cover hame

Adakah Sesuatu yang Baik (Datang) dari (Dalam) Mimpi?

Haris Meo Ligo (Hame) adalah seorang sarjana filsafat. Menulis cerpen dan esai yang tersiar di berbagai media. Saat ini tinggal di Mbay, Nagekeo —

 

Cukup familarkah, atau sekurang-kurangnya kenalkah, anda dengan kupon putih? Memang secara yuridis praktik judi masal ini diharamkan bahkan masuk kategori tindakan kriminal, malah. Tengok saja sudah berapa banyak cukong kupon putih yang kini terpaksa mendekam di balik jeruji besi. Namun saya tidak hendak membuat suatu studi kritis kriminologis atas deviasi sosial ini. Ada fenomena yang hemat saya menarik dan seyogyanya bisa memantik suatu kajian lanjutan. Ini perihal tafsir mimpi.

Orang-orang yang keranjingan bermain kupon putih tiba-tiba saja bisa menjadi seorang ‘pemburu’ dan ‘penafsir’ mimpi. Ia akan antusias untuk menggali informasi mimpi-mimpi orang-orang terdekat dan berusaha menafsirnya kira-kira makna mimpi itu merujuk kepada shio yang mana atau angka berapa. (Kita seperti diingatkan pada kisah Yusuf, amak Yakub, yang secara jitu menafsir mimpi Firaun Mesir) Saya tidak hendak menyimpulkan bahwa tafsiran mimpi para ‘penjudi’ itu benar adanya. Tetapi untuk beberapa kasus yang kebetulan saya temui, tafsiran mimpi tersebut tepat sasar. Mungkin ini kebetulan ataukah tidak, tapi yang pasti  hanya cukong kupon putih yang tahu. Juga Tuhan. Sekali lagi, ini bukan suatu generalisasi ataupun sosialisasi ‘Bagaimana cara memenangkan kupon putih melalui tafsiran mimpi’. Di luar itu bukan urusan saya.

Lalu, bagaimana jika karya-karya sastra semisal novel atau cerpen mengangkat kisah-kisah yang bermula dari mimpi dan melalui alur cerita dan sudut pandang penceritaan kita semacam membaca tafsiran mimpi? Alangkah baiknya, anda perlu berkenalan –dan semoga bisa jatuh cinta, dengan Vegetariannya Han Kang. Seperti saya.

Vegetarian: Novel Rasa Psikoanalisa

Pada 2016, dunia terbelalak dengan kemunculan seorang novelis perempuan asal Korea Selatan, Han Kang. Lewat novel Vegetarian –dalam edisi terjemahan bahasa Inggris karya Debora Smith –Kang memenangkan Man Booker International Prize, penghargaan prestisius dalam lanskap sastra dunia, melengserkan para nominator lainnya. Sebut saja, Orhan Pamuk dan Eka Kurniawan. Novel berstempel international bestseller ini, mengikuti testimoni Eka Kurniawan, sebenarnya tidak bicara banyak mengenai vegetarianisme sebagai core issue. Han Kang, hemat saya, secara njelimet –mungkin juga  serius- mengelaborasi isu vegetarianisme dengan persoalan utama yakni kasus gangguan mental.

Yang khas dari Kang ialah bahwa ia bisa menyelam jauh lebih dalam dari itu, seperti karakteristik novel-novel Kafka, sehingga membuat vegetarianisme hanya sebagai isu permukaannya saja. Itulah yang membuat alur cerita vegetarian menawan sekaligus misterius. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwasannya ketika membaca novel ini muncul semacam hasrat yang sulit dibendung antara melahap setiap halamannya dan berusaha setia pada teks ataukah malah membiarkan pikiran bercabang pada proses kreatif arus kesadaran Han Kang. Apa lacur, saya justru terjerembab pada jalan kedua. Dan saya pun dihantui oleh pertanyaan: mungkinkah vegetarian memiliki keterkaitan dengan psikoanalisa Sigmund Freud? Mengapa psikoanalisa?

Sebelum melihat keterkaitan antara keduanya itu, alangkah baik kalau kita terlebih dahulu menyimak garis besar narasi vegetarian Kang. Dari awal, alur cerita vegetarian langsung bermukadimah konflik. Melalui penuturan tokoh Jung, suami Yeong Hye, dikisahkan bagaimana Yeong Hye, tokoh sentral dalam novel ini, berubah 1080 dari seorang istri yang biasa-biasa saja menjadi perempuan dengan perilaku yang tidak biasanya. Subalnya, tidak beres dengan masalah mentalnya. Kurang waras. Simaklah pengakuan Jung,  ‘Ia mengubah gaya makannya hanya karena sebuah mimpi dan bukan karena ingin menurunkan berat badan, menyembuhkan penyakit ataupun kerasukan setan” (hlm 18). Yeong Hye menjelma seorang vegetarian garis keras –tidak makan daging, membuang  semua properti yang terbuat dari atau berhubungan dengan binatang, bertelanjang bulat di rumah, sampai menolak berhubungan badan dengan sang suami- hanya karena bermula dari mimpi. Edan!

