Biarkan Tubuh Bicara (Kisah Para Waria di Wuring)

Oleh Rio Nuwa –

Waktu menunjukan pukul 7 malam. Warga sedang ramai di jalan kecil yang membelah dua deretan rumah di sisi barat dan timur Kampung Wuring. Magrib telah lewat sejam dan keramain tampak di sepanjang jalan. Anak-anak berlarian, saling mengejar satu dengan yang lain. Beberapa warga duduk berkelompok dan saling berbagi cerita. Satu-dua kendaraan roda dua menyusuri jalan itu. Saya bersepeda motor ke arah utara, ke kampung ujung, ke arah Masjid apung. Revo yang dipinjamkan bapak, saya parkir agak ke tengah kampung. Sambil menenteng tas yang berisi buku catatan dan sebuah jeket jeans, saya berjalan. Saat itu tiba-tiba saya teringat Mayora, salah seorang waria dari desa Habi.

Di antara kalangan waria kota Maumere, Mayora cukup punya pengaruh. Ia terlibat dalam organisasi dan berbagai kegiatan pelatihan serta workshop tentang LBGT. Selain banyak bergaul, ia punya sejarah pendidikan yang baik. Itu sebabnya, ia lebih cair jika diajak diskusi. Atas dasar itu, saya berinisiatif menghubunginya, bertanya tentang kemungkinan menemukan teman-teman waria yang berasal dari kampung Wuring. Malam itu, saya memutuskan untuk menemui salah seorang Waria dari kampung Wuring.

Saya agak lega setelah Mayora memberi beberapa nomor ponsel teman-temannya: Haji Mona, Madam, dan Lisa. Nomor pertama yang saya hubungi ialah Haji Mona. Saya mengiriminya pesan whatsapp. Ia tidak membalas. Begitu pun Madam, juga Lisa.

Setelah menunda beberapa saat, saya memutuskan untuk langsung menelpon. Lisa adalah waria pertama yang mengangkat telpon saya. Kami saling menyapa. Sayang sekali, saat itu ia tidak berada di tempat. Ia sedang mengurus suatu keperluan di Kaburea, salah satu tempat yang terletak di wilayah kabupaten Nagekeo. Jauh sekali tentunya. Balasan pesan dari Madam pun senada. Ia tidak di Wuring. Ia sedang di kota Maumere.

Saya sudah memutuskan untuk pulang ke studio KAHE dan memindahkan jadwal perjumpaan di lain waktu saat nomor kotak Haji Mona tertancap di layar handphone saya. “Saya Haji Mona. Kita bisa bertemu di warung bakso ikan.” Tentu saja itu awal yang baik. Tanpa membuang-buang waktu, saya berbalik ke selatan, mengikuti arah yang ia tunjuk melalui pesan singkat.

Haji Mona (56) berdiri di depan sebuah warung bakso. Kami bersalaman dan ia mempersilakan saya masuk. Sejurus kemudian, ia mengarahkan saya menuju ke kamar. Mengalami arahan ini, saya mendapati tubuh saya memberi respons yang berbeda. Ini tentu beralasan.

Pertama, ini adalah kesempatan pertama saya mewawancarai seorang waria. Agaknya wajar jika tubuh saya memberi respons menolak dan menjaga jarak. Lingkungan tempat saya tumbuh, produksi wacana dan label tentang waria yang diberikan oleh media yang kerap saya baca, dan beragam pengaruh lainnya seolah mengkonstruksi cara tubuh saya merespons pengalaman ada begitu dekat dengan waria. Secara rasional, saya mungkin bisa menerima perbedaan itu.Namun, agaknya tidak dengan pengalam tubuh saya.

Kedua, mindset yang tumbuh di dalam kepala saya saat kamar tidur diucapkan sebagai lokasi wawancara seolah merujuk pada suatu batasan yang jelas. Kamar bagi saya yang terbiasa dengan kehidupan di luar Wuring (baca: lingkungan darat) adalah sebuah rungan privasi yang penuh dengan peristiwa personal.

