katakan bahwa mereka yang melompat itu sedang dalam keadaan dilema; mau bertahan terus di atas kapal atau segera bertemu anggota keluarga. Kelompok lainnya memberikan rasa simpati kepada Bupati Sikka karena pemimpin daerah itu juga kelihatan serba salah; menerima anak-anaknya yang mau pulang kampung ataukah membuka keran bagi persebaran virus.

Perbedaan resepsi macam itu sangat jauh berbeda dari temuan pada kolom komentar Kompas TV Regio Kupang. Hampir semua komentar bertendensi negatif kepada para penumpang. Mereka juga menyalahkan pihak kapal yang membawa para penumpang tersebut. Hampir-hampir tidak ditemukan komentar-komentar yang netral ataupun bersimpatik kepada orang-orang yang melompat tadi.

Ada juga yang memberikan tanggapan negatif kepada Bupati Sikka yang kemudian dibalas dengan sejumlah pembelaan dalam komentar-komentas yang lain. Dalam lajur ini, kemarahan sebagian warga Maumere dalam kondisi langsung/nyata berpindah ke ruang virtual dengan bentuk yang makin membabi buta yang mana kaum pengomentar bisa datang dari mana saja (baca: bukan warga Maumere).

Gambar 3 & 4 Tangkapan layar komentar-komentar warganet terhadap video pemberitaan Kompas TV Regio Kupang.

Namun, komentar-komentar tersebut tidak selamanya mendapatkan penghakiman tertentu pula. Gordon Gray dalam bukunya berjudul “Cinema, A Visual Anthropology” menegaskan pentingnya memahami konteks resepsi konsumen media. Meskipun Gray menaruh fokus pada pembahasan berkaitan dengan “cinema” dan bukannya video amatir ataupun tayangan berita youtube, tawaran gagasannya perihal pemahaman atas konteks resepsi ini menjadi penting sebab di situ bisa dilihat bagaimana kerja media dalam membentuk wacana publik serentak bagaimana publik menempatkan diri atas informasi tersajikan.

Memang memahami apa yang dipikirkan penonton dan visualisasi media yang ditampilkan membutuhkan waktu ataupun kerja yang agak lebih lama (Gray, 2010: 110). Terlepas dari itu, dalam amatan yang masih terbilang dini dapat dikatakan bahwa orang-orang yang memberikan komentar itu berada dalam suatu kondisi besar perkara kecemasan terhadap pandemi Covid-19 tersebut.

Sebagai penutup, pertama, dari pembahasan tersebut, ditarik kesimpulan bahwa warga yang melompat tersebut bisa jadi disebabkan oleh perasaan panik, tetapi mungkin juga kecewa terhadap keputusan larangan bagi kapal untuk bersandar. Mereka panik karena di kapal itu terdapat pasien positif Covid-19 sehingga mereka memutuskan untuk terjung ke laut sembari berharap bisa berenang sampai ke tepian. Mereka kecewa karena mereka sudah berada beberapa hari di atas kapal dan tidak mungkin mereka harus berlama-lama lagi padahal kapal sudah mendekat ke arah pelabuhan.

Kedua, reaksi warga Maumere yang beragam menunjukkan mereka tampaknya paham betul situasi yang terjadi dan tahu konteksnya seperti apa. Ada yang marah-marah, tetapi ada juga yang memberikan simpati. Walaupun begitu, semua narasumber ini menonton juga potongan video amatir tersebut. Di sini mereka mengalami dua situasi: merasakan suasana perihal kedatangan kapal, entah dengan melihat langsung ataupun tidak, dan menonton video yang tersebar tersebut.

Ketiga, komentar-komentar pada laman youtube Kompas TV Regio Kupang menunjukkan bahwa warganet memang betul-betul hanya memperhatikan video dan isi pemberitaan yang mana boleh jadi mereka sendiri tidak paham atau tidak mengalami kondisi waktu kapal hendak berlabuh. Di sini dapat dilihat bagaimana media menjadi faktor untuk memainkan emosi orang. Dalam kaitannya dengan pandemi corona virus Covid-19, media dalam hal ini Kompas TV Regio Kupang, menjadi agen penyebar ketakutan ataupun kepanikan baru dengan judul berita yang sungguh mengundang perhatian.

 

 

Bagikan Postingan

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Kalender Postingan

Senin, Juli 15th