Mimpi-mimpi Yeong Hye dalam narasi Kang berserakkan seperti cuplikan thriller film yang samar-samar dan bersembunyi di balik simbol-simbol, bahkan bisa dibilang puitis. “Subuhnya, aku melihat kubangan darah di lantai lumbung dan wajah yang terpantul di sana untuk pertama kali”(hlm. 24) Kang mengeksplorasi mimpi-mimpi Yeong Hye dan menuangkannya dalam fragmen-fragmen yang kontinyu dalam setiap babak. Saya yakin, pembaca akan belingsatan untuk memahami apa kira-kira makna di balik mimpi-mimpi Yeong Hye. Namun dengan mengikuti alur cerita Kang, pembaca setidaknya menangkap ide kausalitas antara fragmen mimpi dan keberlanjutan nasib tokoh Yeong Hye.

Simbolisme yang rumit dalam narasi Kang seakan mengafirmasi tesis Freud dalam karya fenomenal juga kontroversialnya The Interpretation of Dream (1990) bahwasannya mimpi merupakan manifestasi keinginan alam bawah sadar yang direpresi dalam alam sadar. Mimpi, sebagaimana kutipan terkenal dari Freud, adalah jalan bebas hambatan (via regia) menuju pengetahuan alam bawah sadar. Freud sendiri mengkalim bahwa cerita tentang mimpi-mimpi menjadi unsur penting dalam penanganan pasien-pasien yang mengalami gangguan neurosis dengan pendekatan psikoanalisa.  Berangkat dari kegagalannya dalam merawat pasien histeria dengan teknik hipnosis, Freud beralih kepada teknik penafsiran mimpi pasien untuk mengungkap pengalaman traumatis pasien. Begitulah, pintu menuju pemulihan terbuka.

Walau demikian, Freud mengakui bahwa penafsiran mimpi memiliki tingkat kesulitan yang berbeda antara orang dewasa dan anak-anak. Umumnya, tujuan dari mimpi-mimpi yang dialami oleh manusia, demikian Freud, adalah sarana untuk memuaskan hasrat (wish fullfilment) dari dorongan alamiah (id) yang tidak bisa diterima oleh diri rasional (ego) maupun represi norma-norma sosial (superego).  Anak-anak kecil, menurut Freud, selalu bermimpi tentang pemenuhan-pemenuhan keinginan yang timbul dalam diri mereka pada hari sebelumnya, yang tidak terpenuhi. Namun tidak demikian halnya dengan penafsiran mimpi orang dewasa.

Proses pembentukan mimpi merupakan proses yang rumit dan kompleks sehingga mimpi tersebut membingungkan serta menyamarkan makna mimpi dalam simbol-simbol. Freud menyebut proses ini sebagai dream-work atau kerja mimpi dengan beberapa tahap penyamaran makna. (1) Displacement, menggeser emosi dari satu gagasan ke gagasan lain, (2) Condentation, meleburkan banyak gagasan menjadi sebuah simbol (3) symbolization, proses simbolisasi. Penafsiran mimpi, sebagai konsekuensinya, harus melibatkan penguraian atau pembongkaran isi nyata (manifest dream) dari mimpi yang tersembunyi (latent dream) agar kita dapat menemukan arti makna sebenarnya dari mimpi tersebut. Tetapi sekali lagi, Freud mewanti-wanti, proses manifestasi mimpi semestinya melewati tahapan proses psikoanalisis yang ketat dan cermat agar makna mimpi tidak ‘terpelintir’. Meski demikian, teori penafsiran mimpi Freud oleh sebagian besar ilmuwan dianggap metafisis dan tidak bisa dibuktikan secara empiris-laboratoris. Semisal, apakah ada kategori universal dari simbol-simbol mimpi? Atau apakah penafsiran mimpi selalu simetris dengan pengalaman riil?

Membaca vegetarian adalah semacam bertamasya ke horison teori mimpi Freud. Melalui cuplikan mimpi-mimpi Yeong Hye, Kang sesungguhnya sedang menarasikan teori Interpretation of Dreamnya Freud dan kontribusinya dalam penanganan pasien neurosis. Namun, Kang tidak ‘telan bulat-bulat’ dengan konsep mimpi Freudian tersebut. Posisi Kang bisa dibilang ‘oposisi’ dan agak skeptis dengan mimpi dengan segala realitasnya yang kompleks. Ini termaktub dalam kata-kata In Hye, kakak perempuan Yeong Hye, pada akhir novel setebal 221 halaman ini  ‘Ini mungkin mimpi. Di dalam mimpi.. itu seolah segalanya. Tapi kamu tahu ternyata itu bukan segalanya ketika terbangun, kan? Karenanya jika kita terbangun suatu saat, saat itu” Pernyataan In Hye sudah pasti mewakili perspektif Kang dalam memaknai mimpi sekaligus menggugat konsep mimpi Freudian.

Nah, adakah sesuatu yang baik datang (dari) mimpi? Mungkinkah ia hanya semata bunga tidur ataukah malah terapi mumpuni bagi gangguan mental. Entahlah. Tapi bagaimanapun juga, jangan lupa untuk bermimpi basah malam hari ini. Dan satu lagi, stop judi kupon putih!

Bagikan Postingan

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Kalender Postingan

Senin, Juli 15th