Saya membuka ketegangan yang tumbuh di dalam tubuh saya dengan memperkenalkan diri: nama, asal, maksud dan tujuan hingga dari mana saya mendapat nomor kontaknya. Ia mendengarkan semua itu dengan tenang dan berbaik hati menerima maksud kedatangan saya.

Kami saling membuka diri, bercakap-cakap, dan berusaha mengenal satu sama lain. Semua asumsi saya rubuh setelah saya berada di ruangan berukuran 4×4 yang terletak persis di sisi depan warung bakso itu.

Haji Mona adalah salah satu perintis berdirinya kelompok Persatuan Waria Kabupaten Sikka (Perwakas) di Maumere. Ia bahkan pernah menjadi ketua perwakas pada tahun 1998. Organisasi tersebut dibagi seturut wilayah kecamatan, seperti Perwakas Alok Timur dan Alok Barat. Tujuan pembagian tersebut adalah untuk memudahkan komunikasi dan koordinasi di antara para waria.

Di Maumere, waria yang tinggal di Kampung Wuring kerap disapa dengan sebutan “Banci Wuring.” Dari sebutan ini, terlihat ada kategori lain yang bersanding dengan kategori waria. Kategori itu tentu saja Wuring. Entah itu merujuk pada wilayah geografis, etnik, atau bisa apapun. Kategori ini bisa dibaca secara berbeda-beda. Yang jelas, para waria dari Wuring diberi predikat yang mungkin berbeda dari waria-waria lainnya, oleh mayoritas warga Maumere.

Meski mendapat label khusus, di Wuring, sejak awal tahun 2000-an hingga 2005, para waria banyak terlibat dalam kegiatan kesehatan seperti pelayanan di Posyandu.

“Posyandu sekarang diurus oleh ibu-ibu. Kalau dulu, waria. Sebelum ke Posyandu mereka mangkal di pelabuhan untuk bersenang-senang,” jelasnya.

Jauh sebelumnya, pada akhir tahun 1980-an, para waria punya kelompok kasidah dan menyanyi dangdut. Mereka sering diundang ke gereja dan Polres jika ada acara-acara besar, seperti tahbisan imam atau 17 Agustus.

“Sekarang jarang diundang maka kelompok itu tidak ada. Kalau sekarang diundang, kami bisa tampil. Kuliner tidak begitu menonjol di Wuring.”

Meski menganggap kuliner bukan hal yang menonjol, Haji Mona justru hidup dari bisnis itu. Tahun ini adalah ulang tahun kelima warung bakso ikan miliknya. Di warungnya, ia mempekerjakan beberapa anak sekolah. Mereka bekerja dari jam 5 sore sampai jam 10 malam. Sebelum membuka warung bakso, ia bekerja sebagai penata rias pengantin.

Saat ini, masing-masing waria sudah memiliki aktivitasnya sendiri. Ada yang membuka konter pulsa, kios, salon, bahkan menjadi nelayan. Hampir tak ada yang menganggur.

Haji Mona mengisahkan, Persatuan Waria Kabupaten Sikka (Perwakas) bermula dari hadirnya sebuah yayasan bernama “Cinta Kehidupan”. Yayasan itu diketuai oleh Bapak Lamber Depureks. Tahun 1998, Lamber mengumpulkan sekelompok waria dan melakukan aktivitas bersama mereka. Alasannya, ia prihatin menyaksikan para waria yang sering dikucilkan dari tengah masyarakat. Waktu itu, waria yang aktif terlibat berjumlah sekitar 28 orang. Yayasan “Cinta Kehidupan” tidak hanya menangani para waria tetapi juga pekerja seks komersial (PSK). Kedua hal ini saling berhubungan sebab para waria saat itu sering dipandang sebagai kelompok yang rentan dengan perilaku seks bebas.

“Dia menangani bagian HIV dan AIDS juga. Waktu itu kita kegiatan kami memasak, olahraga (voly). Kita selalu memasyarakatkan diri dengan masyarakat. Kita ke desa-desa, kampung-kampung, sehingga meraka tidak tabu dengan waria.”

Setelah yayasan tersebut berjalan setahun, pihak yayasan melihat ada perubahan perilaku dari para waria terhadap masyarakat, juga sebaliknya.

Haji Mona prihatin dengan kondisi Perwakas saat ini. Organisasi ini seperti kurang mendapat perhatian. Hal itu terjadi di kalangan internal. Pembagian kerja dalam struktur organisasi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Haji Mona dan teman-teman lainnya berencana membuat reuni untuk membicarakan struktur organisasi yang lebih baik.

“Sekarang masih aktif tapi olahraga saja,” tambahnya.

Haji Mona lahir pada tahun 1964. Sejak kecil ia merasa dirinya adalah seorang wanita. Orangtuanya sering sekali marah dan mengatakan bahwa ia tidak akan mempunyai istri dan keturunan. Baginya, ia tetap tidak bisa dipaksa.

“Awal-awal keluarga bertanya, kenapa mesti jadi perempuan? Kau kan laki-laki. Tapi saya tidak membantah mereka. Saya bertahan dengan keadaan saya karena saya tidak bisa paksa diri saya. Memang kami laki-laki, tapi kan tidak sama dengan lelaki yang normal.”

Saat pertama kali menyatakan identitas gendernya, ia merasa canggung. Ia kerap mendapat sorotan dan gunjingan saat pergi ke pesta atau acara-acara lain, dengan dandanan lengkap seperti perempuan. Perlahan-lahan, ia bisa menghadapi berbagai gunjingan dan sorotan. Resistensi untuk tetap menyatakan identitasnya ia tunjukan kepada masyarakat.

“Saya bilang, kalau saya memang begini, kenapa saya harus dipaksa?”

Haji Mona menempuh pendidikan di SMP Negeri 1 (Tampil). Ia tamat SMP tahun 1979. Usai SMP, ia melanjutkan pendidikan di SMEA St. Gabriel Maumere. Saat menempuh pendidikan, ia mengaku sering mendapat tekanan dari para guru.

“Saya katakan kalau saya tidak bisa dipaksa. Ini dari diri saya sendiri, dari batin saya. Saya sampaikan ke bapak imam dan orang tua di sini, saya tidak munafik. Seandainya kalau saya punya daya tarik dengan perempuan, kenapa saya siksa diri saya.”

Sejauh ini, Haji Mona sudah tiga kali naik haji.

Sebagai seorang waria, menghilangkan daya tarik seksual terhadap laki-laki adalah sesuatu yang mustahil. Meski demikian, tidak semua lelaki menarik perhatian Haji Mona.

“Yang saya tertarik, saya dekati,” ungkapnya.

Ia mengaku, mereka sering berkumpul di rumah salah seorang waria bernama Madam. Waktu kumpul tidak tentu, sesuai kesepakatan yang mereka pilih. Itu adalah waktu bagi mereka untuk mengekspresikan seksualitas mereka. Mereka kerap berdandan. Juga berbincang-bincang tentang tema-tema khas waria.

Menurut Haji Mona, keamanan dan keramahan lingkungan di Wuring cukup kondusif untuk para Waria. Mayoritas warga dapat menerima dan menyatu dengan Waria, kecuali anak-anak nakal yang sering mengganggu mereka. Juga beberapa tetua agama dan adat yang kerap memandang sirik.

“Di sini aman situasinya. Kalau jalan ke Maumere atau ke Nangahale, teriakan-teriakan itu (cemoohan) sudah berkurang. Kecuali anak-anak mabuk. Kalau dulu awal-awal sangat beda. Kita dulu sering diteriaki. Dulu saya orang paling kepala batu. Saya pakai daster ke kota. Orang teriak telur panjang juga pakai daster. Tetapi saya cuek saja. Itu dari tahun 80-an sampai awal 2000.”

Malam itu, pertemuan kami berlangsung tidak panjang. Sepertinya bukan saya saja yang merasa tidak sepenuhnya nyaman tetapi juga dua orang pelanggan warung (besar kemungkinan teman Haji Mona) yang masuk ke warung itu dan memanggil-manggil nama Haji Mona. Setelah obrolan kami terjeda, saya  keluar dari kamar. Di mata dua pelanggan bakso ikan Haji Mona, saya dapati rasa ingin tahu dan respons tak nyaman. Di antara situasi yang penuh tebakan itu, saya lantas mohon izin dan pamit.

Dari obrolan singkat bersama Haji Mona saya akhirnya tahu bahwa sebagian besar Waria di Wuring berasal dari Bajo. Beberapa yang lain berdarah dari Bima. Madam, salah satunya.

Madam adalah salah seorang waria muda yang cukup terkenal di kalangan orang-orang muda semuran saya di kota Maumere. Penampilan Madam cukup modernis. Ia cantik, modis, dan sungguh merawat kebersihan diri.

Madam mengelola sebuh kios yang terletak persis di jalan masuk menuju pasar Wuring. Kiosnya selalu ramai pengunjung. Sebagian besar para pengunjungnya adalah kaum lelaki. Di halaman kiosnya, banyak mangkal para tukang ojek yang menunggu pelanggan.

Sore hari, saya menghubungi Madam. Kami janjian. Seperti Haji Mona, kami bersepakat bertemu di kamar. Kamar Madam terletak persis di belakang kiosnya.

Meski terbilang cukup muda (25 tahun), Madam merasa pengalaman hidupnya sebagai waria sangatlah panjang. Ia bersyukur. Saat ini zaman telah berkembang dan diskriminasi terhadap para waria tidak begitu terasa lagi.

“Kalau di Jawa mungkin ada sistem persaingan. Misalnya kalau ada banci dari kampung datang ke kota dan menyingkirkan banci kota maka dia akan didiskriminasi. Apalagi di sana cari uangnya tu dengan jual diri. Kalau kau cantik dan bisa menjual kemolekan tubuh dari pada yang lain maka ujung-ujungnya kau diintimidasi.”

Madam mengatakan, ia sering ke Jakarta dan Bali. Di sana ia bertemu banyak sahabat. Ia kerap bertukar pikiran dengan mereka. Karena itu, ia banyak tahu situasi para waria di Jawa, Bali, dan sekitarnya.

“Kita sering diundang ke Yakestra dan KPA. Kita ngobrol.”

Menurutnya, para waria di Wuring saat ini sudah punya banyak aktivitas. Sebelumnya banyak waria aktif pada malam hari. Mereka akan berkumpul pada malam Minggu sekitar pukul 10 dan 11 malam. Di tempat itu, mereka berbagi pengalaman perjumpaan di antara mereka.

“Kita, waria terbuka aplagi masalah-masalah seperti mau mengangkat Wuring. Orang Wuring butuh hiburan. Hiburan di sini jarang sekali. Bagus kalau pentas, live musik, dan kuliner. Tiga itu harus disatukan. Banci-banci di sini istilanya banci-banci kampung. Mereka kurang bersosialisasi dengan banci-banci luar. Mungkin karena mereka banci-banci baru dan baru naik badan sehingga kurang bersosialisai dengan yang di kota. Saya lebih banyak bergaul dengan banci-banci di sana, bukan di sini,” ujar Madam. Yang ia maksud dengan banci-banci di sana adalah para waria yang ada di kota Maumere.

Madam memang terlihat unik. Sepintas, tampilan fisiknya tidak terlihat seperti seorang lelaki. Sejak awal saya memang terkejut dengan penampilannya. Namun, caranya menerima dan ngobrol membuat situasi menjadi lebih cair. Ia mudah diajak diskusi. Ia penuh semangat dan ramah, terutama saat melayani para pelanggan yang bebrbelanja di kiosnya. Beberapa kali saya menyaksikan ia melayani tetamunya itu. Saya berharap suatu waktu dapat bertemu kembali dengannya dan lebih banyak bercakap-cakap.

Bagikan Postingan

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Kalender Postingan

Rabu, Mei 22nd